Headline News

Trump, Presiden AS Pertama yang Kunjungi Tembok Ratapan Yahudi

Selasa, 23 Mei 2017 – 18.37 Wib,

SALAFYNEWS.COM, TEL AVIV – Donald Trump telah membuat sejarah dengan menjadi presiden AS pertama yang mengunjungi Tembok Barat yang suci, dan berjanji untuk mencoba dan membawa perdamaian antara Israel dan Palestina.

Donald Trump mengenakan yarmulke tradisional (peci khas Yahudi) saat ia meletakkan tangan kanannya ke dinding, yang sangat suci bagi orang Yahudi, dan memejamkan mata. Kemudian, dia mengatakan bahwa ini adalah “kehormatan besar”.

Tapi saat Trump berpose untuk foto dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dia mengatakan bahwa kesepakatan damai antara kedua belah pihak dapat dia capai pada akhirnya, ada sedikit indikasi bahwa dia memiliki peta jalan untuk menangani bagaimana cara melangkah maju. Sebuah tantangan yang menjengkelkan pemerintah AS selama beberapa dekade.

“Saya berterima kasih kepada Perdana Menteri Israel atas komitmennya untuk mengupayakan proses perdamaian,” kata Trump kepada Netanyahu, yang berdiri di sampingnya dalam sebuah konferensi pers bersama di Yerusalem.

“Dia bekerja sangat keras – itu tidak mudah. Saya pernah mendengar itu adalah salah satu kesepakatan terberat dari semuanya. Tapi saya punya firasat bahwa kita akan sampai disana akhirnya. Saya harap demikian.”

Netanyahu menyingkirkan kontroversi mengenai dugaan bocornya dokumen intelijen sensitif dari Israel kepada Menteri Luar Negeri Rusia. Dia mengatakan kerjasama kedua negara sangatlah baik.

Penerbangan Trump ke Israel juga membuat sejarah. Laporan menunjukkan tidak ada pemimpin Amerika sebelumnya yang terbang langsung antara Riyadh-Tel Aviv.

Selain itu, Trump tidak perlu berbuat banyak di Israel agar Netanyahu menganggapnya sebagai perbaikan pendahulu taipan New York di Gedung Putih. Barack Obama dan Netanyahu memiliki hubungan pribadi yang dikatakan beracun, dan sebelum pelantikan Trump, hubungan antara pemimpin kedua negara mencapai tingkat terendah.

Netanyahu menganggap Iran sebagai ancaman regional yang paling mendesak, menentang kesepakatan nuklir yang disepakati dengan Teheran dan menerima undangan dari Partai Republik untuk mengecam kebijakan tersebut dalam sebuah pidato di depan Kongres AS.

Selama kampanye pemilihan, Trump telah berjanji akan memindahkan Kedutaan Besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem, sesuatu yang akan membawa perubahan kebijakan AS dalam beberapa dekade.

Kota ini diklaim sebagai ibukota oleh orang-orang Yahudi dan Palestina. Bagaimanapun juga, merelokasi kedutaan merupakan sebuah langkah yang akan memberlakukan Yerusalem sebagai wilayah Israel. Ini dengan tajam akan meningkatkan ketegangan. Pemerintahan Donald Trump pada minggu lalu membuat kejelasan bahwa rencana semacam itu haruslah ditunda.

Israel merebut Kota Tua tersebut, yang merupakan tempat penting bagi keagamaan Yahudi, Kristen dan Islam, bersamaan dengan Yerusalem timur dalam perang 1967. AS tidak pernah mengakui kedaulatan Israel atas wilayah yang diduduki pada tahun 1967, termasuk Yerusalem timur. Untuk alasan ini, pejabat AS bahkan menolak untuk mengatakan apakah Tembok Barat adalah bagian dari Israel atau tidak.

The Associated Press mengatakan bahwa Israel, yang menguasai Yerusalem barat, mengklaim bahwa seluruh kota sebagai ibukota abadi dan pekan ini merayakan ulang tahun ke 50 dari apa yang mereka sebut “penyatuan” kota tersebut.

Trump dijadwalkan bertemu dengan Presiden Palestina Mahmoud Abbas di kota Bethlehem, Tepi Barat, dan pemimpin Palestina tersebut mengatakan bahwa dia berharap pertemuan tersebut dapat “bermanfaat dan menghasilkan”. Di Jalur Gaza, puluhan warga Palestina berkumpul melawan Mr Trump dan membakar fotonya dan sebuah patung berbentuk dia. (SFA)

Sumber: Independent.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: