,

Dahnil Anzar Coreng Nama Baik Muhammadiyah

oleh

JAKARTA – Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak dinilai telah mencoreng wajah Muhammadiyah. Dahnil diminta bertanggung jawab atas dugaan penyimpangan dana Kemah dan Apel Pemuda Islam Indonesia 2017.

“Ini pertama kali. Dan menurut saya dia telah mencoreng Muhammadiyah dalam konteks ini. Ya, harus segera ia selesaikan dan bertanggung jawab,” kata aktivis Muhammadiyah Ahmad Rofiq seperti dilansir Antara, Senin, 26 November 2018.

Rofiq mengatakan organisasi di bawah Muhammadiyah selama ini tidak pernah terlibat kasus korupsi dan perkara pidana lain. Di Muhammadiyah, lanjut sekretaris jenderal Perindo ini, korupsi adalah tabu dan aib yang sangat besar.

Meski belum terbukti, pengembalian uang kegiatan Kemah Pemuda Islam Rp2 miliar ke Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) sudah merupakan indikasi. “Dia mengeluarkan uang. Kalau dia tidak mengembalikan uang, pasti menimbulkan multitafsir. Apakah ini kriminalisasi, apakah ini korupsi? Tetapi ketika dia mengembalikan uang, berarti ada yang salah,” jelas Rofiq.

Rofiq juga menyarankan PP Pemuda Muhammadiyah tidak meloloskan Ahmad Fanani sebagai kandidat ketua umum PP Pemuda Muhammadiyah masa bakti 2018-2022. Fanani adalah ketua panitia Kemah Pemuda Islam.

Mantan ketua umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) ini meminta Fanani menyelesaikan kasusnya. Menurut dia, panitia pemilihan harus tegas dalam hal ini.

Sebelumnya, Dahnil membantah pemberitaan yang menyebut dirinya mengembalikan uang ke Kemenpora. Bantahan disampaikan lewat akun Twitter miliknya.

“Itu tidak benar karena saya tidak terkait. Yang benar adalah panitia mengembalikan dana Rp2 miliar ke Kemenpora,” cuit Dahnil, Jumat 24 November 2018.

Bantahan Dahnil ini dipicu pernyataan Kepala Sub Direktorat Tindak Pidana Korupsi Polda Metro Jaya AKBP Bhakti Suhendarwan. “Saat diperiksa, Dahnil (menyatakan) mengembalikan Rp2 miliar ke Kemenpora,” kata Bhakti.

Polisi juga menemukan adanya data fiktif dalam laporan pertanggungjawaban kegiatan Kemah dan Apel Pemuda Islam Indonesia. “Dari hasil pemeriksaan awal memang diduga ada anggaran dana sekitar Rp2 miliar yang tidak dihabiskan penuh, yang diduga kurang dari separuh. Ada data fiktif dalam penggunaannya,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono. [Sfa]