, ,

NY Times: Saudi Rencanakan Bunuh Shadow Commander

oleh
Shadow Commander
Shadow Commander

NEW YORK – Mayor Jenderal Saudi, Ahmed al-Assiri, yang diduga telah dipecat atas pembunuhan Jamal Khashoggi, mengambil bagian dalam pertemuan di Riyadh pada 2017 yang melibatkan rencana untuk membunuh “musuh yang ditentukan” kerajaan, yaitu Shadow Commander, Mayor Jenderal Iran Qassem Soleimani serta menyabotase ekonomi Iran. The New York Times melaporkan hal ini dengan mengutip tiga sumber yang akrab dengan masalah tersebut.

Baca: Shadow Commander Sang Juru Selamat

Pertemuan Maret 2017 di Riyadh itu mempertemukan para pebisnis yang “menyusun rencana 2 miliar dolar untuk menggunakan operasi intelijen swasta untuk menyabotase ekonomi Iran,” bunyi laporan yang dirilis pada hari Minggu (11/11) tersebut.

“Pejabat tinggi intelijen Saudi yang dekat dengan Putra Mahkota Mohammed bin Salman tahun lalu meminta sekelompok kecil pengusaha tentang menggunakan perusahaan swasta untuk membunuh musuh-musuh kerajaan, yaitu orang-orang Iran,” katanya.

Baca: Hadapi Sanksi AS, Shadow Commander Perang Meme

Karena pertemuan terjadi pada saat bin Salman mengkonsolidasikan kekuasaannya di kerajaan, laporan itu menyimpulkan bahwa perencanaan untuk pembunuhan, seperti yang dilakukan oleh jurnalis pembangkang Khashoggi, sebenarnya sudah dimulai “sejak awal kenaikan Pangeran Muhammad.”

Harian AS itu lebih lanjut melaporkan bahwa kemudian para pembantu utama Assiri juga “bertanya tentang pembunuhan” Jenderal Iran Soleimani saat para peserta mencoba “memenangkan pendanaan Saudi untuk rencana mereka.”

Sebelumnya Kementerian luar negeri Iran telah menuduh Washington berusaha mengobarkan “perang psikologis” yang luas terhadap Teheran, bersikeras bahwa langkah-langkah AS semacam itu tidak layak mendapat banyak perhatian.

Baca: Hassan Rouhani: Iran Akan Langgar Sanksi AS

Kini fakta baru soal rencana jahat Bin Salman atas Iran dan Jendral Soleimani, menambah rasa malu yang dihadapi sekutu AS itu setelah pembunuhan Khashoggi di konsulat Saudi di Istanbul serta pelanggaran hak asasi manusia dalam perang terhadap Yaman.

“Kepentingan dalam pembunuhan, operasi rahasia dan kampanye militer seperti perang di Yaman yang  diawasi oleh Pangeran Mohammed, adalah perubahan untuk kerajaan, yang secara historis telah menghindari kebijakan luar negeri yang penuh petualangan yang dapat menciptakan ketidakstabilan dan membahayakan posisi Arab Saudi yang nyaman sebagai salah satu pemasok minyak terbesar di dunia, ”tambah laporan itu.

Penyadapan intelijen Turki dilaporkan menunjukkan bahwa Khashoggi, yang terakhir terlihat memasuki misi Saudi di Istanbul pada 2 Oktober, dibunuh atas perintah langsung dari penguasa de facto Saudi. Arab Saudi telah mengakui pembunuhan itu, namun meninggalkan banyak pertanyaan yang tak terjawab. (SFA)