, ,

Busyro kepada Amien Rais: Jangan Menggurui di Muhammadiyah

oleh

JAKARTA – Ketua Bidang Hukum dan Hak Asasi Manusia Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Busyro Muqoddas menilai ancaman politikus senior Partai Amanat Nasional Amien Rais yang hendak menjewer Ketua Umum PP Muhammadiyah jika tak bersikap dalam pemilihan presiden 2019 adalah sikap senior kepada yuniornya. “(Pernyataan menjewer) itu bahasa Pak Amien sebagai senior kepada Pak Haedar sebagai yuniornya, bisa dipahami seperti itu,” ujar Busyro di sela Muktamar Pemuda Muhammadiyah di Yogyakarta, Selasa 27 November 2018.

Amien Rais adalah ketua umum PP Muhammadiyah jauh sebelum Haedar memimpin. Amien Rais terpilih lewat Muktamar ke43 dan memimpin Muhammadiyah dalam periode cukup singkat dari 1995-1998 sebelum digantikan Ahmad Syafii Maarif (1998-2005), Din Sjamsuddin (2005-2015) hingga beralih ke Haedar Nashir (2015-2020).

Busyro mengatakan sikap Haedar merespon Amien Rais dengan menegaskan jika Muhammadiyah tak akan terlibat politik praktis merupakan sikap resmi yang disampaikan juga dalam berbagai pertemuan yang digelar Muhammadiyah. “Jadi sikap Pak Haedar (yang menolak politik praktis) bukan sikap pribadi, itu sikap resmi dalam rapat-rapat pimpinan.”

Busyro menuturkan Muhammadiyah sejak awal selalu menegaskan diri menjadi organisasi kemasyarakatan (ormas) yang mengusung kepribadian independen. Sehingga siapapun presiden yang terpilih, ujar Busyro, akan didukung dan dikontrol oleh Muhammadiyah.

Di tingkat pimpinan, kata Busyro, Muhammadiyah sadar benar jika warganya sudah matang dalam berpolitik. Oleh sebab itu, Muhammadiyah pun tak akan pernah mengeluarkan sikap resmi kepada warganya untuk mendukung salah satu calon presiden. “Muhammadiyah tak mau menegaskan pilih ini atau itu, itu namanya menggurui.”

Dengan tingkat kedewasaan politik warganya, ujar Busyro, PP Muhammadiyah tak mungkin menerapkan sistem taklid, membabi buta menginstruksikan kepada pengurus wilayah memilih calon presiden tertentu. “Muhammadiyah tetap jauh dari politik praktis.” Tapi, Muhammadiyah aktif memberikan pemahaman cara memilih pemimpin secara benar seperti agar menghindari politik uang.

Busyro menuturkan Muhammadiyah secara tegas menginstruksikan kadernya menjauhi calon pemimpin yang menggunakan praktek politik uang karena itu penghinaan pada demokrasi dan spirit Muhammadiyah sendiri. “Muhammadiyah percaya, pemimpin yang menang atas dasar percukongan tidak akan bisa diandalkan memberantas korupsi.” [Sfa/Tempo]