Fokus

Surat Denny Siregar Kepada Iwan Fals

Selasa, 06 Desember 2016,

SALAFYNEWS.COM, JAKARTA – Pelantun tembang Bento, Iwan Fals saat ini diserang oleh netizen, mereka tidak suka ketika Iwan Fals mendukung pemerintah, namun kenyataannya para netizen ini juga tidak mempunyai kedewasaan berpolitik dan berdemokrasi secara baik.

Tokoh media sosial Denny Siregar membuat sebuah tulisan yang sepertinya ditujukan kepada Bang Iwan Fals dengan judul “Negari Cabe-cabean”, berikut tulisannya: (Baca: Denny Siregar: Pakde Jokowi Kembalikan Islam Nusantara)

Saya kasihan dengan Iwan Fals. Ia dihujat dimana-mana hanya karena berdiri disamping pemerintahan sekarang. Menurut mereka, Iwan Fals munafik karena dulu lagunya selalu menyindir penguasa tetapi sekarang malah berteman dengannya.

Ada kesalahan berfikir sebagian orang bahwa penguasa -atau bisa disamakan dengan mereka yang sekarang memerintah- adalah mereka yang harus selalu disalahkan. Berada pada sisi berseberangan adalah sesuatu membanggakan. Kita harus selalu kontra terhadap yang namanya penguasa. (Baca: Denny Siregar: Geger Politik Indonesia dan Aksi Terorisme)

Benarkah begitu?

Ternyata tidak juga. Sesudah saya amati pelan-pelan ternyata yang mencibir Iwan Fals adalah mereka yang tidak memilih Jokowi, tetapi menyukai “seseorang yang tidak boleh disebut namanya”. Jadi ini masalahnya bukan penguasa atau tidak, tetapi Jokowi atau bukan.

Iwan Fals yang menentukan pilihannya dan tidak sesuai dengan pilihan mereka, tentu harus dicibir. Dianggap munafik, pencitraan, tidak sesuai lagi antara syairnya yang dulu dgn apa yang dilakukannya sekarang. Seolah-olah semua orang harus sesuai dengan apa yang disukainya, kalau tidak bisa keluar tudingan macam-macam. Bahkan ada yang menghubungkan bahwa kontra dengan penguasa adalah sebuah kewajiban. Ini juga aneh. Sepertinya penguasa itu tidak ada yang betul dan semua penguasa patut dicurigai.

Padahal di dalam Islam -menurut sejarahnya- tunduk pada khalifah yang berlaku saat itu adalah kewajiban. Lalu apakah mereka yang berpandangan bahwa penguasa selalu salah juga menyalahkan khalifah Abubakar. Umar, Utsman dan Ali bin Abi Thalib? Kacau logika berfikirnya saking tidak sukanya pada Jokowi. (Baca: Pengamat UGM: Ada Blok Elite Politik Lemahkan Kekuasaan Pemerintahan Jokowi-JK)

Iwan Fals tentu harus bersuara keras jika pemerintahan tidak berada di jalurnya. Tetapi ketika penguasa itu ingin menjadikan negara ini lebih baik, kenapa harus selalu diserang dan bukannya didukung?.

Ah, manusia itu memang sulit ditebak kemana akalnya bergerak. Ini masa dimana berbeda pandangan adalah sesuatu yang salah. Bahkan membela Ahok dianggap memusuhi Islam. Perbedaan pandangan ini sempat membuat beberapa teman ditendang keluar dari WA grup karena dianggap terlalu membela Ahok. Padahal, para admin tidak sadar bahwa mereka juga terlalu memusuhi Ahok.

Beda pandangan politik itu wajar dan harus dibiasakan. Kuping tidak perlu tipis dan hati harus terus dikompres pake es supaya tetap dingin. Belajar dewasa ketika berbeda, jangan seperti anak kecil yang maen kubu-kubuan. (Baca: Kelompok dan Media Radikal Tarik Jokowi Dalam Kemelut Kasus Ahok)

Seperti saya suka kopi tapi saya menghargai mereka peminum teh dan susu. Menjagokan masing-masing pilihan itu wajar, ejek-ejekan pilihan itu juga biasa. Yang tidak wajar dan tidak biasa adalah kalau ngejek paling keras, disentil dikit meradang.

Kalau disentil dikit meradang, saya suka ingin bertanya, “Maaf mas, itu hati apa bisul matang?”. Seruput dulu ahhh. (SFA)

Sumber: DennySiregar.com

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: