,

Keputusan Busuk Amerika di Yaman

oleh
Sam Kiley
Sam Kiley

WASHINGTON – Keputusan Amerika Serikat untuk mengakhiri dukungan pengisian bahan bakar udara ke Arab Saudi dalam agresi ke Yaman, sama sekali tidak ada artinya secara militer. Ini adalah pemberian sinyal kebaikan yang tak berharga oleh administrasi Trump.

Ini adalah peluang untuk sedikit mengurangi akibat dari dugaan pembunuhan Jamal Khashoggi sambil memastikan bahwa lintasan strategis Kerajaan tetap berada di jalurnya,” bunyi sebuah artikel di Yemen Extra, Senin (12/11).

Ini adalah cara untuk memperlihatkan bahwa diluar, AS tampak kesal dengan Saudi dan terbukti bahwa  segera setelah AS menyerukan gencatan senjata dalam perang Yaman, koalisi pimpinan Saudi justru  melancarkan serangan udara dan darat secara bertubi-tubi di pelabuhan Hodeida, yang dikuasai oleh Houthi.

Dan itu adalah cara untuk mengalihkan perhatian dari fakta bahwa Prancis dan Inggris, sama seperti AS, terus memberi dukungan militer yang jauh lebih penting bagi pihak Saudi dalam perang ini.

Penghentian pengisian bahan bakar udara oleh tanker udara AS untuk jet Saudi diatas sana, sama  seperti memberi sebuah “surat tertulis” saja.

Upaya Arab Saudi dalam perang, yang menurut PBB dapat menyebabkan 14 juta orang menghadapi kelaparan, itu tidak akan terpengaruh oleh sikap AS. Saudi bahkan mengklaim mengakhiri pengisian bahan bakar adalah ide mereka.

“Baru-baru ini Kerajaan dan Koalisi telah meningkatkan kemampuannya untuk secara mandiri melakukan pengisian bahan bakar dalam pesawat di Yaman. Akibatnya, dalam konsultasi dengan Amerika Serikat, Koalisi telah meminta penghentian dukungan pengisian bahan bakar udara untuk operasinya di Yaman,” kata pemerintah Saudi dalam sebuah pernyataan.

Menghentikan pengisian bahan bakar bisa menjadi tahap pertama dalam upaya yang lebih besar untuk memaksa Saudi ke meja perundingan, bersama dengan sekutu mereka dari pemerintah Yaman dan semua pihak lain dalam perang ini.

AS adalah pemasok utama amunisi kepada Angkatan Udara Saudi, dan juga memasok intelijen militer. Kerajaan Inggris dan Perancis juga menyediakan senjata untuk agresi Arab Saudi.

Namun perang Yaman berlangsung secara kejam. Laporan-laporan muncul bahwa anak-anak terjebak dalam kelaparan, ketakutan terhadap epidemi kolera, dan sulit untuk memperoleh bantun karena Washington terus mendukung monarki Arab yang kaya minyak itu dalam serangan brutal mereka terhadap suku-suku Yaman.

Dukungan AS untuk koalisi pimpinan Saudi mendapat kecaman dari beberapa pejabat di Washington. Jadi penting bagi administrasi Trump untuk terlihat tidak melakukan pelanggaran hak asasi manusia, dan mencoba untuk menghindari bencana kemanusiaan.

Tetapi itu semua adalah kedok belaka. Kenyataan dalam urusan luar negeri berbicara lain, terutama dalam administrasi ini. (SFA)