Headline News

Trump Bicara Teroris di Kerajaan Teroris Arab Saudi

Senin, 22 Mei 2017

SALAFYNEWS.COM, RIYADH – Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz sekutu penting Washington, telah mengulangi tuduhan bahwa Iran mengekspor gerakan Islam ekstremis ke seluruh dunia, disaat dokumen dan data intelijen membuktikan keterlibatan Riyadh dalam memberikan bantuan logistik, senjata, bom dan peralatan militer pada kelompok-kelompok teroris di Suriah dan Irak, serta laporan pelanggaran HAM di negara itu meningkat.

Raja Saudi mengklaim dalam sebuah pidato di televisi pada hari Minggu saat kunjungan Presiden AS Donald Trump ke kerajaan, bahwa pihak berwenang Iran mewakili “ujung tombak” terorisme global.

“Tanggung jawab kita di hadapan Tuhan dan rakyat kita serta seluruh dunia adalah untuk bersatu untuk melawan kekuatan jahat dan ekstremisme dimanapun mereka berada. Rezim Iran merupakan ujung tombak terorisme global,” klaim Raja Saudi tanpa memberikan data.

Di tempat lain dalam sambutannya, Raja Saudi mengatakan, “Kami tidak akan pernah bersikap lunak dalam menghadapi siapa saja yang mendanai terorisme, dengan cara apa pun, dengan kekuatan hukum.”

Tuduhan anti-Iran Raja Salman datang pada saat Arab Saudi dituduh mensponsori kelompok-kelompok teroris Takfiri seperti al-Qaeda dan ISIS di beberapa negara Timur Tengah.

Sejalan dengan Raja Salman, Presiden AS yang berkunjung ke Arab Saudi juga memberikan pidato yang ditujukan kepada Konferensi Tingkat Tinggi Liga Arab di Riyadh pada hari Minggu, di mana Trump meminta “isolasi” Iran secara internasional.

“Dari Libanon ke Irak, ke Yaman, Iran mendanai, menyuplai senjata, melatih teroris, milisi dan kelompok ekstremis lainnya yang menyebarkan kerusakan dan kekacauan di seluruh wilayah,” kata Trump, dan menambahkan, “Sampai rezim Iran bersedia menjadi mitra perdamaian, semua bangsa dengan hati nurani harus bekerja sama untuk mengisolasinya … dan berdoa untuk hari-hari ketika orang-orang Iran memiliki pemerintahan yang adil dan benar yang mereka layak dapatkannya.”

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif, dalam editorial untuk situs jaringan berita Al Araby Al-Jadeed yang berbasis di London pada hari Minggu, menyarankan Presiden Trump untuk membahas bagaimana menghindari serangan teroris 11 September yang lain dengan tuan rumah Saudi yang menjadi kunjungan resmi pertamanya ke luar negeri.

“Trump harus berdialog dengan mereka tentang cara mencegah teroris dan Takfiris yang terus memicu kebakaran di Timur Tengah dan mengulangi kejadian 11 September oleh sponsor mereka di negara-negara Barat,” tulis Zarif.

Trump sebelumnya mengatakan bahwa kerajaan Saudi mungkin berada di balik serangan 11 September, dan menyatakan, “Anda akan menemukan siapa yang benar-benar menjatuhkan World Trade Center, karena mereka memiliki surat kabar di luar sana yang sangat rahasia. Anda mungkin menganggapnya sebagai orang Saudi. Oke, tapi Anda akan tahu.”

Presiden AS, bagaimanapun, telah mengakhiri komentar tajamnya di depan umum tentang Riyadh, sekutu penting Washington, sejak pemilihannya.

Pada bulan April, Perdana Menteri Irak Haider al-Abadi mengatakan dalam sebuah wawancara dengan saluran televisi Al Mayadeen di Lebanon bahwa warga negaranya memiliki alasan kuat untuk percaya bahwa Arab Saudi adalah sponsor teror di negaranya. Dia juga menambahkan, “Banyak warga Saudi yang telah melakukan operasi teroris di Irak, dan setiap warga Irak memiliki hak untuk percaya bahwa Arab Saudi adalah pendukung terorisme.”

Ideologi radikal Wahabisme yang resmi disebarluaskan di Arab Saudi, yang dikenal karena kurangnya toleransi, membentuk pola pikir ISIS dan kelompok-kelompok teroris lainnya di seluruh dunia. ISIS sendiri telah merusak Irak sejak 2014.

Di sisi lain, rezim Saudi dan beberapa monarki Arab lainnya di kawasan Teluk Persia dituduh mendanai dan mempersenjatai militan anti-Damaskus, ISIS pada khususnya, yang telah terlibat dalam kekerasan mematikan di Suriah sejak tahun 2011.

Arab Saudi juga sangat marah dengan kemajuan yang dicapai oleh pasukan Suriah dalam melawan teroris Takfiri yang didukung oleh Riyadh.

Washington dan Riyadh sama-sama mengesampingkan upaya perundingan damai yang dipimpin oleh Iran, Rusia dan Turki yang bertujuan untuk mengakhiri krisis di Suriah.

Kejahatan Saudi juga bisa dimengerti karena pasukan pemerintah Irak dan pejuang dari Unit Mobilisasi Populer diharapkan dapat sepenuhnya membebaskan kota Mosul dan akan segera menendang teroris ISIS Takfiri keluar dari benteng terakhir kota mereka di Irak.

Selain itu, Riyadh berada di bawah tekanan kelompok hak asasi manusia untuk mengakhiri agresi brutal yang sedang berlangsung di Yaman, yang telah menewaskan lebih dari 12.000 orang, yang kebanyakan warga sipil, sejak dimulai pada Maret 2015.

Arab Saudi telah terus-menerus membombardir Yaman dalam upaya untuk mengembalikan kekuasaan mantan presiden Abd Rabbuh Mansur Hadi, yang telah mengundurkan diri dan merupakan sekutu setia Riyadh. Namun, Rezim Riyadh gagal mencapai tujuannya meski telah mengeluarkan banyak biaya.

Riyadh telah membeli senjata dari AS dengan nilai puluhan miliar dolar selama beberapa tahun terakhir untuk digunakan dalam perang Yaman.

Arab Saudi juga telah kehilangan pengaruhnya di Lebanon sejak partai politik Libanon mengumumkan keputusan mereka untuk membentuk pemerintah persatuan nasional dan memilih Michel Aoun sebagai presiden pada tahun lalu.

Dalam beberapa bulan terakhir, pejabat senior Saudi telah berjanji akan membentuk sebuah aliansi militer dengan Israel untuk melawan pengaruh Iran yang semakin meningkat di Timur Tengah. [Sfa]

Sumber: Southfront.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: