Eropa

Tak Terima Putusan, Jenderal Bosnia Bunuh Diri Minum Racun Saat Sidang

Kamis, 30 November 2017 – 12.44 Wib,

SALAFYNEWS.COM, BELANDA – Ada yang menarik dalam sidang vonis Slobodan Praljak, penjahat perang Kroasia, di Kota Den Haag, Belanda, Rabu (29/11). Saat Carmel Agius, pemimpin Mahkamah Kriminal Internasional bekas Yugoslavia (ICTY), membacakan putusan banding, mantan komandan pasukan Bosnia-Kroasia itu menenggak racun.

Baca: Wahabi dan Kelompok Radikal Ancam Stabilitas Bosnia

Jenderal perang Bosnia Kroasia, Slobodan Praljak, telah melakukan bunuh diri dengan minum racun, setelah sebuah pengadilan Perserikatan Bangsa-Bangsa di Den Haag menguatkan sebuah vonis yang telah dijatuhkan atas dirinya terkait atas kejahatan perang yang dilakukannya terhadap orang-orang Muslim Bosnia.

Mantan jenderal berusia 72 tahun tersebut secara mengejutkan mengatakan kepada hakim di Pengadilan Pidana Internasional bekas Yugoslavia (ICTY) pada hari Rabu bahwa dia “minum racun” setelah mereka menolak permohonan banding atas vonis hukuman 20 tahun yang ditimpakan padanya.

“Saya baru saja minum racun, saya bukan penjahat perang, saya menentang keyakinan ini,” katanya setelah menenggak habis cairan dari botol kecil di hadapan sorotan penuh kamera.

Baca: Industri Pembunuhan di Timur Tengah oleh Eropa

Seorang pengacara yang berada di ruang sidang pada waktu itu mengatakan bahwa Praljak kemudian kembali duduk dan merosot dari kursinya dan seketika para petugas pengadilan mengelilinginya.

Carmel Agius, hakim ketua yang menjatuhkan hukuman Praljak, menangguhkan pengadilan dan mengizinkan paramedis membawanya ke rumah sakit. Dia dinyatakan meninggal setelah satu jam.

Pejabat PBB mengkonfirmasi kematian mantan jenderal tersebut setelah dilaporkan oleh media Kroasia. Polisi Belanda mendeklarasikan ruang sidang sebagai TKP.

Baca: Perancis Tutup 4 Masjid Salafi yang Sebarkan Ideologi Radikali

Praljak termasuk di antara enam mantan pejabat Serbia Bosnia dan pejabat militer yang terkait dengan perang pemerintahan Kroasia di masa Presiden Franjo Tudjman yang diadili di ICTY sebelum putusan akhir pengadilan. Didirikan oleh PBB pada tahun 1993, ICTY akan ditutup setelah mandatnya berakhir bulan depan. (SFA)

Sumber: Berbagai Media

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: