Headline News

Wiranto: Jangan Sampai Politik Dimanfaatkan Kelompok Radikal Kuasai Kekuasaan

Senin, 16 Oktober 2017 – 15.06 Wib,

SALAFYNEWS.COM, JAKARTA – Menjelang pilkada serentak 2018 dan juga piplres 2019 Menteri Koordinator Politik Hukum, dan Keamanan Wiranto mengatakan, di masa Pilkada dan Pilpres ujaran kebencian, propaganda politik serta kampanye hitam akan menjadi alat meraih kekuasaan.

Baca: Ketum PBNU: Saracen Bikin Konflik dan Perang Saudara, Ini Ciri Terorisme

“Selama itu, radikalisme dalam bentuk ujaran kebencian bercampur dengan propaganda politik dan kampanye hitam akan digunakan sebagai alat meraih kekuasaan,” kata Wiranto dalam sambutannya di 6th Action Asia Peacebuilders’ Forum, Jakarta Pusat, Senin, 16 Oktober 2017.

Menurut Wiranto, seperti tahun-tahun sebelumnya, menjelang Pilkada dan Pilpres peningkatan suhu politik tak bisa dihindari. Sebab, kata dia, ada kontestasi dari para calon yang melakukan agenda-agenda politiknya untuk mencapai kemenangan. “Kemudian melakukan langkah-langkah yang diupayakan agar mereka lebih populis dari yang lain, agar mereka dipilih oleh rakyat,” ucapnya.

Wiranto mengatakan, langkah-langkah para calon politik ini terkadang tak bisa dikontrol dengan baik. Hal ini, kata dia, bisa dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok radikal untuk membangun kebencian, kecurigaan, serta konflik antara satu dengan lainnya. “Ini mereka biasanya kan masuk di situ,” katanya.

Baca: Wiranto: Semua yang Terlibat dalam Jaringan Saracen Harus Disikat Habis

Pemerintah, kata Wiranto, akan memantau dan mengawal peningkatan suhu politik menjelang pemilu. Dia mengatakan pengawalan ini agar peningkatan suhu politik tidak keluar batas kewajaran. “Sehingga tidak menimbulkan keresahan, kekacauan, dan konflik di masyarakat. Itu yang terpenting,” ucapnya.

Wiranto mengimbau kepada para calon yang mengikuti kontestasi politik berhati-hati agar tidak diboncengi oleh kelompok-kelompok yang ingin membangun kekacauan.

Baca: Ingatkan Pemerintah Potensi Kelompok Radikal Buat Gaduh Pilkada 2018

Termasuk menjaga tidak memanfaatkan ujaran kebencian untuk  menghantam lawan politik. “Pilkada dan pilpres adalah suatu proses demokrasi yang mulia karena kita memilih pemimpin-pemimpin ke depan, pemimpin lokal maupun pemimpin nasional,” ujarnya. (SFA)

Sumber: Tempo

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: