Fokus

Wakapolda: Tiga Kampus Besar di Aceh Terindikasi Paham Radikal HTI

Sabtu, 30 September 2017 – 12.30 Wib,

SALAFYNEWS.COM, ACEH – Semakin meresahkannya ideologi radikal yang sekarang marak masuk ke kampus-kampus sekuler di Indonesia, menurut Prof Sumanto Al-Qurtuby.

Baca: WASPADA! Embrio Khilafah HTI Anti Pancasila Tumbuh Subur di Kampus Indonesia

Kenapa Ideologi radikal tidak laku di kampus-kampus Islam (seperti UIN, IAIN, STAIN, dlsb)? Karena para mahasiswa & mahasiswi di kampus-kampus Islam ini rata-rata alumni Madrasah Aliyah dan pondok pesantren yang sudah terbiasa dengan berbagai kajian, pandangan, dan literatur keislaman. Apalagi dosen-dosennya sudah malang-melintang di jagat kajian keislaman. Dengan demikian, mereka tidak mudah untuk “disusupi” oleh berbagai ormas/parpol Islam “semprul”. Bisa terkencing-kencing kalau ormas-ormas Islam konservatif itu “berdakwah” di UIN/IAIN, dlsb.

Sebaliknya, para mahasiswa/i kampus-kampus sekuler bisa dipastikan “non-njendol” soal kajian, pemikiran, dan literatur keislaman ini karena mereka umumnya dari SMU sehingga gampang untuk dikibuli oleh para aktivis dan makelar ormas/parpol Islam konservatif dengan modal satu-dua dalil. Para dosennya juga sama mayoritas “nol-jumbo” soal studi, pemikiran, dan literatur keislaman. Maka, tidak heran kalau kampus-kampus sekuler menjadi “pangsa pasar” empuk bagi cheerleaders ormas-ormas Islam konservatif bin “semprul” yang sedang “berbulan madu” dengan Islam.

Menurut Wakil Kepala Polisi Daerah (Wakapolda) Aceh, Brigjen Pol Bambang Soetjahjo mengatakan, ada tiga kampus di Aceh yang diduga sudah disusupi paham radikal, seperti paham khilafah Hizbut Tahrir Internasional (HTI).

Pernyataan itu disampaikan Wakapolda Aceh dalam pidato ilmiah dengan tema ‘Peran Perguruan Tinggi dalam Mengantisipasi Paham Radikalisme’ yang diadakan Universitas Malikussaleh (Unimal) Aceh Utara pada Kamis (28/9), di Gedung ACC Uteunkot Cunda, Lhokseumawe. “Di Indonesia, ada 106 kampus yang diklaim telah masuk paham HTI. Khusus Aceh, ada tiga kampus yang sudah memiliki jaringannya,” sebut Brigjen Bambang Soetjahjo.

Untuk itu, menurut Brigjen Bambang, diperlukan upaya dari kampus guna menghentikan penyebaran paham radikal tersebut. Wakapolda Aceh menyarankan, agar mahasiswa dibina nilai filosofis bernegara yaitu Pancasila beserta butir-butirnya. “Mahasiswa perlu mewaspadai adanya aliran sesat yang mengintai untuk dijadikan pengikutnya. Mahasiswa harus awas melihat konten media sosial yang seringkali berisi paham radikal,” paparnya.

Selain itu, dia mengajak mahasiswa untuk peduli pada teman dan lingkungannya, sehingga ketika ada gejala radikalisme bisa segera dicegah. “Jika ada yang mencurigai gerakan radikal atau penyebaran paham radikal, segera laporkan ke aparat keamanan. Jangan main hakim sendiri,” tukasnya.

Baca: Kelompok Radikal “Rampok Kampus-kampus Sekuler” di Indonesia

Menurut Wakapolda, radikalisme bisa menjadi cikal bakal lahirnya terorisme. “Mahasiswa bisa juga berperan dalam mencegah radikalisme dengan memberikan penjelasan yang baik pada masyarakat soal paham radikalisme ini. Sehingga tak ada lagi masyarakat kita yang radikal, kita hidup di negara yang welas asih,” terangnya.

Sementara itu, Rektor Unimal, Prof Apridar menegaskan komitmennya untuk mengantisipasi paham radikal di kampus tersebut. Selain itu, Unimal, sambung Prof Apridar, merupakan salah satu peserta penandatanganan deklarasi anti-radikalisme bersama Presiden Joko Widodo di Bali, dua hari lalu. “Kampus harus mengajarkan bagaimana menghormati sesama, saling mendukung antarmahasiswa,” sebut Prof Apridar.

Baca: Kerajaan Wahabi Saudi Akan Dirikan 3 Universitas di 3 Kota Besar Indonesia

Rektor Unimal juga menyebutkan, dirinya sudah menginstruksikan ke seluruh ketua jurusan untuk lebih intensif berdiskusi dengan mahasiswa, sehingga jika ada gejala paham radikal dapat segera dideteksi dan diambil solusinya. (SFA)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: