Fokus

Tajuddin Noer: Sajak Cinta Pada Negeri

Jum’at, 05 Mei 2017 – 06.31 Wib,

SALAFYNEWS.COM, JAKARTA – Tuhan, izinkan aku belajar mencintai tanpa syarat, sebab aku tahu untuk mencintai-Mu, tidaklah mungkin tanpa belajar mencintai pada hal-hal yang dianggap sepele. Mustahil tumbuh cintaku kepada-Mu kalau aku masih melihat realitas cinta hanya pada sesuatu dengan syarat. (Baca: Dai Wahabi Hina TNI-Polisi dan Sebut NKRI Negara Kafir Republik Indonesia)

Tuhan, kepada Laut aku membungkuk sebagai penghormatan dan cintaku kepada alam, karena aku tahu dan sadar bahwa misteri dibalik keindahan laut, ada engkau yang bersemayam. Kepada gunung aku berdiri hormat karena aku tahu dan sadar bahwa di balik misteri gunung ada engkau yang bersemayam.

Kepada langit, bintang, matahari aku terkesimak karena aku tahu dan sadar bahwa dibalik semua ini ada engkau. Menuju cintamu aku belajar mencintai orang tua, anak-anak, istri dan siapapun itu, aku belajar mencintai mereka karena aku tahu dan sadar pada tahapan inilah aku akan beranjak menuju cintamu. (Baca: Emha: Ada yang Ingin Melihat Islam-Indonesia Berbenturan)

Tuhan, aku belajar mencintai kepada siapa saja karena pada namamu saja engkau mengajarkan cinta, rahim dan rahim. Kalau pada namamu saja, engkau lumuri dengan cinta maka bagaimana cinta yang ada pada sifat-Mu. Kalau pada nama dan sifatmu penuh dengan cinta maka bagaimana dengan zat-Mu yang tidak terjangkau dengan apapun.

Tuhan, aku menghormati bendera bangsaku sebagai perhikmatan terhadap Negaraku karena aku tahu kedamaian itu harus ditebus dengan kecintaanku pada negeriku, kepada bangsaku. Disaat orang ramai-ramai ingin menggoyahkanmu dengan berbagai dalil cocoklogi aku akan tetap berdiri tegak menyanyikan lagu kebangsaanku, Indonesia raya, karena disinilah beta dilahirkan maka wajib bagiku untuk membela bangsaku sebagai tanda bahwa aku sangat mencintai keragaman tanpa syarat.

Tuhan, aku mencintai TNI/POLRI sebagai pilar terakhir dalam menjaga NKRI karena mereka akan setia sampai akhir dalam menjaga Indonesia Raya hingga titik darah terakhir, biarkan kami mencitai Negeri ini apa adanya, mencintai Ideologi Pancasila dan UUD 1945 karena dengan falsafah itu bangsa ini berdiri tegak menjulang tinggi keangkasa.

Tuhan, aku mencintai pulau-pulau, sungai-sungai, laut dan gunung-gunung bangsaku karena disanalah aku berdiri sebagai anak bangsa yang menjujung tinggi harkat dan martabat bangsaku. (Baca: Pancasila Buah Karya Para Pahlawan Islam yang Cinta NKRI)

Tuhan, aku mencintai pemimpinku sebagai hasil dari proses yang penuh suka-duka meski kadang-kadang aku seperti menelan pil pahit. Tetapi aku tahu dan sadar bahwa jalan ini harus ditempuh sebagai jalan menuju kejayaan bangsaku.

Tuhan, aku juga mencintai sesama elemen bangsa, seluruh suku, budaya dan seni, meski kadang-kadang harus ditempuh dengan mengelus dada karena sebahagian masih harus memilih menghinakan yang lain. Tetapi aku yakin pada akhirnya kita semua harus belajar menghargai pada sejarah bangsa ini yang lahir dari tetes keringat dan darah para Pahlawan bangsa ini.

Tuhan, mereka anak-anak Negeri yang berlari acak, menabrak tata krama, adat istiadat bahkan agama berjalan diatas nafsu arahan ideologi pemangsa. Mereka lupa akar budaya bangsanya, padahal akar budaya ini terlalu indah, bukan hanya untuk dikenang tetapi di lestarikan untuk selamanya karena itulah harga kedamaian.

Tuhan, sungguh celaka bagi mereka yang ingin menukar kedamaian dengan makar. Biarlah sangsaka merah-putih tetap berkibar, biarlah Indonesia raya menggema diseluruh pelosok negeri, biarlah Garuda Pancasila menjadi simbol keragaman dan kemajemukan untuk Negeri yang tercinta ini.

Tuhan, lihatlah mereka yang sering murka atas nama agama dan kelompok, mereka mendefinisikan diri sebagai pemangku kebenaran tetapi mendedahkan sumpah-serapah, mengejek, menghardik, menfonis bahwa apa yang menjadi keyakinan mereka adalah final. Tuhan, ampunkan kami yang latah ini, bahkan anak dan istri atau suami serta orang tua, tetangga saja tidak sanggup kami bilasi dengan cinta. (Baca: HTI, PKS, Wahabi Sebarkan Isu Anti Nasionalisme-Toleransi Untuk Hancurkan NKRI)

Tuhan, sungguh jika kekuasaan yang menjadi tujuan kami, bukan kedamaian dan cinta, akan kami saksikan betapa kami hanya manusia yang berbalut nafsu tetapi jika kami menebarkan kedamaian dan cinta engkau akan menyaksikan betapa nilai-nilai risalah akan tegak di negeri ini. (SFA)

Sumber: Akun Facebook Tajuddin Noer

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: