Analisis

Musisi Pink Floyd Sebut White Helmets Alat Propaganda Teroris

JAKARTA – Pengamat politik Timur Tengah, Dina Sulaeman dalam akun fanpage Facebooknya menceritakan tentang seorang musisi ternama Roger Waters (Pink Floyd) dari atas panggung dia secara blak-blakan membongkar siapa sebenarnya White Helmets itu, ini ulasannya:

Roger Waters dan Kesadaran Sebagai Manusia

Musisi terkenal asal Inggris, Roger Waters (Pink Floyd), baru-baru ini membuat kejutan dengan bicara blak-blakan soal White Helmets (WH).

Baca: Organisasi Dokter Swedia Bongkar Tipuan Busuk White Helmets di Suriah

Beberapa hari sebelum manggung di Barcelona, Waters dikontak oleh seorang wartawan Prancis yang bekerja untuk WH. Lelaki bernama Paskal itu meminta diberi waktu untuk tampil dalam konser Waters untuk bicara soal anak-anak Suriah.

Waters merespon Paskal dengan menyatakan (di depan penontonnya) bahwa WH adalah “organisasi abal-abal yang muncul untuk menciptakan propaganda bagi ‘jihadist’ dan teroris. … Jika kita mendengar propaganda Paskal, WH, dan lainnya, kita akan terdorong untuk mendukung pemerintah kita mengebom rakyat Suriah. Ini akan menjadi kesalahan besar bagi kita sebagai manusia.”

Waters menyerukan kepada penonton agar mencegah pemerintah [Barat] untuk tidak mengebom Suriah, sebelum melakukan semua penyelidikan yang diperlukan; sehingga “Kita punya pengetahuan yang jelas tentang apa yang sebenarnya terjadi… karena kita hidup di dunia dimana propaganda terlihat lebih penting daripada realitas yang benar-benar terjadi.”

Baca: Zainul Muttaqin: White Helmets Penghancur Suriah Resmi Masuk Indonesia

Pada tahun 2016, Roger Waters pernah diundang dalam acara pengumpulan donasi yang dikelola oleh miliarder Saudi, Hani Farsi. [Donasi #eh? Kok saya jadi teringat sama sebuah lembaga pro-jihadis di Indonesia yang juga pakai artis-artis untuk menggerakkan orang menyumbang ke Suriah?]. Acara pengumpulan donasi itu adalah demi mendukung White WH. Waters tidak menaggapi undangan itu.

Waters sebelumnya dikenal sebagai artis yang berani mengritik Israel, bahkan mendukung gerakan boikot terhadap Israel. Tentu saja, label “anti-Semit” langsung dilekatkan kepadanya oleh kelompok Zionis. Ga jauh beda dengan di Indonesia, kalau berani bersuara berbeda dengan simpatisan “jihad”, langsung label Syiah, atau komunis, atau apalah dilekatkan kepada kita. Rupanya kedua kelompok ini (Zionis dan “jihadis”) satu ‘perguruan’ dalam membungkam lawannya.

Baca: Kupas Tuntas Hubungan Teroris dengan IHH dan IHR Milik Bachtiar Nasir

Kalimat menarik yang saya garis bawahi dari Waters adalah: Ini akan menjadi kesalahan besar bagi kita sebagai manusia (This would be a mistake of monumental proportions for us as human beings).

Ya, sebagai manusia, kita sudah dikaruniai akal untuk menyaring segala informasi yang sampai kepada kita. Seperti kata Waters, dunia kita hari ini dipenuhi propaganda; sehingga propaganda terlihat lebih penting daripada realitas yang benar-benar terjadi.

Baca: Denny Siregar: White Helmets, Organisasi HAM Rasa Teroris

Ada istilah yang banyak dipakai orang akhir-akhir ini: post-truth, pasca kebenaran. Manusia hari ini konon tak lagi mencari kebenaran yang riil, melainkan ‘kebenaran’ yang memang sesuai dengan frame/kerangka berpikirnya sendiri. “Kalau info ini sesuai dengan yang aku pikirkan selama ini, info ini benar; kalau tidak, info ini salah,” demikian pikir sebagian orang.

Namun Robert Fisk, jurnalis terkemuka Inggris, menolak istilah ini. Menurutnya, kita tidak berada di era post-truth, tapi di era kebohongan. Media-media secara sadar melakukan kebohongan dan melanggar asas-asas jurnalisme. Fisk secara khusus menyinggung masalah Suriah. Dia bilang, “Kita [masyarakat Barat] menyerahkan jurnalisme kepada media sosial, dan kepada milisi bersenjata yang mengontrol wilayah itu.” (yang dimaksud Fisk adalah kejadian di Aleppo timur, Desember 2016, dimana Assad diberitakan melakukan pembantaian massal terhadap warganya sendiri).

Media-media dan jurnalis anti-mainstream sudah berupaya keras, dengan segala keterbatasan dana dan sumber daya yang mereka miliki, untuk memberikan pengimbangan informasi. Namun gaungnya dibungkam dengan kalimat “itu media tidak kredibel, berpihak, bias”. Seolah-olah, media mainstream adalah yang paling kredibel, netral, dan tidak bias.

Padahal, dalam kasus senjata kimia di Douma, misalnya, jurnalis media anti-mainstream jauh-jauh datang ke Suriah, mewawancarai langsung warga di sana, sementara media mainstream hanya mengambil info yang disebar via internet oleh para ‘jihadis’.

Serangan ke Irak 2003 merupakan contoh paling terang-benderang betapa media-media mainstream (dan para elit negara Barat, terutama AS) telah terlibat dalam kebohongan massal soal senjata pembunuh massal di Irak. Dalam kehidupan sehari-hari, bila Anda dibohongi orang 1 kali, 2 kali, apakah Anda akan percaya sepenuhnya untuk kali ke-3 dan seterusnya? Orang berakal normal akan skeptis, minimalnya.

Baca: Yusuf Muhammad: Pemberontak Berkedok LSM

Tapi sebagian manusia entah mengapa, mudah lupa. Saat diingatkan pun, mereka menutup telinganya rapat-rapat dan merasa nyaman dengan informasi yang sesuai dengan keyakinannya selama ini. Kalau info ini sesuai kata ustadz saya, berarti itu benar. Kalau tidak, pasti sesat. Kalau sesuai dengan kata media mainstream, pasti benar. Media anti-mainstream? Oh, itu pasti fake news, bias, tidak netral, tidak bisa dipakai sebagai rujukan.

Manusia, dikaruniai akal untuk berpikir objektif. Berita darimanapun, baik mainstream atau antimainstream, perlu ditelaah dengan langkah-langkah berpikir logis (mantiq). Tidak asal telan. Sayang, sebagian orang terlalu ‘menyayangi’ akalnya, sehingga tidak digunakan. Supaya awet, mungkin? Tapi manusia yang sadar atas kemanusiaannya, tidak akan ‘sayang’ dalam memanfaatkan akalnya semaksimal mungkin. (SFA)

Sumber: Akun Fanpage Dina Sulaeman dan Cerdas Geo Politik

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Israel Evakuasi White Helmets dari Suriah | SALAFY NEWS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: