Fokus

TEGAS, ITB Bekukan Organisasi Mahasiswa yang Berafiliasi dengan HTI

Bubarkan HTI

BANDUNG – Institut Teknologi Bandung (ITB) membekukan salah satu organisasi mahasiswa yang diduga berafiliasi dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang sebelumnya telah dibubarkan pemerintah. Wakil Rektor Bidang Akademi dan Kemahasiswaan ITB Prof Bermawi P Iskandar menjelaskan, pembekuan salah satu organisasi mahasiswa itu dilakukannya dua pekan lalu sebagai langkah terakhir setelah sebelumnya ITB memberikan teguran dan peringatan lantaran organisasi ini sempat beberapa kali mengundang tokoh-tokoh HTI dalam diskusinya. “Organisasi kemahasiswaan ini adalah HATI (Harmoni Amal dan Titian Ilmu).

Baca: BNPT: 7 Kampus Ternama di Indonesia Sarang Paham Radikal

Organisasi ini sebetulnya sudah dua tahun lalu kami berikan peringatan karena mengundang tokoh-tokoh HTI,” kata Bemawi di Gedung Rektorat ITB, Kota Bandung, Rabu (6/6/2018). “Diskusi di kampus dan itu kami tegur. Sudah dua kali mereka mengadakan diskusi itu. Hasil diskusi mereka posting di medsos dan memang ada kaitannya dengan aspirasi dari HTI itu sehingga kami mengingatkan mereka. Namun, tidak ada perubahan yang signifikan. Nah berapa minggu lalu kami bekukan itu organisasinya,” imbuhnya.

Bermawi menuturkan bahwa HTI diketahui kerap menggaungkan falsafah negara khilafah yang tidak sesuai dengan ideologi negara ini, yakni Pancasila. Adapun langkah pembekuan HATI dilakukan lantaran dikhawatirkan organisasi mahasiswa ini bisa membawa pemahaman buruk bagi mahasiswa lainnya. “Setiap pelanggaran ada sanksinya. Namun, tentu kami institusi pendidikan, sanksinya tentunya yang mendidik dan juga efek jeranya,” tuturnya. Menurut Bermawi, organisasi ini sendiri sudah eksis di ITB sejak lima tahun lalu. Dari 15.000 mahasiswa S-1 ITB, ada 59 orang yang menjadi anggota HATI. “Dari 59 orang, kalau mereka mengundang tokoh dari luar untuk diskusi itu yang hadiri hanya 6-14 orang,” ujarnya.

Baca: Kelompok Radikal “Rampok Kampus-kampus Sekuler” di Indonesia

Saat ini, pihaknya masih mencari informasi yang detail terkait pelanggaran tersebut. Tidak menutup kemungkinan organisasi ini bisa dibubarkan apabila ada indikasi yang dianggap membahayakan di institusi pendidikan. Namun, sementara ini, organisasi kemahasiswaan tersebut masih pada tataran diskusi. “Ya alhamdulillah tidak ada yang sifatnya merusak ya. Mereka pada tataran berdikusi, pemikiran. Jadi masih wacana. Kalaupun sistem negara khilafah ini masih wacana. Untuk itu, kami perlu meluruskan mereka,” tuturnya. Usia mahasiswa ini, lanjut Bermawi, relatif muda dan masih mencari jati diri, tidak lepas dari belajar satu aliran agama tertentu, studi sosial, dan lainnya. ITB sudah menekankan kepada mahasiswa sejak awal masuk untuk membuat komitmen, berjanji, bahwa mereka berkegiatan untuk menuntut ilmu serta mengikuti aturan yang ada di ITB. Adapun ketika berorganisasi pun harus berdasarkan empat pilar kebangsaan, yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika.

Apabila dalam berorganisasi kemahasiswaan di ITB tidak sejalan dengan empat pilar itu, pihaknya menilai organisasi tersebut melanggar ketentuan yang ada. “Nah kebetulan yang memang tidak sejalan dengan empat pilar kebangsaan kita Pancasila, UUD 1945, NKRI, Bhineka Tunggal Ika, ya ini, satu organisasi ini yang namanya HATI. Yang punya kedekatan dengan HTI. HTI kan udah dibubarkan. HTI ini ujung-ujungnya selalu menyampaikan syiarnya untuk membentuk apa yang disebut negara khilafah,” tutur Bermawi.

Baca: Denny Siregar: Perang Besar Jokowi Bersih-bersih Kampus dari HTI

Pihak kampus, lanjutnya, melakukan pendekatan persuasif terhadap mahasiswa sangat diperlukan. Mahasiswa dipandangnya sebagai amanah yang diberikan untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas. “Mereka ini generasi masa depan, kalau ada satu dua yang harus diluruskan kami luruskan. Ini kewajiban kami,” katanya. “Kami lakukan pendekatan persuasif. Kami tegur, kami ingatkan. Jadi seperti itu.

Kalau tidak bisa diingatkan tentunya nanti ada sanksi. Sebelum dia dipecat jadi mahasiswa tentunya ada tahapannya karena ini aset bangsa. Kalau masih bisa kita luruskan, kita luruskan,” imbuhnya. Bermawi menyebutkan, pernah ada salah satu mahasiswanya yang sempat viral karena mengikuti rapat HTI, mahasiswa S-2 ITB itu terang-terangan mendukung HTI. Namun, setelah menyebar luas, mahasiswa tersebut memahami kesalahannya dan meminta maaf. Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut ITB menjadi salah satu perguruan tinggi nasional yang diduga terpapar radikalisme.

Menanggapi hal tersebut, Bermawi mengatakan berterima kasih terhadap BNPT yang telah memberikan masukan terkait adanya organisasi mahasiswa tersebut. “HATI ini jadi pelajaran berharga buat ITB. Kami lebih berhati hati mengizinkan organisasi kemahasiswaan seperti HATI ini. Sebab, kegiatan diskusinya tidak konstruktif,” katanya. (SFA)

Sumber: Kompas

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: