Headline News

Wabah Kolera Sengaja Disebar di Yaman

Rabu, 24 Mei 2017 – 09.00 Wib,

SALAFYNEWS.COM, YAMAN – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah melaporkan peningkatan 50 persen kasus kolera di Yaman. (Baca: ICRC: Wabah Kolera Serius Ancam Yaman)

Pada hari Selasa, WHO mengumumkan ada 35.217 kasus yang telah tercatat sejak 27 April saat wabah dimulai. Angka tersebut menunjukkan lompatan 50 persen dalam kasus dibandingkan dengan angka yang diberikan oleh WHO pada minggu lalu, seperti yang dirilis kantor berita Sputnik.

Pada hari Jumat, Nevio Zagaria, perwakilan WHO untuk Yaman, melaporkan bahwa 242 orang telah meninggal akibat wabah tersebut, dan sekitar 23.500 kasus lain yang dikonfirmasi mengenai penyakit ini dilaporkan di seluruh negeri dalam tiga minggu terakhir saja. (Baca: UNICEF: Anak Yaman Meninggal Setiap 10 Menit)

Kolera yang menyebabkan diare dan dehidrasi parah, ditularkan melalui air minum yang terkontaminasi dan dapat berakibat fatal pada 15 persen kasus yang tidak diobati.

Awal bulan ini, Kementerian Kesehatan Yaman mengumumkan keadaan darurat di Sana’a sehubungan dengan epidemi tersebut.

Organisasi internasional, termasuk PBB dan Palang Merah, mengatakan bahwa perang yang dipimpin oleh Arab Saudi di Yaman dan embargo terhadap negara tersebut, bertanggung jawab atas epidemi kolera. Agresi Saudi telah menghancurkan fasilitas dan infrastruktur negara, menghancurkan banyak rumah sakit, sekolah, dan pabrik.

Kolera disebarkan dengan sengaja?

Direktur Pusat Kesehatan Azal, Dr. Yahya Al-Hamdani, telah mengemukakan bahwa bakteri di balik wabah tersebut mungkin telah disebar dengan sengaja dari udara, Presstv melaporkan.

“Alasan paling penting adalah bahwa mereka telah menyemprotkan gas beracun dari udara, dan kekuatan tersembunyi telah berhasil menyebarkan epidemi ini,” katanya.

Dokter lain di pusat, Yousra Sourai, mengatakan bahwa mereka mengalami kesulitan dalam mengatasi masuknya pasien yang di diagnosis menderita kolera. (Baca: Arab Saudi Lakukan Pembantaian Terbuka di Yaman)

“Kami menerima lebih dari 500 kasus di kompleks medis, Kami tidak tahu bagaimana kami bisa menerima kasus ini, dengan kekurangan obat-obatan, perawat dan dokter,” katanya. (SFA)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: