Artikel

Tomi Lebang: Skandal Facebook: Data yang Membelokkan Fakta

Facebook

Selasa, 27 Maret 2018 – 06.54 Wib,

SALAFYNEWS.COM, JAKARTATomi Lebang dalam akun facebooknya menulis sebuah artikel tentang skandal pembobolan data Facebook, berikut ulasannya:

Siapa artis yang mirip kamu? Siapa yang paling sering mengintip status kamu? Apa yang orang lain katakan tentang diri kamu? Siapa yang pernah jatuh cinta padamu?

Saya menduga, sebagian besar pengguna Facebook pernah mengikuti kuis yang wara-wiri di beranda ini. Klik, akan muncul jendela baru: Vonvon meminta kesediaan untuk mencocokkan data di Facebook, nama, tempat dan tanggal lahir, daftar teman, isi linimasa, foto-foto, riwayat pendidikan, minat di media sosial, bahkan alamat IP.

Baca: HEBOH! Skandal Cambridge Analytica, Politik Kotor dan Bobolnya Data Facebook

Lalu simsalabim, muncul jawaban yang jenaka. Wajahmu ternyata mirip Brad Pitt kalau kulitnya disamak, atau ternyata kalau rahangmu dibengkokkan sedikit, engkau bak pinang dibelah dua dengan Jennifer Lawrence. Dengan berbahagia, jawaban dari Vonvon itu kemudian engkau bagikan di beranda, tentu dengan tautan baru yang menggoda orang lain mengikuti.

Vonvon adalah situs dari Korea Selatan yang dibuat Kim Jonghwa, pemilik perusahaan internet Vonvon, Inc. pada tahun 2015. Dengan pertanyaan menggelitik, memanfaatkan ego dan narsisme pengguna Facebook, kuis Vonvon begitu populer sampai ke lebih 50 negara dengan puluhan variasi bahasa, dari bahasa Korea, Inggris, Latin, Spanyol, Portugis, sampai bahasa Indonesia.

Baca: Facebook Buka Suara Terkait Kebocoran Data Pengguna

Tapi, sodala-sodala, lu olang musti ati-ati. Ini bahaya.

Vonvon sesungguhnya menambang data pengguna media sosial: profil berikut minat, kecenderungan, ketidaksukaan, dan sebagainya. Ya, data. Lebih dua miliar pengguna Facebook di dunia, sekitar 120 juta di Indonesia, adalah pasar yang besar untuk semua dagangan di muka bumi: ya barang, jasa, terutama politik!

Dan Vonvon hanya satu contoh. Ada banyak perusahaan pengumpul data sejenis.

Hari Minggu 25 Maret kemarin, kaisar media sosial yang kaya-raya, Mark Zuckerberg, memasang iklan permohonan maaf di media-media besar di Inggris dan Amerika Serikat untuk skandal penggunaan data pengguna Facebook yang dilakukan perusahaan Cambridge Analytica. Data 50 juta akun Facebook yang bermukim di Amerika Serikat dimanfaatkan untuk kepentingan politik memenangkan Donald Trump dalam Pemilihan Presiden dua tahun lalu.

Baca: Membongkar Kebusukan Facebook

Cambridge Analytica (CA), perusahaan milik Steve Bannon, CEO tim kampanye Donald Trump dan miliarder Robert Mercer, yang bermarkas di London ini mengumpulkan data lewat aplikasi di Facebook bernama “This is Your Digital Life”. Aplikasi berkedok survei kepribadian ini dikembangkan oleh Aleksandr Kogan, seorang profesor dari Universitas Cambridge, yang menjadi mitra CA.

Sebagaimana Vonvon, aplikasi ini bisa memberikan akses khusus kepada data pengguna, termasuk jaringan dalam daftar teman. Karena itulah, kendati hanya 270.000 orang yang mengunduh “This is Your Digital Life”, sedikitnya 50 juta data yang terkumpul dalam tiga bulan: (sekali lagi) profil berikut minat, kecenderungan, ketidaksukaan, dan sebagainya.

Oleh tim kampanye Donald Trump data itu kemudian dimanfaatkan untuk merumuskan tema, bahasa, topik, dan sebagainya. Calon-calon pemilih di Pilpres Amerika Serikat 2016 ini dibombardir dengan berbagai isu -benar, setengah akurat, atau hoaks- yang ujungnya membuat mereka memilih sang raja kasino.

Skandal ini kemudian terungkap oleh Christopher Wylie, anak muda ahli pemrograman dan ilmu data yang pernah jadi kepala peneliti Cambridge Analytica. Skandal ini segera mengguncang dunia politik Amerika Serikat. Bos Facebook segera memasang iklan permintaan maaf satu halaman penuh di koran-koran Inggris The England Observer, The Sunday Times, Mail on Sunday, Sunday Mirror, Sunday Express, dan Sunday Telegraph, dan surat kabar Amerika seperti The New York Times, Washington Post, dan Wall Street Journal.

Skandal ini memunculkan gerakan menghapus akun Facebook dengan tagar #DeleteFacebook, yang segera diikuti banyak tokoh, di antaranya adalah Elon Musk, babon teknologi pemilik SpaceX dan Tesla.

Bagaimana dengan Indonesia? Waspadalah. Pada Pemilu 1999 salah satu partai besar di Indonesia pasca reformasi kabarnya sudah menjadi klien Cambridge Analytica. Seperti dilansir Vox pada 21 Maret 2018, perusahaan itu menggunakan kantor dengan set yang terinspirasi dari film Hollywood untuk mempropagandakan politisi yang didukungnya. Anda bisa menebak partai apakah itu?

CA memiliki banyak cabang dan kantor di seluruh dunia, dengan hanya 107 karyawan. Kliennya di dunia politik tersebar di Amerika, Afghanistan, Kenya, Italia, Meksiko, Brazil, Nepal, Somalia dan Malaysia. Bahkan oposisi Malaysia, Partai Pribumi Bersatu, telah menuntut penjelasan dari Perdana Menteri Najib Razak, tentang penggunaan jasa Cambridge Analytica untuk memanipulasi pemilih dalam pemilu terakhir di sana. Meski banyak dibantah, ada kabar bahwa keluarnya Inggris dari Uni Eropa juga karena keterlibatan Cambridge Analytica dalam kampanye Brexit dengan bombardir isu melalui jaringan data yang dimilikinya.

Mungkin ada yang bertanya, bagaimana cara mengolah tumpukan data pengguna media sosial itu menjadi kemenangan politik? Mudah. Dengan mengetahui profil, kecenderungan, ketidaksukaan, alamat, dan sebagainya dalam jumlah besar, tidak sulit bagi tim kampanye untuk menghipnotis pemilih dengan buaian pesan dan data — terutama kabar bohong.

Dalam kampanye pemilihan Presiden, kepada kelompok besar penyuka burung-burung -misalnya- maka pesan-pesan yang ditampilkan untuk mereka adalah bahwa Calon Presiden Anu adalah musuh burung-burung, anti binatang yang terbang, dan asal usulnya di hutan belantara tidak jelas. Hoaks dan segala kabar muslihat mudah menyebar dengan siasat ini — siasat para durjana. (SFA)

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Pemerintah Rusia Akan Tutup Aplikasi Facebook | SALAFY NEWS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: