,

Mencegah Radikalisasi di Lingkungan Keluarga

oleh

JAKARTA – KITA tentu ingat serangan teror Surabaya Mei 2018 lalu. Aksi teror tersebut memberikan warning bagi keluarga di Indonesia betapa pentingnya membina keluarga harmonis.

Keluarga, dalam struktur sosial sebuah bangsa adalah unit dari sistem sosial, keluarga dalam level mikro menjadi kekuatan pembangunan. Kohesi sosial menjadi sangat erat, jika didukung oleh keluarga yang tertata baik dari aspek ekonomi, sosial dan kebudayaan.

Temuan Pusat Riset Ilmu Kepolisian dan Kajian Terorisme Sekolah Kajian Stratejik dan Global UI terhadap 160 pelaku terorisme di Indonesia menyebut bahwa salah satu penyebab keterlibatan pelaku terorisme adalah masalah keluarga. Temuan PRIK-KT agaknya menjadi menarik apabila merujuk fakta historis bahwa ketika pemberontakan Darul Islam, RM Kartosuwiryo mengajak istri bergerilya dan bahkan melahirkan anak di hutan.

Dalam keluarga di Indonesia, sistem yang dianut adalah Nuclear Family, di mana keluarga inti memiliki peran dominan. Apabila melihat fungsi ayah, setidaknya terdapat delapan, antara lain: penyedia kebutuhan keuangan; teman bermain; pemberi rasa nyaman dan kehangatan; teacher dan role model; pengawas anak; pengontrol dan pengorganisir keluarga; penjamin kesejahteraan dan pendukung keberhasilan keluarga (Trini Handayani, 2016).

Merunut peristiwa Teror Surabaya, peran ayah seperti Dita Oepriarto memiliki peran sentral dalam radikalisasi keluarga. Peranan ayah sebagai teacher dan role model sangat terlihat jelas, di mana ayah mampu mengarahkan istri dan anaknya untuk terlibat dalam aksi teror.

Lalu bagaimana dengan ibu? Dalam budaya Indonesia yang cenderung patriarki, peran utama ibu dititikberatkan pada pengasuhan anak, meliputi aktivitas pemenuhan kebutuhan dasar, perawatan, pemberian kasih sayang hingga pengawasan kesehatan dan kondisi anak.

Kerap kali disebutkan ibu adalah sekolah pertama bagi anaknya. Sayangnya, dalam kasus Dita, sang istri Puji Kuswati tidak banyak menolak untuk mengikutsertakan anaknya, lebih memilih ikut serta dalam aksi teror suami.

Radikalisasi juga dapat terjadi karena relasi kakak dan adik, sebut saja misalnya, keterlibatan Ali Imron dalam kelompok Jama’ah Islamiyah (JI) sangat berkaitan dengan pengaruh dari sang kakak, yakni Ali Ghufron alias Mukhlas.

Di keluarga, Mukhlas dikenal sebagai pribadi yang sangat baik perangainya, sangat cerdas, dan merupakan anak yang selalu diunggulkan dalam berbagai hal (Ali Imron, 2018). Sebagai sosok yang diidolakan oleh adik-adiknya cukup mudah bagi Mukhlas untuk mempengaruhi adiknya karena ia sangat dekat (secara emosional) dengan Ali Imron yang notabene adalah adik kesayangannya.

Tidak aneh pula jika akhirnya sang adik mengikuti jejak sang kakak untuk mondok di Ngruki, ikut menentang Pancasila dan UUD 1945, berjihad di Afghanistan, hingga membantu peledakan bom di kawasan Bali pada 2002.
ADVERTISEMENT

Selain Dita Oepriarto, Puji Kuswati, Ali Imron dan Mukhlas, juga terdapat kisah salah seorang deportan ISIS bernama Nur yang berhasil merekrut seluruh anggota keluarga yang berjumlah lebih dari 20 orang untuk pergi ke Suriah bergabung dengan ISIS. Nur pergi bersama keluarga setelah mempelajari cara dan strategi pergi melalui media sosial, sayangnya dari jumlah anggota keluarganya yang begitu banyak tersebut tidak satupun anggota keluarga yang kritis, bahkan dengan mudah mengikuti kemauan Nur.

Kasus pengabaian keluarga inti terhadap anak juga terjadi pada Iki dan Yusuf, Iki terlibat dalam kasus Bom Buku, kedua orang tua Iki abai memberikan pola asuh kepada anaknya yang jarang sekali pulang ke rumah. Sedangkan Yusuf terlibat kasus kepemilikan amunisi dan mantan alumni Filipina, memiliki orang tua yang tidak terlalu kritis saat anaknya memiliki buku bacaan berkategori radikal.

Lalu bagaimana langkah preventif radikalisasi keluarga, menumbuhkan pikiran kritis dan sikap toleran keluarga perlu dikembangkan dengan cara berfikir yang komplek dan integratif yang juga dikenal dengan istilah integrative complexity. Integrative complexity berkaitan erat dengan bagaimana manusia memproses suatu informasi.

Integrative complexity merupakan ukuran dari gaya intelektual yang digunakan oleh individu ataupun kelompok dalam dalam memproses informasi, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan (Driver dan Streufert, 1969).

Adapun ukuran dari integrative complexity memiliki dua komponen utama, yakni diferensiasi dan integrasi. Diferensiasi mengacu pada adanya kapasitas dan adanya keinginan untuk menerima bahwa terdapat lebih dari satu cara/sudut pandang untuk melihat satu hal, serta adanya kesadaran bahwa perbedaan perspektif yang ada sangatlah wajar. Sementara komponen integrasi mengacu pada adanya kemampuan untuk membentuk hubungan konseptual diantara perspektif serta mengintegrasikannya menjadi penilaian yang koheren dan menyeluruh (Driver dan Streufert, 1969).

Dalam konteks radikalisme dan terorisme, orang-orang yang telah terpapar seringkali tidak memiliki kemampuan untuk melakukan diferensiasi dan integrasi. Pada umumnya, mereka hanya melihat dunia dalam konteks hitam dan putih atau baik dan buruk, dimana mereka hanya akan berdiri di satu ujung spektrum (radikal) dan menganggap orang-orang yang berada di spektrum lain (moderat dan liberal) adalah orang-orang yang bersalah. Dari sini kemudian muncul sikap mengkafirkan orang lain yang tidak sepaham dengan dirinya, sekalipun dalam satu agama yang sama.

Sebagai solusi, cara berpikir yang kompleks dan integratif harus dibiasakan oleh seluruh individu, juga diajarkan oleh orang tua kepada anaknya, ataupun disebarkan kepada anggota keluarga lainnya. Setiap anggota keluarga harus memiliki kapasitas untuk melihat suatu hal dari berbagai sudut pandang dan menyadari perbedaan yang ada merupakan sebuah keniscayaan.

Setıap anggota keluarga, harus memiliki rasa tanggung jawab terhadap keluarganya, ketika salah satu anggota keluarga terındıkası memılıkı pemahaman radıkal, maka saat itu juga perlu dılakukan tındakan preventifnya.

Sebagai contoh, anak-anak harus diajarkan untuk melihat suatu kasus dari berbagai perspektif, ditunjukkan sisi positif dan negatifnya, diarahkan untuk mempertimbangkan pendapat dari berbagai sumber, dibiasakan untuk tidak terpaku pada satu pemikiran serta melakukan cross-check mengenai informasi yang didapat. Anak juga harus diajarkan cara menemukan solusi dengan cara-cara alternatif. Dari sini, anak akan memiliki kemampuan berfikir yang kompleks dan integratif.
ADVERTISEMENT

Secara lebih jauh, integrative complexity juga dapat membantu seseorang untuk membangun empati dan toleransi terhadap orang yang berbeda dengan dirinya. Pengembalian peran dan fungsi dari keluarga inti dan keluarga besar, disertai dengan penerapan konsep integrative complexity dapat menjadi daya tangkal sekaligus membangun ketahanan keluarga dari radikalisme.

*Artikel ini adalah salah satu hasil riset pengabdian masyarakat yang didukung oleh Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia. [Sfa/Sindo]