Asia

Zakir Naik Diperiksa Badan Keamanan India Terkait Terorisme dan Pencucian Uang

Kamis, 09 Maret 2017 – 08.50 Wib,

SALAFYNEWS.COM, INDIA – Badan Investigasi India (NIA) mengeluarkan surat peringatan ke pendakwah Zakir Naik agar ikut dalam pemeriksaan di markas NIA pada 14 Maret esok.

Seperti dikutip Times of India, Senin (7/3), Zakir Naik diyakini selama ini tinggal di Arab Saudi. Otoritas India menduga ia sebagai inspirator serangan di Dhaka. (Baca: Diduga Perekrut ISIS, “Ajudan” Dr Zakir Naik Ditangkap Polisi India)

Awal pekan ini, Direktorat Penindakan (ED) juga menginterogasi adik Zakir Naik, Nailah Noorani terkait dugaan kasus pencucian uang. Otoritas India menuding LSM Zakir Naik menerima uang asing secara ilegal.

Karena Kepolisian Mumbai menemukan bahwa pengkhotbah kontroversial Zakir Naik, telah menerima suntikan dana sebesar 60 crore rupee atau sekitar 8,97 juta dolar dimana dana itu dikirim ke rekening bank milik ketua IRF itu dalam tiga tahun terakhir. Jumlah besar uang itu dikirim dalam tiga tahun dari tiga negara yang berbeda. Menurut laporan The Times of India pada Kamis (11/08/2016), uang tersebut dikirim ke lima rekening milik keluarga Naik.

“Kami telah memeriksa sekitar 20 asosiasi yang bekerja dekat dengannya dan usaha bisnis venturanya. Kami telah menemukan cukup informasi dan ingin menanyainya,” ujar pejabat NIA. (Baca: Pasca Bom Bangladesh, Malaysia Larang Dr Zakir Naik Ceramah)

Otoritas India sudah sejak lama mengincar Zakir Naik. Namun Zakir Naik dengan tegas membantah segala tuduhan yang diarahkan kepadanya. Soal ia dianggap inspirator serangan teror, Zakir menegaskan, ceramahnya telah dipelintir.

“Pernyataan saya telah diterjemahkan di luar konteks. Ada setengah kalimat saya dan dipelintir. Saya adalah pembawa pesan perdamaian. Adalah hal sangat dikecam apakah itu Muslim atau non-Muslim melancarkan serangan teror kepada sesama umat manusia. Saya tidak pernah mendukung hal itu.”

Pekan lalu, Zakir Naik tiba di Indonesia. Kehadirannya bersamaan dengan kedatangan Raja Arab Saudi, Salman bin Abdul Aziz. Di Indonesia, Zakir Naik bertemu dengan sejumlah dai, termasuk Ustaz Arifin Ilham dan Yusuf Mansur.

Dr Zakir Naik dikenal luas secara internasional sebagai pembicara umum Muslim dan penulis hal-hal tentang Islam dan perbandingan agama. Yang menarik, ia adalah seorang dokter lulusan Fakultas Kedokteran University of Mumbai, India. Ia sempat bekerja sebagai dokter di Mumbai, sebelum akhirnya memutuskan beralih menjadi seorang pendakwah pada 1991. (Baca: Dr Zakir Naik Sebarkan Wajah ‘Islam’ Ala Wahabi)

“Dr Zakir Naik adalah dai luar biasa. Beliau bukan lulusan universitas atau perguruan tinggi Islam tapi mampu menguasai Alquran dengan baik, hafal, dan menguasai Injil, Weda, dan lain-lain,” ujar Direktur An Nahl Institute Jakarta Ustaz Ahmad Buchory Muslim usai pertemuannya dengan Dr Naik bersama sejumlah ulama di Jakarta, Kamis (2/3) malam.

Namun dalam pidato-pidatonya, Zakir Naik mengatakan bahwa dirinya adalah sarjana perbandingan agama, tapi faktanya ia seringkali mengeluarkan “fatwa” perihal masalah agama Islam yang bukan bidangnya. Ia pun tidak ragu-ragu menyalahkan ulama sekelas Imam Madzhab Fiqih dan Hadits. Dikatakan Zakir Naik bahwa para Imam Fiqih dan Hadits itu tidak memiliki informasi (ilmu) yang lengkap saat mereka (para Imam Fiqih dan Hadits) memberikan atau mengeluarkan hukum-hukum Islam. Bahkan Zakir Naik menyatakan bahwa menerima dan mengikuti para Imam tersebut sebagai guru dalam Islam dapat merusak Islam itu sendiri. Hal ini diungkapkan Zakir Naik saat ia diwawancarai seputar masalah Taqlid. (Baca: Negara Khilafah Bukan Ide dari Qur’an dan Nabi Muhammad Saw)

Meski begitu Zakir Naik sering mengaku sebagai murid Syaikh Ahmad Deedat. Benarkah? Tentu saja ini tidak benar. Bagaimana mungkin seorang murid menyebut gurunya sendiri secara tak langsung sebagai orang yang syirik dan kafir. Lihatlah bagaimana Zakir Naik mengatakan memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. adalah perbuatan syirik dan ia menyamakan perbuatan tersebut dengan Festival Hindu dan Kristen. Maulid Nabi dan Tawassul dikatakan haram, dan lain sebagainya. Na’udzubillah. Padahal Syaikh Ahmad Deedat yang ia klaim sebagai gurunya adalah seorang pecinta Maulid Nabi. (SFA)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: