Fokus

Zainul Muttaqin: White Helmets Penghancur Suriah Resmi Masuk Indonesia

Minggu, 30 April 2017 – 09.32 Wib,

SALAFYNEWS.COM, JAKARTA – Tokoh media sosial Ahmad Zainul Muttaqin menulis tentang kedok teroris yang berkedok kemanusiaan, berikut tulisannya:

White Helmet cabang Indonesia? Saya tidak tahu sampai seseorang men-tag saya tentang itu. “Coming soon White Helmet Indonesia” kata sebuah akun bernama muhammad93r. Melihat ini saya hanya bisa berkata dalam hati, siapa kemarin yang bilang program men-Suriahkan Indonesia hanya isapan jempol? (Baca: Organisasi Dokter Swedia Bongkar Tipuan Busuk White Helmets di Suriah)

Bagi siapapun yang mengikuti konflik Suriah pasti tidak asing dengan kelompok NGO satu ini, hadir di wilayah-wilayah yang dikuasai pemberontak lalu menshare video-video ke dunia internasional yang berisi “penyelamatan” korban-korban yang mereka klaim kekejaman Rezim Suriah.

White Helmets Indonesia

Lucunya tak sedikit dari video-video mereka yang tertangkap rekayasa, baik para pemeran relawan yang di lain kesempatan ketangkapan merupakan anggota kelompok teroris #AlQaeda Jabhat Fateh al Syam (dulu bernama Jabhat Nushrah) menenteng senjata dan mengibarkan bendera Al Qaeda, dan para korban yang rangkap peran serta wartawan peliput kegiatan yang berfoto mesra bersama kelompok teroris Nuruddin al Zinki (cabang Jayshul Fath Suriah) sebelum menyembelih seorang bocah Palestina hidup-hidup di Kamp Handarat Aleppo (videonya viral).

Yang terbaru, White Helmet menjadi corong propaganda “senjata kimia” di Khan Shaikhoun Idlib Suriah dimana mereka menyebarkan video anak-anak yang diklaim korban kekejaman Rezim Assad, yang belakangan video itu viral sedunia sehingga menjadi pretext bagi Donald Trump untuk memerintahkan kapal-kapal destroyer USA meluncurkan 59 misil jelajah Tomahawk untuk menghancurkan pangkalan udara Sha’yrat Suriah.

Tak aneh memang kelakuan organisasi “medis” satu ini, selalu memancing negara-negara ‘axis of evil’ untuk terjun langsung meng-agresi Suriah. Motif dibelakangnya, ketika USA, NATO, Turki dan negara-negara teluk gagal memaksakan invasi militer legal lewat resolusi Dewan Keamanan PBB (karena selalu digagalkan oleh veto Rusia dan China), mereka menggunakan “cara halus”, yaitu menerjunkan organisasi berkedok medis dilengkapi dengan camera, “cut” dan “action” untuk menggiring opini dunia akan “kekejaman” pemerintah berdaulat Suriah yang tidak bisa ditoleransi lagi. Semua guna memancing kutukan dunia Internasional terhadap rezim dan memancing negara-negara asing bertindak masuk. Bisa juga dianggap sebagai siasat ‘False Flag’ negara-negara yang selama ini mensponsori pemberontakan berdarah di Suriah agar memiliki pretext untuk aksi militer sepihak ke Suriah tanpa lisensi DK PBB. (Baca: Denny Siregar: White Helmets, Organisasi HAM Rasa Teroris)

Ya, 6 tahun perang hanya menyaksikan kegagalan demi kegagalan proxy-proxynya di Suriah tentu sudah membuat para tuan mereka “gatal”.

Saya sebenarnya tak begitu tertarik dengan NGO asing satu ini, karena tak seperti NGO-NGO lain seperti Syrian Red Crescent yang terjun langsung di Suriah, memiliki izin resmi, bersikap netral dan bahkan bekerjasama dengan otoritas setempat dalam menyalurkan bantuan, langkah White Helmet ini terlampau mencolok dalam mengabadikan “kekejaman” rezim dan menggiring opini dalam keberpihakan tanpa tabir.

Dan saya tidak heran dari post viral tentang munculnya White Helmet Indonesia ini, tersebut satu nama disana. Ya, disana ada nama Fathi Nasrullah (entah mulai kapan dia menggelari diri sebagai “Nasrullah”?). Nama aslinya adalah Fathi Yazid Attamimi yang sejak awal menenteng organisasi MMS (Misi Medis Suriah), menggalang fulus bertema Suriah dimana-mana, berseminar ke masjid-masjid dan kampus-kampus (belakangan ditolak UI) sambil mengibarkan bendera FSA (pemberontak Suriah) bukan bendera resmi Suriah yang diakui PBB. Kira-kira kurang lebih dengan apa yang dilakukan Bachtiar Nasir.

Yang patut jadi pertanyaan, mengapa ada organisasi yang mengaku murni medis tapi mengibarkan bendera pemberontak yang kental aroma politik? Lalu kesana kemari mengaku netral dan independen? (Baca: Bashar Assad Bongkar Kisah Anak di Kursi Orange “Omran Daqneesh”)

Ya, bayangkan saja jika suatu saat ada NGO asing yang menggiring opini di luar negeri sambil mengibarkan bendera GAM, RMS atau OPM sambil meneriakkan slogan “Mari tolong rakyat Indonesia yang ditindas rezim” yang tujuannya adalah mendukung pemberontakan, memancing negara-negara asing untuk menyokong pemberontak, ya seperti itu perumpamaan-nya.

Di tulisan ini, saya menyertakan screenshot debat saya dengan si pentolan MMS Fathi Yazid Attamimi alias Fathi Nasrullah yang sekarang jadi pentolan White Helmet Indonesia.

Contohnya tanpa malu ketika saya tembak dengan berita dari CNN bahwa USA mengirim 50 ton amunisi untuk para pemberontak Suriah, dia tanpa malu mengakui para pemberontak afiliasinya di Suriah benar mendapat bantuan tersebut dan dia bahkan menyebutnya sebagai “sedikit” dan cukup buat “kentut doank”.

Wow, entah sudah berapa ribu ton senjata dan amunisi serta berapa milyar USD yang disalurkan USA untuk para teroris backingan mereka di Suriah selama 6 tahun perang ini, sehingga 50 ton amunisi hanya dianggap “kentut” dan hanya sebuah lembaran dari buku tebal berjudul perang Suriah.

Siapa itu White Helmet?

Berikut saya copaskan kembali tulisan saya 1 tahun yang lalu ketika situasi perang Aleppo sedang mengeskalasi dan propaganda White Helmet sedang gencar diviralkan di seluruh dunia. Tulisan ini saya post pada 1 Mei 2016 dan dimuat beberapa website online. (Baca: Eva Bartlett Bongkar Kebusukan Media Barat dan Pro Teroris Tentang Suriah)

Dari kemarin setidaknya ada 3 inbox dan 2 chat yang masuk ke saya meminta tentang update situasi perang di Aleppo. Media-media barat macam Huffingtonpost, Al-Jazeera, BBC, CNN, FOX dan media-media takfiri termasuk fans club Erdoganista “Sahabat Erdogan” sedang gencar menuduh Tentara Suriah dan Rusia melakukan pembantaian massal di Aleppo, mengebom rumah sakit, sekolah, pemukiman dan pasar dalam rangka menghabisi warga sipil. Mereka lupa mengatakan bahwa para teroris yang didominasi para militan asing lah yang sedang gencar menyerang Aleppo yang warganya mayoritas pro-Assad. Baik Jabhat Nushrah, Jaysh al Islam, Ahrar as Syam, FSA dan ISIS punya porsi besar membunuh warga sipil dan menghancurkan fasilitas umum di Aleppo dengan suplai senjata dan dana fantastis dari Rezim Erdogan.

Jenis propaganda sudah semakin canggih hari ini, kalau sebelumnya mereka menyebarkan isu “jihad” yang berhasil menggiring puluhan ribu jihadis hasil cuci otak untuk “berjihad” ke Suriah (bukan ke Palestina). Dan setelah 5 tahun, propaganda itu terbukti gagal menggulingkan Pemerintahan Assad yang dipilih 88.7% suara rakyatnya lewat Pilpres 2014 (yang diawasi lembaga-lembaga Internasional). Maka sekarang dibuatlah jenis propaganda baru yaitu “Bantuan Kemanusiaan”.

Standar ganda dimainkan, media-media asing menggambarkan kelompok-kelompok teroris diatas sebagai “Pemberontak Moderat” dan “Pejuang Pembebasan”, padahal dulu ketika mereka beraksi di Paris, Brussels, Jakarta, Ankara dan Lahore mereka sepakat menyebutnya sebagai Teroris. Kini negara-negara Barat dan Arab Teluk Petrodollar tidak lagi hanya menyuplai persenjataan canggih, logistik dan uang kepada para pemberontak yang hendak menggulingkan Presiden Bashar al Assad, tapi mereka juga menyuplai dengan “Helm Putih” dan pakaian ala petugas kemanusiaan.

Mereka sadar akan kekuatan media dalam menggiring opini dunia. Bila para teroris itu tetap dibiarkan apa adanya menenteng bendera hitam berlambang tauhid sambil memanggul senapan, RPG sampai misil TOW, maka itu tidak akan mengundang simpati dunia. Namun bila mereka dipakaikan helm putih, seragam, rompi kemanusiaan dan masuk ke gang-gang sipil maka dunia akan bersimpati pada mereka dan menyebut mereka “Pejuang Kemanusiaan”.

Perkenalkan, inilah kelompok “White Helmet” atau Helm Putih. Kelompok ini adalah Al-Qaeda yang sudah “di-facelift”. Kelompok ini digambarkan media-media barat bak malaikat di dalam kacaunya perang di Aleppo. Mereka “kebal” dan tidak boleh diganggu. Segala serangan terhadap mereka akan dipropagandakan sebagai serangan terhadap rumah sakit dan camp-camp perawatan “warga sipil” tanpa tapi.

Tidak heran sangat banyak foto-foto perang Aleppo yang tersebar sambil memampangkan foto pria-pria berhelm putih menggendong anak-anak kecil dengan luka darah di tengah bangunan yang hancur, tidak lupa ditambah judul “Kejahatan Rezim Suriah”. Inilah dia, propaganda perang Suriah sudah berevolusi ke tahapan yang lebih tinggi.

Kelompok ini biasa beraksi melakukan “bantuan kemanusiaan” di bawah bendera NGO (Non-Governmental Organization) yang mengaku independen. Ajaibnya jumlah mereka dalam sekejap sudah berjumlah dua ribuan di Aleppo. Bantuan donor asing bagi organisasi berlambang piramida segitiga ini datang bergelombang luar biasa, baik dari yang benar-benar mengetahui hakikat kelompok ini, maupun yang tertipu yang menyangka mereka hanya melakukan “bantuan kemanusiaan”.

Dari data yang saya baca dari jurnal Vanessa Beeley, kelompok “White Helmet” menerima “donasi” 13 juta US Dollar selama 2013 saja dari US, UK dan Syrian National Council (kelompok oposisi Suriah yang bermarkas di London) yang sebelumnya terekspos punya koneksi dengan George Soros di US.

Orang yang mengikuti konflik Suriah tidak akan terkejut dengan organisasi ini. NGO adalah ciptaan Wall Street dan sudah menjadi proxy baru bagi Barat untuk menggulingkan Pemerintahan Assad yang hingga saat ini merupakan satu-satunya rezim Arab tersisa yang tidak bersedia menandatangani perjanjian damai dengan Israel. Organisasi ini didirikan di negara anggota NATO Turki tepatnya di Istanbul dan dipimpin oleh mantan Intelijen Kerajaan Inggris James Le Mesurier. Di abad 21 ini, NGO sudah menjadi alat kunci bagi imperialis untuk meraih dominasi global dan eksploitasi. Media-media global coba memanipulasi masyarakat dunia bahwa kelompok “White Helmet” ini adalah benar-benar representasi “rakyat sipil”.

Perang di Aleppo semakin mengeskalasi di akhir April kemarin ketika kelompok-kelompok teroris mengirim ratusan mortar ke kota nomor dua di Suriah ini. Tentara Suriah pun merespon dengan keras. Media-media barat mempropagandakan Aleppo sedang dibawah ancaman militer Suriah. Di sisi lain selama saya mengikuti berita-berita langsung dari sumber Suriah, rakyat Aleppo lah yang justru meminta Tentaranya untuk membersihkan para teroris yang secara konstan menembakkan mortar ke wilayah-wilayah sipil.

Untuk tambahan data, saya beri bukti video dimana JUTAAN rakyat Aleppo turun ke jalan mengadakan aksi massa dukungan pada pemerintah mereka Suriah Bashar Assad sambil mengibarkan bendera Suriah dan Rusia. Mungkin dengan ini anda akan tahu kenapa para Teroris tersebut menargetkan Aleppo. (SFA)

Sumber: Akun Facebook Ahmad Zainul Muttaqin

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: