Analisis

Zionis Israel Dibalik Skenario Pendirian Negara Kurdi

Sabtu, 17 Juni 2017

SALAFYNEWS.COM, SURIAH – Skenario pendirian negara Kurdi merdeka oleh kekuatan zionis internasional demi melemahkan kekuatan negara-negara yang berpotensi mengganggu eksistensi Israel, sudah lama menjadi pembicaraan para analis politik Timur Tengah. Skenario ini semakin mengerucut paska serbuan Amerika ke Irak tahun 2003 dan semakin tidak terbendung lagi paska konflik Suriah yang masih terus berlangsung saat ini.

Seperti dilaporkan Veterans Today, Rabu (14 Juni), Rusia telah memberikan persetujuan bagi pembentukan negara Kurdi, meski harus mengorbankan sekutu strategisnya, Suriah. Negara Kurdi mendatang akan mencakup wilayah ‘Kurdistan’ di Suriah dan Irak, sementara Turki dan Iran dibiarkan tidak kehilangan wilayahnya bagi pembentukan negara itu demi mencegah konflik yang tidak berujung.

“Minggu lalu Presiden Putin mengisyaratkan tidak menolak bila Suriah terpecah, dengan mengatakan bahwa ‘Rusia tidak bisa mencegahnya’. Kini kita mengetahui bahwa Rusia telah menandatangani kesepakatan dengan orang-orang Kurdi pada 2 Juni lalu. Kesepakatan ini membuat jelas bahwa Rusia akan mendukung berdirinya negara Kurdistan merdeka. Maka kita bisa memastikan bahwa orang-orang Kurdi akan mendeklarasikan kemerdekaan mereka dalam waktu dekat ini,” tulis Veterans Today.

Dikutip dari laporan Al Monitor pada tanggal yang sama, pemerintah Otonomi Kurdi Irak (Kurdistan Regional Goverment/KRG) dan Rusia telah menandatangani kesepakatan untuk mengijinkan raksasa migas Rusia, Rosneft, untuk masuk ke pasar migas Kurdi yang selama ini didominasi oleh Amerika dan Turki. Penandatanganan dilakukan di sela-sela pertemuan St. Petersburg International Economic Forum, yang digelar tanggal 1-3 Juni.

Dalam perjanjian yang ditandatangani oleh Perdana Menteri KRG Nechirvan Barzani itu ditetapkan bahwa selama 20 tahun Rusia melalui Rosneft berhak untuk membeli minyak mentah produksi Kurdi dan kemudian mengolahnya di Jerman. Sebagai tahap awal, Rusia menginvestasikan $3 miliar ke wilayah KRG. Perjanjian ini merupakan penguatan dari perjanjian sebelumnya pada bulan Februari bagi pembelian minyak mentah Kurdi oleh Rusia selama tahun 2017 sampai 2019.

Dengan perjanjian baru ini, Rosneft menargetkan akan mengeksploitir minyak mentah Kurdi hingga 700.000 barrel hingga 1 juta barrels per-hari pada tahun ini saja. Dengan perjanjian ini, Rusia kini menjadi pemain kunci bisnis minyak Kurdi bersama Amerika dan Turki.

KRG yang terbentuk di wilayah Kurdi di Irak utara paska tumbangnya regim Saddam Hussein oleh serbuan Amerika tahun 2003, terlibat perselisihan dengan pemerintah pusat di Baghdad perihal pengelolaan migas di wilayah kaya migas di Irak utara yang mayoritas dihuni warga Kurdi. Dan ketika pemerintah pusat bermaksud melakukan langkah keras terhadap KRG, ISIS muncul tiba-tiba dan merebut wilayah barat dan utara Irak.

Kini, seiring melemahnya ISIS dan direbutnya kembali kota Mosul oleh Irak, KRG kembali memfokuskan diri untuk memasarkan minyaknya.

Menurut Jabbar Kadir, mantan penasihat politik Perdana Menteri KRG Barham Salih, kesepakatan antara Rusia dan KRG tidak melulu berdasarkan perhitungan bisnis, melainkan juga politik.

“Rusia percaya bahwa Iraq akan terpecah, jika tidak menjadi tiga negara merdeka setidaknya menjadi tiga negara federal. Itulah sebabnya Rusia mengurangi kerjasama dengan pemerintah pusat di Baghdad. Jika pemerintah Baghdad menentang, Rusia dan KRG akan mengatakan (kepada Baghdad), ‘Kamu membuat kesepakatan dengan Amerika untuk membiarkan mereka mengeksplor minyak di wilayah Kurdi. Kami pun akan melakukan hal yang sama,” kata Kadir kepada Al-Monitor.

KRG akan menggelar referendum kemerdekaan Kurdi pada bulan September mendatang. Aydin Selcen, mantan diplomat Turki untuk wilayah otonomi Kurdi Irak di Erbil, menyebut perjanjian ini merupakan ‘langkah signifikan’ yang akan turut mendorong terbentuknya negara Kurdi merdeka setelah dilakukannya referendum.

“Anda tidak bisa mengabaikan aspek politik dari ini semua. Hingga saat ini Turki bisa mengatur sendiri bisnis minyaknya di Kurdistan, namun hal yang sama tidak akan berlaku bagi Rosneft. Maka, ini adalah kesepakatan sangat penting bagi masa depan Kurdistan,” kata Selcen. [Sfa]

Sumber: Veteran Today.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: