,

Ceramah Jorok Habib Bahar, Kenapa Digoreng Fadli Zon dan PKS?

oleh

JAKARTA – Sering manggung dengan cacian dan kalimat jorok tapi dibiarkan. Karena dibiarkan, merasa kuat dan ditakuti. Karena merasa ditakuti, makin menjadi-jadi. Lain kali bila muncul lagi yang saperti ini jangan dibiarkan lama-lama kentut dari mulut di tengah publik dengan kedok agama.

Ya itulah Bahar Semit yang viral karena ceramah joroknya. Diduga menghina kepala negara, yaitu Presiden Jokowi. Tindakannya tersebut kemudian berujung pada pelaporan kepada kepolisian.

Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat kesayangan rakyat Indonesia, Lord Fadli Zon, mengatakan bahwa pelaporan Bahar menunjukkan pemerintah tengah mengalami islamofobia. Ia menduga, pelaporan ini mengarah pada ketidakadilan.

Pemerintahan Presiden Jokowi islamofobia katanya ??? Jangan-jangan pihak Anda lah yang Jokowifobia.

Anda dan pihak anda dihinggapi ketakutan tingkat tinggi kepada sosok Pak Jokowi. Takut kalah (lagi) !. Takut semua apa yang dituduhkan kepada Pak Jokowi tidak terbukti !. Dan, akhirnya tuduhan yang tidak terbukti kedok Anda dan pihak anda sebagai pembohong terbongkar !

Sedangkan untuk masalah ketidakadilan ? Justru dengan adanya pelaporan ini, pihak siapa yang telah berbuat tidak adil kepada pihak siapa akan terbuka dan terang benderang. Masalahnya, tinggal Anda mau menerima kebenaran atau tidak ? Itu saja !

Zon juga meminta masalah Bahar tidak mengarah ke upaya kriminalisasi. Lagu lama Pak Zon !

Habib Rizieq saja dihentikan kasusnya. Jadi, kalau memang tidak ada kejadian pelanggaran, tidak cukup bukti, pasti tidak akan diproses hukum. Masalahnya, apa yang dilakukan Bahar sangatlah “telanjang” dan terang jelas.

Sementara, rekan Pak Zon yang sedang tidak mesra karena rebutan kursi DKI – 2, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) juga menanggapi laporan terhadap Habib Bahar. Dengan kebijaksanaan tingkat tinggi, PKS menyarankan untuk menyelesaikan masalah tersebut secara kekeluargaan.

“Jika masih masih mungkin untuk menyelesaikan masalah ini digunakan dialog kekeluargaan,” kata Direktur Pencapresan PKS Suhud Alynudin.

Adem ya apa yang disampaikan pekaes ini ? Iya, tapi disinilah terlihat betapa PKS sangat menyepelekan masalah ini. Penghinaan kepada kepala negara dianggap masalah tidak serius, sehingga hanya perlu diselesaikan secara kekeluargaan. Padahal, video ceramah Bahar tersebut sudah tersebar luas ke seluruh dunia. Betapa, Presiden Jokowi dipermalukan.

Selain itu, kejadian tersebut juga menimbulkan kegaduhan dan memalukan. Memalukan karena seorang warga negara mempermalukan pemimpinnya sedemikian rupa. Memalukan karena seorang penceramah yang seharusnya dengan ramah membuat pendengarnya menjadi ramah, namun yang dilakukan justru mempertontonkan kemarahan yang membuat pendengarnya menjadi marah pula. Juga, memalukan karena hal itu dilakukan oleh “ulama” dengan sasaran yang diketahui juga Islam.

Semuanya itu terjadi hanya karena kurang kontrol terhadap tiga gumpal daging, bibir atas, lidah, dan bibir bawah. Otak ? O ya, otak juga, itupun kalau dipakai.

Sikap PKS juga bentuk pengakuan bahwa Bahar telah melakukan tindakan yang salah. Kalau tidak ada kesalahan berarti tidak ada penyelesaian. Sayangnya, solusi yang ditawarkan PKS terlalu menyepelekan.

Apa yang dilakukan Fadli dan PKS tentu tidaklah mengherankan. Setelah Habib Rizieq nggak pulang-pulang, Bahar lah yang diharapkan menjadi penggerak dukungan bagi koalisi mereka. Bahar dan pengikutnya berikut fentungan-nya diharapkan berperan untuk kemenangan Prabowo-Sandi.

Ini dikarenakan, GNPF ulama yang terkesan tidak all out membela Prabowo. Apalagi setelah apa yang dinyatakan Prabowo soal pemindahan kedubes Australia yang terkesan tidak memihak bangsa Palestina. Atau juga memang karena GNPF tidak bertaring.

Fadli dan PKS cenderung ingin menyederhanakan persoalan. Malah kedua pihak juga terlalu menyudutkan pemerintahan Presiden Jokowi dengan menyebut adanya kemungkinan kriminalisasi.

Justru dengan cara mereka menanggapi kasus ini, keduanya menyangka seakan hukum bisa dipermainkan. Iya, karena mereka menginginkan sebuah kasus yang nyata dan terang benderang untuk tidak perlu menjadi perhatian serius dan dibawa ke pihak kepolisian. Sementara pihak lainnya menginginkan semuanya diselesaikan secara kekeluargaan.

Masalahnya, apakah Bahar akan mengakui kesalahannya atau tidak ? Sungguh-sungguh atau tidak ? Dan mungkinkan orang “sesuci” Habib Bahar bin Smith mau meminta maaf atas semua kesalahannya kepada Pak Jokowi, Bu Mega, Pak Tito, serta pihak-pihak lainnya.

Kalau semua itu sanggup dilakukan Bahar, kemungkinan penyelesaian lewat jalur kekeluargaan bisa dicapai. Walaupun itu kecil kemungkinannya, karena sepertinya ada skenario yang lebih menarik yaitu, “terbukti Jokowi mengkriminalisasi ulama”.

Akhirnya, pembelaan yang dilakukan Fadli Zon dan PKS hanyalah membuktikan, apa saja akan dilakukan sebagai pembelaan sepanjang berada di pihaknya. Kebenaran dan keadilan hanya akan ditukar dengan bentuk dukung-mendukung. Tidak lebih tidak kurang, dan ngawur-pun akan dijalani sealami mungkin.

Buya Syafii Angkat Bicara

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Buya Syafii Maarif angkat bicara tentang ceramah Habib Bahar bin Smith yang dianggap menghina Presiden Jokowi. Menurut Buya Syafii, seorang penceramah semestinya punya etika dan menggunakan kata-kata yang sopan saat berceramah.

“Bagi saya seorang penceramah harus punya etika. Apalagi ini menyangkut tentang kepala negara. Kita boleh tidak suka pada siapapun, baik itu kepala negara atau presiden tapi pakailah kata-kata yang sopan,” ujar Buya Syafii saat ditemui di Masjid Nogotirto, Jumat (30/11).

Buya Syafii menuturkan ceramah yang berisi ujaran kebencian dan menggunakan kalimat tak sopan tidak sesuai dengan ajaran Islam. Buya menyebut dalam Islam sangatlah mengajarkan kesopanan dan kesantunan dalam berceramah.

“Islam itu sangat mengajarkan kesopanan dan kesantunan. Kalau ini dilanggar, tak ada lagi gunanya agama,” tegas Buya Syafii.

Buya Syafii sepakat jika ada yang melaporkan Habib Bahar bin Smith. Sebab isi ceramah Habib Bahar bin Smith dianggap Buya Syafii memang tidak pantas disampaikan.

“Kalau ada yang melaporkan secara hukum, menurut saya sesuatu yang baik. Sangat pantas. Kotor begitu. Masak buka celana dilihat apakah banci atau bukan. Benci boleh, enggak suka dengan orang boleh tapi agama jangan dipakai untuk tujuan-tujuan yang jorok,” tutup Buya Syafii. [Sfa]

Sumber: Seword dan Detik.