, , ,

BIN dan KBRI Siap Bantu HRS Soal Kasus Bendera Hitam

oleh
Kasus Bendera Hitam Habib Rizieq di Saudi
Kasus Bendera Hitam Habib Rizieq di Saudi

JAKARTA – Meski sempat dituding sebagai pihak yang berada dibalik penahanan Habib Rizieq Shihab (HRS) di Arab Saudi, namun Badan Intelijen Negara (BIN) menyatakan tak menaruh dendam. Bahkan BIN siap membantu Habib Rizieq menghadapi masalahnya di Saudi, termasuk dalam kasus bendera hitam yang mirip bendera milik teroris yang mengakibatkan Habib Rizieq ditahan selama 28 jam.

“BIN selalu siap membantu HRS, sebagaimana Kedubes RI juga siap membantu jika HRS dalam kesulitan, termasuk memberikan jaminan atas pelepasan HRS,” kata juru bicara Kepala BIN, Wawan Hari Purwanto, dalam keterangan pers tertulisnya, Kamis (08/11/2018).

Baca: Polemik Habib Rizieq di Saudi, BIN Bantah Operasi Intelijen di Mekkah

Setelah ditahan dan diperiksa intelijen Saudi, tepatnya pada Selasa (6/11) pukul 20.00 WIB kemarin, Rizieq telah dikeluarkan dari tahanan kepolisian Mekah. HRS dilepas dengan jaminan, meski belum jelas betul jaminan apa yang dimaksud.

BIN dituding Rizieq berperan merekayasa kondisi sedemikian rupa sehingga HRS diperiksa dan ditahan aparat Saudi. Rizieq ditahan karena ada laporan warga terkait bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid di tembok belakang kediaman HRS di Mekkah. BIN menegaskan tidak terlibat dalam penangkapan Habib Rizieq di Arab Saudi.

“BIN justru menghendaki agar masalah cepat selesai dan tuntas, sehingga tidak berkepanjangan dan berakibat pada berkembangnya masalah baru, apalagi di luar negeri, dimana sistem hukum dan pemerintahannya berbeda”, kata Wawan.

Baca: Kronologi Penangkapan Habib Rizieq di Saudi Versi KBRI

Dijelaskan Wawan, BIN bertugas melindungi semua WNI, termasuk Habib Rizieq. BIN tidak menganggap HRS sebagai musuh. Terkait posisi politiknya yang berseberangan dengan pemerintah, BIN tak masalah dengan hal itu.

“BIN tidak pernah mempermasalahkan aliansi politik HRS. Itu hak seseorang dan sah-sah saja. BIN ingin agar anak bangsa ini tidak terpecah karena beda pandangan. Perbedaan adalah memperkaya khasanah kebangsaan dan bukan alasan untuk terpecah,” tutur Wawan.

Baca: Beredar Kabar Habib Rizieq Ditangkap Polisi Saudi Karena Bawa Bendera HTI

BIN tak mengenal istilah kriminalisasi. “Tidak benar ada dendam politik. BIN adalah lembaga negara yang tetap ada meskipun silih berganti kepemimpinan nasionalnya, dan berkewajiban menjaga agar program pembangunan berjalan lancar demi kesejahteraan rakyat,” kata dia. (SFA)