Headline News

Tak Hanya Pangeran, Pihak Berwenang Saudi Tahan Putri Alwaleed bin Talal

Jum’at, 10 November 2017 – 07.01 Wib,

SALAFYNEWS.COM, RIYADH – Pihak berwenang Saudi telah menangkap anak perempuan Pangeran al-Waleed bin Talal bin Abdulaziz, sebagai bagian dari kampanye anti-korupsi, yang dianggap sebagai pembersihan terbesar elit dalam sejarah modern kerajaan tersebut.

Baca: New York Times: Rakyat Saudi Berhemat, Sang Raja Hidup Berfoya-foya

Sumber informasi, yang meminta namanya dirahasiakan, mengatakan kepada surat kabar Arabi 21 berbahasa Arab bahwa pihak berwenang Saudi telah menahan Putri Reem pada hari Kamis. Penangkapannya menandai yang pertama dari putri keluarga kerajaan Saudi.

Puluhan pangeran, menteri dan mantan menteri ditahan pada hari Sabtu atas perintah Komite Anti-Korupsi Arab Saudi yang dipimpin oleh Putra Mahkota Mohammad bin Salman, dalam sebuah tindakan keras, yang diyakini secara luas bertujuan untuk mengkonsolidasikan kekuasaannya.

Baca: Mohammed bin Salman Semakin ‘Menggila’ di Kerajaan Arab Saudi

Orang-orang yang ditahan menghadapi tuduhan pencucian uang, penyuapan, pemerasan dan penyalahgunaan dana publik untuk keuntungan pribadi.

Baca: Operasi Sapu Bersih Akibat Tamak Kekuasaan Mohammed Bin Salman

Pangeran al-Waleed bin Talal bin Abdulaziz, kepala perusahaan investasi Kingdom Holding Company, Nasser bin Aqeel al-Tayyar, pendiri Al Tayyar Travel Group, dan Amr al-Dabbagh, ketua pembangun Red Sea International, adalah salah satu dari eksekutif bisnis teratas yang ditahan saat pembersihan.

Analis politik mengatakan Raja Salman berencana untuk menyerahkan kekuasaan pada anaknya yang sedang mengejar kampanye promosi dirinya di bawah penanganan korupsi tingkat tinggi.

Para pakar percaya bahwa penargetan elit yang sudah lama ada di Arab Saudi mewakili pergeseran dari peraturan keluarga ke gaya pemerintahan otoriter yang lebih berdasarkan pada satu orang laki-laki.

Riyadh telah mengambil kebijakan yang lebih agresif sejak promosi Bin Salman ke posisi menteri pertahanan dan wakil putra mahkota pada tahun 2015, kemudian menduduki posisi pangeran mahkota.

Baca: New York Times Ungkap Rencana Pangeran Mohammad bin Salman Kuasai Kerajaan

Kerajaan saat ini sedang berjuang dengan merosotnya harga minyak karena rezim Al Saud juga menghadapi kritik atas operasi militernya yang mematikan melawan Yaman, yang diluncurkan pada bulan Maret 2015.

Banyak yang melihat kebijakan Riyadh sebagai penyebab utama krisis yang terjadi di kawasan ini, terutama di Suriah dan Irak. (SFA)

Sumber: Arabi21

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: