,

JK Sarankan Pemuda Muhammadiyah Tidak Ikuti Jejak Dahnil Anzar

oleh

JAKARTA – Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menyebut kader Pemuda Muhammadiyah tak perlu mengikuti langkah Ketua Umum-nya, Dahnil Anzhar Simanjuntak, yang memilih masuk ke kubu pasangan calon presiden-wakil presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Pilpres 2019.

Pasalnya, kata dia, seruan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, yang notabene lebih tinggi kedudukannya dalam struktur organisasi, adalah memberikan kebebasan untuk memilih yang dianggap terbaik.

“Walau saudara Dahnil di pihak [pasangan] nomor 02, tapi tidak berarti… tidak berarti Pemuda Muhammadiyah harus semua ikut ke kebijakan politik itu,” ujar JK, saat membuka Muktamar Pemuda Muhammadiyah ke XVII, di DI Yogyakarta, Senin (26/11), dikutip dari siaran TV Muhammadiyah.

Diketahui, Dahnil saat ini menjabat sebagai Koordinator Juru Bicara pasangan Prabowo-Sandiaga di Pilpres 2019.

Terdengar suara sorakan sekaligus tepuk tangan riuh di saat yang sama dari peserta yang hadir di Sportarium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) ketika mendengar ucapan JK itu.

“Lebih tinggi [kedudukannya] Ketua Umum PP Muhammadiyah [yang] memberikan kesempatan rakyatnya untuk memilih apa yang terbaik. Walaupun duduk sama-sama di depan, Ketua Umum Muhammadiyah dan [Ketum PP] Pemuda Muhammadiyah, dalam politik kadang berbeda,” JK melanjutkan.

Dahnil, yang duduk di deretan kursi terdepan bersama Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X dan isterinya Gusti Kanjeng Ratu Hemas, Ketua MPR Zulkifli Hasan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, dan Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, pun tertawa sambil mengangguk-angguk dan bertepuk tangan mendengar pernyataan JK itu.

Sebelumnya, Haedar Nashir memberikan kebebasan kepada kader Muhammadiyah dalam menentukan pilihannya di Pemilu 2019.

JK pun mendorong para pemuda untuk memutuskan pilihan bagi sosok yang terbaik yang dianggap bisa memajukan negara. Namun demikian, dia meminta semua pihak tetap bersatu meski ada perbedaan pandangan politik.

“Itulah demokrasi yang baik di negara ini, itulah pilihan yang terbaik. Demokrasi bukan angka-angka saja, tapi bagaimana memajukan bangsa, dan siapa yang paling bisa memajukan bangsa itu yang menjadi hak politik masyarakat, itu hak asasi kita untuk yang terbaik untuk kemajuan bangsa,” kata JK.

“Kita boleh berbeda di TPS, tapi kita bersamaan memajukan bangsa ini. Itu hanya masalah 10 menit. Jangan masalah 10 menit itu membuat kita terpecah belah, kita tetap bersatu utk memajukan bangsa ini,” JK menambahkan.

Pada kesempatan yang sama, Dahnil Anzar menyinggung soal semangat ta’awun atau saling tolong menolong khas Muhammadiyah.

“Di bagian akhir ini yang mungkin juga adalah pidato pamitan saya sebagai Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, dan kader Pemuda Muhammadiyah, terimakasih sangat kepada seluruh kader Pemuda Muhammadiyah, perkenankan saya untuk mengingatkan semangat ta’awun Pemuda Muhammadiyah,” kata Dahnil. [Sfa]