,

AS Berupaya Cap Houthi Sebagai Organisasi Teroris

oleh

WASHINGTON – Dalam upaya dukungan terbarunya untuk agresi Saudi di Yaman, dan untuk memberikan tekanan lebih kuat pada Iran,  saat ini AS tengah mengupayakan untuk membuat organisasi Houthi dicap sebagai sebuah organisasi teroris.

Individu, yang berbicara kepada Washington Post dengan syarat anonimitas, menggambarkan perundingan internal di dalam Gedung Putih dan mengatakan bahwa pemerintah AS telah mempertimbangkan serangkaian tindakan potensial terhadap Houthi, termasuk tindakan yang lebih kecil untuk menghukum mereka. Namun, belum ada keputusan yang dibuat.

Jika Departemen Luar Negeri AS membuat pernyataan resmi yang mencap Houthi sebagai sebuah organisasi teroris, maka menurut Washington Post hal itu  bisa lebih jauh mengisolasi kelompok yang menguasai ibukota Yaman pada akhir 2014 tersebut.

Para pejabat AS tampaknya berbeda pendapat atas masalah ini karena beberapa orang, khususnya di Departemen Luar Negeri, percaya bahwa tindakan itu akan menjadi kontraproduktif dan menghambat upaya para perunding PBB untuk mengadakan diskusi perdamaian di luar negeri. Diperkirakan bahwa tudingan teroris kepada Houthi akan dilihat sebagai eskalasi besar tekanan AS terhadap kelompok pejuang rakyat tersebut.

Tudingan ini nantinya akan cenderung mengarah pada pembekuan aset keuangan dari gerakan Houthi, yang mengontrol lembaga-lembaga pemerintah di daerah-daerah yang didudukinya. Larangan perjalanan dan hukuman lainnya juga akan dikenakan terhadap mereka yang dianggap memberikan “dukungan material” kepada kelompok tersebut.

Analis yang dikutip oleh Post mengatakan bahwa langkah seperti itu terhadap Houthi sebagian besar bersifat simbolis. Hal ini dikarenakan mereka tidak menggunakan sistem keuangan internasional, dan beberapa tokoh Houthi tidak akan terpengaruh oleh larangan bepergian ke Amerika Serikat.

Tidak jelas bagaimana seruan  AS baru-baru ini untuk penghentian permusuhan di Yaman dan untuk memulai negosiasi pada akhir bulan ini akan terbantu  oleh tudingan tersebut. Upaya terakhir untuk menyatukan semua pihak gagal ketika Houthi menolak melakukan perjalanan ke Eropa untuk sebuah pertemuan yang direncanakan karena ulah Saudi. [Sfa]