,

CNN Gugat Presiden Trump dan Staf Gedung Putih atas Larangan Peliputan

oleh

WASHINGTON – Penyiaran Amerika CNN telah mengambil tindakan hukum terhadap Presiden AS Donald Trump, dan beberapa asistennya, karena melarang koresponden senior jaringan tersebut meliput di Gedung Putih.

Gedung Putih mengeluarkan suspensi kepada kepala koresponden Gedung Putih CNN, Jim Acosta, yang dikenal sebagai Secret Service “hard pass,” setelah peredebatan antara Trump dan Acosta dan pernyataan keras presiden selama konferensi pers pekan lalu.

Selama konferensi pers, Acosta bersikeras mengajukan pertanyaan kepada Trump.

Trump, dalam menanggapi kegigihan Acosta, menyebut ia orang yang “mengerikan, kasar”, menjengkelkan yang seharusnya tidak bekerja untuk CNN.

“Pencabutan salah satu kredensial ini melanggar Amandemen Pertama dan Kelima hak kebebasan pers CNN terhadap Acosta. Kami memutuskan untuk mengambil jalur hukum, kata pihak CNN dalam pengajuan gugatan kemarin di Pengadilan Tinggi Washington, yang dilansir dari AFP, Rabu (14/11).

CNN menuntut agar perintah penahanan sementara terhadap wartawannya ini dicabut, mengingat bahwa suspensi yang diterima Acosta dapat menjadi serangan bagi media lain di kemudian hari.

“Jika dibiarkan terus-menerus tanpa adanya perlawanan, tindakan Gedung Putih dapat menciptakan dampak yang mengerikan dan berbahaya bagi setiap wartawan yang terpilih untuk meliput di sana,” tambahnya.

Enam gugatan

Selain gugatan yang diajukan terhadap Trump, ada lima tuntutan hukum lainnya. Tuntutan hukum lainnya diajukan terhadap kepala staf Gedung Putih John Kelly, sekretaris Sarah Sanders, wakil kepala staf untuk komunikasi Bill Shine, direktur Dinas Rahasia Randolph Alles, serta petugas Dinas Rahasia yang mengambil hard pass Acosta pada Rabu lalu.

Sanders menanggapi gugatan itu, yang diajukan di Pengadilan Distrik AS di Washington DC, dengan mengatakan bahwa pemerintah akan dengan penuh semangat membela diri.

Trump telah sering menghina kantor berita dan jurnalis, menggambarkan laporan berita yang bertentangan pandangan dan kebijakannya sebagai “berita palsu” dan pekerja media sebagai “musuh rakyat.” [Sfa]