Artikel

Zainul Muttaqin: Inilah Beda Bom Bunuh diri Muhammad Toha dengan Teroris

Kamis, 01 Juni 2017 – 05.24 Wib,

SALAFYNEWS.COM, JAKARTA – Bom Kampung Melayu, heroisme syahwat demi 72 bidadari. Bom keputusasaan. Mati untuk membunuh, hidup untuk mengkafirkan. Saya harus mengatakan apa dengan adegan bom bunuh diri yang diperagakan para radikalis di Kampung Melayu dengan kekerasan Aparat kepolisian lalu menganggap aksinya sebagai jihad. (Baca: Santoso Mati Sangit Opo Mati Syahid?)

Saya jadi teringat dengan kisah heroik seorang pemuda yang pernah melakukan bom bunuh diri di Bandung tepatnya di Dayeuhkolot. Jangan coba mengingat-ingat, karena anda dan saya belum lahir saat itu. Kejadiannya Maret 1946, usianya masih belia 19 tahun. Muhammad Toha namanya. Mungkin dia tidak pernah dikenang atau tidak. Seorang pemuda yatim dengan jiwa penuh nasionalisme demi mempertahkan kemerdekaan indonesia yang baru kurang dari musim, bisa merelakan nyawanya untuk negeri.

Kota Bandung sedang terbakar, menjadi lautan api. Cahaya api menyemburat langit. Duaratus ribu kurang lebih penduduk Bandung Selatan pergi ke pegunungan di selatan dengan memikul barang bawaan, menggendong anak, dan lain perbekalan. Rumah mereka sudah mereka bumihanguskan, sengaja mereka bakar dan tinggalkan, agar Bandung Selatan tidak melakukan kontak sebagai markas bagi Sekutu dan Belanda yang ingin merebutnya.

Ya, mereka hanya warga sipil, namun memiliki tekad yang bulat takkan diserahkan kota mereka ke Belanda. Dan kamuikan mereka tidak mampu mempertahankannya lagi, maka mereka bumihanguskan wilayahnya sehingga tidak bisa apa yang dilakukan dengan apa-apa yang mendudukinya, selain abu.

Satu-satunya yang ada di pikiran M. Toha saat itu hanya bagaimana meratakan gudang mesiu Belanda dengan tanah. Dengan seorang sahabatnya sedari kecil bernama Muhammad Ramdhan, ia berjuang hingga titik darah penghabisan. Saya kutipkan tulisan Mira Marsellia untuk melukiskannya:

“Toha menyusup mencari jalan untuk menghancurkan gudang, Ramdhan dan rekan lainnya mengalihkan perhatian penjaga demi mengamankan jalan bagi Toha sahabatnya. Satu tujuan mereka pasti, gudang mesiu dan persenjataan Belanda itu hancur rata dengan tanah. (Baca: Wahabi Otak Bom Bunuh Diri di Seluruh Dunia)

Gudang mesiu di selatan Bandung ini berada di daerah yang terbuka. Gudang besar dan tampak angker. Sulit dicapai karena dijaga ketat dan yang mendekati dapat terlihat dengan mudah oleh penjaganya. Isinya lebih dari seribu ton berbagai jenis persenjataan, granat, bom dan mesiu di dalamnya.

Menghancurkannya adalah misi yang sangat sulit. Namun sangat diperlukan mengingat persenjataan di dalamnya adalah alat-alat perang yang mendukung penyerangan Tentara Sekutu terhadap rakyat dan semua yang mempertahankan kedaulatan Negara Indonesia.

Lewat gorong-gorong Toha menyusup, rekan ada yang sudah tertembak, lalu teman yang lain sigap mengalihkan perhatian tentara penjaga dengan menembak di tempat lain, agar perhatian teralihkan dari Toha. Toha berenang dari sungai Citarum, masuk lewat gorong-gorong.

Akhirnya Toha berhasil masuk ke dalam gudang mesiu, mengunci diri di dalam, beserta beratus bom berjajar, granat dan senjata. Namun hatinya tak gentar, tekadnya sudah bulat. Ramdhan di luar sudah tewas tertembak sebagai pembuka jalan bagi Toha. Dipasangnya detonator dan tak lama kemudian ledakan sangat dahsyat terjadi. Tak tersisa dari bangunan kecuali lubang yang sangat besar yang segera terisi air dari sungai Citarum yang tak jauh dari sana.

Suara dentuman dahsyat itu dikisahkan terdengar sangat dahsyat menggelegar dan membahana. Beberapa kampung dan perumahan Belanda disekitarnya hancur. Sekitar tempat ledakan sekarang adalah perkantoran Zeni Tempur. (Baca: ‘Mujahidin’ IDOL Ala Media Radikal: Arrahmah, Kiblat, Panji Mas, Voa-Islam)

Di tempat ledakan besar tersebut masih terdapat kolam berair coklat, juga patung dada Muhammad Toha yang tampak tak terawat, beserta tugu peringatan dengan patung beberapa pemuda yang berada dalam kobaran lidah api. Disanalah Muhammad Toha, Muhammad Ramdhan dan rekan-rekan seperjuangan lainnya beristirahat, kembali untuk selamanya kepada Sang Pencipta.”

Demikian kutipan perjuangan Toha dan kawan-kawannya.

Untuk para teroris, tidak bisa kah kalian belajar sedikit saja dari pemuda bernama Toha ini? Dia bunuh diri. Ya, saya tahu dia bunuh diri dan dia sendiri tahu bahwa itu adalah ‘suicide mission’.

Tahukah apa bedanya bunuh diri pemuda tersebut dengan kalian?

Ia bunuh diri untuk menjaga hidup orang lain, bukan untuk memusnahkannya. Dengan mengorbankan jiwanya ia melindungi nyawa ratusan ribu rakyat Bandung tak peduli apapun agama mereka. Ia tetap bernilai bahkan setelah 71 tahun kematiannya. Ia memeluk kematian dengan mengunci diri di gudang mesiu musuh yang akan membunuh saudara-saudara setanah airnya. Bukan memeluk kematian dengan membawa saudara setanah air untuk ikut ke alam baka.

Dengan kematiannya, nyawa ratusan ribu orang terjaga. Ia bunuh diri demi melawan penindas dan melindungi saudara-saudaranya dari penindasan. Bukan bunuh diri semata untuk membinasakan orang yang ia kafirkan.

Itulah kematian yang Tuhan disebut sebagai bukan kematian, pelesir kehidupan sebenarnya dengan karunia rezeki. Bukan kematian atas egoisme syahwat bercinta dengan 72 bidadari. Lagipula bidadari jenis apa yang mau bercinta dengan penebar teror yang membunuh saudara sebangsanya dan rusak nama agamanya. (SFA)

Selamat Hari Lahir Pancasila.

Sumber: Akun Facebook Ahmad Zainul Muttaqin

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: