Fokus

Video Kick Andy: Perekat Indonesia

Sabtu, 24 September 2016,

SALAFYNEWS.COM, JAKARTA – Indonesia sebagai negara dengan keberagaman suku, agama, ras dan golongan sangat rentan terhadap perpecahan. Perbedaan SARA menjadi isu yang sangat mudah disulut untuk menciptakan konflik. Namun dengan dasar negara Pancasila yang dirumuskan oleh para pemimpin bangsa kita terdahulu segala perpecahan yang terjadi bisa ditangani. Tetapi apakah kita cukup bergantung kepada Pancasila saja?? (Baca: Indahnya Toleransi, Ada Panggilan Adzan di Tengah “Ave Maria”)

Dalam rangka Hari Perdamaian Internasional yang jatuh pada tanggal 21 September, Kick Andy menghadirkan tokoh-tokoh yang berperan aktif dalam menyatukan Indonesia. Mereka hadir dengan latar belakang yang berbeda namun berhasil memberi kontribusi positif untuk kesatuan Indonesia.

Adalah Yenny Wahid putri almarhum Gus Dur, yang membuka Kick Andy dengan hasil riset Wahid Foundation. Berdasarkan riset yang dilakukan tahun ini, Yenny menemukan bahwa ada peningkatan tingkat radikalisme dan intoleransi dalam masyarakat. Berbagai fakta unik dan menarik akan dipaparkan Yenny terkait hasil risetnya ini. (Baca: HTI, PKS, Wahabi Sebarkan Isu Anti Nasionalisme-Toleransi Untuk Hancurkan NKRI)

Kemudian dari Medan hadir sosok Sofyan Tan. Pria keturunan Tionghoa ini adalah anak dari seorang tukang jahit miskin yang kerap mendapat diskriminasi. Namun Sofyan tidak memendam benci atau dendam atas perlakuan diskriminasi tersebut. Justru sebaliknya, Sofyan ingin menghentikan diskriminansi tersebut dengan kasih melalui jalur pendidikan.  Ia pun menggagas berdirinya sekolah kebangsaan Iskandar Muda pada tahun 1987. Murid-murid di sekolah ini terdiri dari anak-anak Tionghoa, Melayu, Batak, India dan etnis lainnya. Ia percaya jika nilai-nilai kebaikan, saling menghargai dan toleransi diajarkan kepada anak-anak sejak dini, maka dunia ini akan damai.

Dari sisi timur Indonesia tepatnya dari Lombok, Kick Andy mengundang Subki Sasaki. Tokoh agama yang akrab disapa Tuan Guru atau Subki ini adalah pendiri Pondok Pesantren Nurul Madinah dengan jenjang pendidikan dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah kejuruan. Subki mendalami ilmu agama di Indonesia hingga Madrasayah Aliyah dan kemudian melanjutkan pendidikan agama Islam di Arab selama 8 tahun. Sebagai ulama, buah pikiran dan tindakan Subki kerap menjadi kontroversi. Hal ini disebabkan karena Subki kerap membela kaum minoritas seperti umat Hindu dan penganut Ahmadiyah di Lombok. Bagi Subki sendiri perbedaan keyakinan atau aliran bukanlah hal yang perlu dipertentangankan. (Baca: Fanatisme atau Toleransi: Pilihan Menjadi Indonesia)

Tokoh berikutnya yang juga hadir adalah Franz Magnis Suseno atau yang akrab disapa Romo Magnis. Romo Magnis dikenal sebagai tokoh agama dan budayawan dimana ia sangat vokal menyuarakan toleransi dan pluralisme. Menurut Romo Magnis, kebersamaan dalam keberagaman sangat perlu ditumbuhkan. Untuk mewujudkan kebersamaan itu, perlu ada komunikasi intensif antar-umat dari latar belakang agama, suku atau budaya yang berbeda. Ia juga menambahkan bahwa agama harus mengedepankan sikap positif dan terbuka terhadap perbedaan dan tidak boleh ramah terhadap kezaliman dan kejahatan. (SFA)

Sumber: KickAndy.com

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

SalafyNews Media Islam Terpercaya, Dan Anti HOAX

Media yang Menjelaskan Tentang Cinta Tanah Air dan Bangsa

Gabung di FP FB Salafy News

Copyright © SALAFY NEWS 2015

To Top
%d bloggers like this: