Headline News

Suriah Hancur Karena Isu Agama Dibenturkan dengan Pemerintah dan Kebhinekaan

Minggu, 04 Desember 2016,

SALAFYNEWS.COM, JAKARTAHelmi Aditya dalam akun Facebooknya menulis tentang bagaimana negara Suriah yang toleran dan berbihineka bisa hancur lebur karena isu agama dibenturkan dengan pemerintah dan kebhinekaan. Berikut tulisannya: (Baca: Denny Siregar: Konflik Suriah di Indonesia)

Suriah Hancur Karena Kelompok Radikal Benturkan Isu Agama dengan Pemerintah

Banyak orang yang meremehkan apa yang terjadi di Aleppo, karena tidak terhubung langsung dengan kita di sini.

Sedikit wajar, mengingat jarak antara Timur Tengah dan kita yang lumayan jauh. Namun ada beberapa hal penting yang kadang terlepas dari benak kita yang kelewat ‘rasional’, yang membuat kita terlalu percaya diri.

Ideologi, adalah sesuatu yang hampir mustahil dilacak. Setiap dari kita bisa dengan mudah menampilkan sesuatu yang bertolak-belakang dengan apa yang kita yakini.

Pembentukan pola pikir, terutama dari kurikulum pendidikan dan media yang tak berimbang, merupakan peperangan maha dahsyat saat ini. Bagi yang beruntung untuk bisa memahami berita, tentu ini tak jadi masalah. Bagaimana dengan selainnya, yang seringkali terputus dari akses pemberitaan alternatif? (Baca: Fakta Media Radikal Pro Teroris Hancurkan Islam dan NKRI)

Penyebaran senjata secara fisik dalam rangka chaos dan terorisme, bukanlah sesuatu yang sulit. Jika pola-sikap masyarakat sudah terbentuk dan cenderung reaktif, maka kebocoran-kebocoran dalam jalur pengamanan negara adalah hal yang tak terelakkan.

Apakah Anda mengira semua aparat keamanan di negeri ini memperolah informasi yang sama, berimbang dan memiliki pemahaman yang baik?

Satu-satunya hal yang mengikat mereka saat ini hanyalah rantai komando dan rasa nasionalisme. Jika agama sudah mulai dibenturkan terus-menerus dengan negara, tak mungkinkah ikatan ini pecah? Memaksa mereka untuk memilih agama atau negara adalah strategi yang sama ditelurkan AS – NATO saat konflik Syria meletus. Dan kita sudah tahu akhirnya.

Ada yang mengecilkan hal ini dengan beranggapan, bahwa nilai Bhinneka dan toleransi yang kita usung bisa mengatasi hal-hal semacam ini. Bahwa nasionalisme yang kita miliki, lebih dari cukup untuk menghadapi badai teror. (Baca: Inilah Slogan Pembodohan HTI-Kelompok Khilafah yang Ingin Hancurkan NKRI)

Saya cuma ingin ceritakan satu hal.

2010 lalu, Syria tak kalah ber-bhinneka-nya dengan kita. Ada enam agama besar yang berkembang di Syria; Islam, Kristen, Yahudi, Druze, Hindu dan aliran-aliran kepercayaan.

Dari Islam sendiri, 74% adalah Sunni, 13% adalah Syiah – termasuk 8% Alawi, 3% 12-Imam, dan 1% Ismaili. Bahkan pemeluk Yahudi pun terbagi dua, antara Yahudi Syria dan Yahudi Israel.

Hasilnya, Syria sebelum konflik adalah negara paling damai dan sekuler di Timur Tengah. Dan ini tercermin dalam kestabilan negara, yang membawa Syria menjadi negara tanpa hutang luar negeri di kala itu.

Soal toleransi, kita juga tak perlu jumawa. Syria telah menjadi rumah bagi lebih dari 700.000 pengungsi Palestina. Silakan bedah soal ini dengan timbunan informasi di internet, bagaimana Syria menjadikan pengungsi Palestina seperti warganya sendiri, lengkap dengan hak untuk bekerja di pemerintahan, beasiswa universitas dan lain sebagainya. (Baca: Denny Siregar: Pakde Jokowi Kembalikan Islam Nusantara)

Siapkah kita memberi pengungsi Rohingya apa yang diberikan Syria?

Perlu dicatat, Syria melakukan itu semua sembari menahan rongrongan dan teror lawan sekelas Israel di Golan, mendukung persenjataan Hezbollah di Lebanon, sekaligus Hamas di Gaza.

Disinilah isu agama menjadi sentimen yang mematikan, terutama jika terus dipupuk oleh kebohongan dan agitasi tak berdasar. Pergerakan provokator dengan jubah agama ini tergolong sulit dilacak, dan melalui propaganda yang sistematis, mereka mampu menyulap elemen-elemen warga yang nasionalis, menjadi ekstrimis.

Upaya-upaya dan pembenaran atas paham ethnic-cleansing dan penyucian populasi atas nama agama ini secara tak terdeteksi mulai tertancap di benak teman-teman kita, saudara-saudara kita, tetangga-tetangga kita. (Baca: WASPADALAH.. Pengajian ‘Setan’ Kelompok Khilafah HTI dan Wahabi)

Ketika benak masyarakat berhasil dikondisikan sebagai ‘korban’, seperti sesaat sebelum konflik Syria pecah di Deraa, digabung dengan pemberitaan yang manipulatif dan elemen masyarakat yang mudah ‘terbakar’, maka tahap selanjutnya akan mengalir dengan sangat mudah.

Jadi apa lagi yang membuat Aleppo terasa begitu jauh bagimu? Bukankah sumber daya alam yang kita miliki jauh lebih besar dari Syria? Bukankah letak geografis kita yang terlampau strategis bisa menjadi bencana, jika kita tak berjaga?. (SFA)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: