,

Aksi Ugal-ugalan Prabowo-Sandi demi Kekuasaan

oleh

JAKARTA – Beberapa bulan saja hiruk pikuk kampanye Pilpres 2019 dilangsungkan kita sudah kenyang mendengar sederet ucapan asal njeplak, nirfakta serta tuduhan kejam tanpa bukti oleh pasangan Prabowo-Sandi yang mengarah ke pemerintahan Jokowi.

Prabowo acapkali mengaku dimusuhi dan dihambat karir politiknya oleh pejabat di pemerintah pusat. Tak cukup di situ, mantan suami Titik Soeharto ini pernah menuduh ada mark up di dana pembangunan LRT Palembang pada awal tahun ini yang habis sebesar 40 juta dollar per kilometer. Menurut Prabowo index biaya yang dihabiskan standarnya adalah 8 juta dollar per kilometer Pernyataan Prabowo memicu reaksi banyak pihak dan langsung terbantahkan oleh Menteri Perhubungan Budi Karya yang mengatakan bahwa biaya pembangunan LRT kita masih lebih murah dari LRT di Filipina dan Malaysia. Di Malaysia LRTnya menghabiskan dana 63 juta dollar per kilometernya. Hingga tuduhannya terpatahkan, tak satu kalimatpun permintaan maaf ia ucapkan kepada pemerintah.

Satu kebohongan terbesar Prabowo, prediksi layaknya ahli ramalan, menurutnya Indonesia akan bubar pada tahun 2030. Ini dilontarkannya tanpa beban oleh seorang calon kepala negara yang semestinya membakar semangat rakyat untuk maju. Jelas teori asal bunyi ini dipatahkan oleh prestasi Indonesia di berbagai bidang seperti olahraga dengan kesuksesan penyelenggaraan Asian Games dan Asian Paragames serta perolehan medali yang memecahkan rekor perolehan medali atlet Indonesia di dua perhelatan ini, iklim investasi di Indonesia semakin baik, produk domestik bruto (PDB) meningkat signifikan dari 2400 triliun pada Maret 2006 menjadi 3600 triliun pada Maret 2018. Di level sosial jumlah rakyat miskin menurut data BPS dari 11,22 persen pada 2015 menjadi 10,64 persen pada Maret 2017. Angka pengangguran pun turun dari 5,81 persen pada Februari 2015 jadi 5,33 persen pada Februari 2017. Deretan data menunjukkan grafik naik yang membantah teori Prabowo yang belakangam diketahui hanya berdasar pada isi sebuah novel fiksi.

Kebohongan Prabowo bukan lagu kebohongan pada level yang wajar karena dilakukannya secara sporadis. Bahkan selevel mantan panglima Kostrad ini pernah meneruskan sebuah kabar hoaks yang merupakan ulah tim kampanyenya sendiri, Ratna Sarumpaet tanpa berbekal test medis dan laporan ke kepolisian, Prabowo menyambar begitu saja pengakuan Ratna Sarumpaet yang katanya diculik dan dianiaya lalu menjadikan momen ini ajang meraih simpati dan dukungan. Jumpa pers yang akhirnya gagal memalingkan wajah swing voter ke muka Prabowo setelah semua kebohongan Ratna Sarumpaet terungkap.

Kalau Prabowo punya jam terbang berbohong pada level nasional, lain hal tapi serupa dengan Sandi. Sejak kampanye pilkada DKI Jakarta 2017 lalu banyak janji Sandi ucapkan tetapi menguap begitu saja tanpa ada upaya merealisasikannya. Aksi lucu gaya orang kaya tapi merakyat pun dipergelarkan Sandi saat blusukan kampanye ke banyak pasar di Indonesia. Salah satunya adalah ucapan tempe saat ini setipis atm akibat biaya produksi yang melonjak dan ungkapan bahwa uang seratus ribu rupiah hanya mampu untuk dibelikan tempe dana cabai. Pernyataan Sandiaga ini bahkan ditanggapi viral oleh netizen yang beramai-ramai mematahkan ucapan pengusaha muda dengan aset lebih dari 5 trilyun ini. Buat saya, mereka lebih pantas menjadi pemain dagelan dengan segala tingkah blundernya.

Menurut teori hirarki kebutuhan oleh Maslow, dalam kehidupan sosial, manusia membutuhan pengakuan dari setiap orang untuk mengaktualisasikan diri. Seorang Donald Trump beberapa kali melakukan kebohongan saat kampanye pilpres Amerika Serikat dimana dirinya bersaing dengan Hillary Clinton. Kebohongan demi kebohongan ucapan seorang Trump sempat membuat rakyat pemilih di Amerika gamang. Kebohongan demi kebohongan itu bukan menggerus suara Trump tetapi justru mengangkat Trump pada level popularitas yang lebih tinggi. Pengakuan akan eksistensi seorang Donald Trump lebih tinggi dari pentingnya menguji kebenaran.

Politik memang identik dengan perebutan kekuasaan, saling menjatuhkan dan menyerang lawan. Politik kebohongan menjadi strategi yang salah tapi dibutuhkan. Bagaimanapun seorang politisi harus mampu mengambil hati konstituennya. Tapi, politik kebohongan ini bisa berdampak pada apatisme rakyat terhadap politik. Rakyat tak ambil pusing untuk sibuk mengejar klarifikasi sebuah informasi. Kondisi ini diperkeruh oleh pihak lain yang memanfaatkan situasi dan membawa nilai tertentu seperti dogma agama. Rakyat bisa jadi tak lagi tahu mana yang benar dan mana yang salah asalkan secara agama mereka (terlihat) benar.

Prabowo dan Sandiaga memainkan politik kebohongan ini untuk menyamarkan mana kabar hoaks dan mana kabar fakta. Seperti halnya tuduhan bahwa Jokowi adalah anggota PKI yang masih digaungkan kubunya hingga hari ini, Prabowo mengaburkan fakta dan membuat semua itu seolah-olah benar.

Yang perlu dilakukan seorang Jokowi menyikapi kebohongan yang sering dilontarkan Prabowo Sandi bahkan menuding ke arahnya adalah sikap tenang dan konsisten dalam setiap keputusan. Tak Cuma itu, Jokowi harus memainkan dengan pola bertahan, tak perlu menggubris atau mengklarifilaai setiaap tudingan.

Pertanyaannya, sampai kapankah produksi kebohongan Prabowo Sandi? Apakah jika terpilih pola komunikasi serampangan ini masih jadi andalan? Mari kita takar dengan naluri kita masing-masing demi memilih calon pemimpin terbaik. [Sfa]

Sumber: Kompasiana.