,

Lavrov Kecam Tuduhan Austria Soal Mata-mata Rusia

oleh

WINA – Sergey Lavrov mengecam “diplomasi loudspeaker” Barat setelah Austria mengatakan bahwa pihaknya mengungkap bahwa seorang perwira militer pensiunan negara itu telah menjadi “agen Rusia” yang mengumpulkan data tentara negara itu selama bertahun-tahun.

“Saya segera mempelajarinya … dan, terus terang, saya sangat terkejut dengan berita itu,” kata Menteri Luar Negeri Rusia tersebut sebagaimana dikutip RT, Jum’at (09/11). “Bagaimanapun, Wina seharusnya menggunakan cara lain untuk menyampaikan tuduhan spionase,” tambah diplomat tertinggi Rusia itu berpendapat.

Namun, itu adalah strategi yang sudah dikenal Moskow, karena kekuatan Barat semakin cenderung menggunakan “diplomasi loudspeaker” untuk menyalahkan Rusia secara publik atas “masalah yang tidak kami ketahui.”

Rusia sekarang akan memanggil Duta Besar Austria untuk mengatakan kepadanya “metode apa yang harusnya digunakan jika mereka memiliki pertanyaan untuk Rusia,” tambah Lavrov menyimpulkan.

Kasus ini dimulai setelah Wina mengkonfirmasikan bahwa seorang pensiunan kolonel Austria telah dituduh mengumpulkan informasi tentang militer negaranya (Bundesheer) sejak tahun 1990-an. Perwira senior, yang namanya dirahasiakan itu diduga mulai bekerja untuk intelijen Rusia pada 1990-an, dan kerja sama ini berlangsung hingga 2018.

Menyebut dugaan spionase sebagai sesuatu yang “tidak dapat diterima,” Kurz mengatakan bahwa Wina sekarang mencari semua opsi yang tersedia. “Kami akan membahas langkah selanjutnya dengan mitra Eropa kami,” jelasnya tanpa merinci.

Menteri Pertahanan Mario Kunasek mengatakan kepada media bahwa sebuah petunjuk datang dari agen intelijen yang mengklaim bahwa Rusia menyediakan untuk agen tersebut seperangkat peralatan mata-mata, termasuk komunikasi radio terenkripsi.

Menurut Michael Bauer, seorang juru bicara militer, Kolonel itu ditahan tak lama setelah diidentifikasi sebagai “agen Rusia”. Pejabat itu mengatakan agen yang diduga telah mentransfer data intelijen ke Rusia itu berhasil diekspos karena “kerjasama internasional. Menyusul berita tentang dugaan mata-mata itu, Menteri Luar Negeri Karin Kneissl membatalkan rencana kunjungannya ke Rusia.

Meski mengkonfirmasi bahwa pria itu ditahan atas tuduhan spionase, pihak berwenang Austria tidak menjelaskan lebih lanjut bukti yang mendukung klaim itu.

Rusia telah dibombardir dengan tuduhan-tuduhan tumpul karena memiliki pendirian berbeda dalam urusan negara asing selama beberapa waktu terakhir. Pada bulan Oktober lalu, Belanda mengusir empat orang Rusia yang diduga mencoba melakukan penyadapan jaringan Wi-Fi Organisasi untuk Larangan Senjata Kimia (OPCW) pada bulan April.

Moskow membantah tuduhan itu dan menggambarkan mereka sebagai “mata-mata mania.” Moskow juga menyerang balik klaim tersebut, mengatakan bahwa tidak ada bukti kuat telah disajikan, sementara permainan menyalahkan ini hanya bualan. [Sfa]