Nasional

Sentilan Pedas Eko Kuntadhi Kepada Sang Mantan “SBY”

Jum’at, 20 Januari 2017 – 20.15 Wib,

SALAFYNEWS.COM, JAKARTA – Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengeluarkan cuitannya di Twitter:

“Ya Allah, Tuhan YME. Negara kok jadi begini. Juru fitnah & penyebar “hoax” berkuasa dan merajalela. Kapan rakyat dan yang lemah menang? *SBY*” kicau SBY dalam akun twitternya, Jumat (20/1). Tanda *SBY* merupakan pernyataan jika cuitan itu ditulis sendiri oleh SBY.

Cuitan SBY

Serentak media dan tokoh media sosial menjawab cuitannya, salah satunya adalah akun Twitter @goenawan mohammad, Dgn hormat, fitnah dan hoax itu sudah menggila di pilpres 2014, terutama thd @jokowi. Lewat “Obor Rakyat”. Bisa cek ke Andi Arif. Tksh.

Dan tak lupa pula salah satu tokoh media sosial Eko Kuntadhi keluarkan sentilan pedasnya untuk menjawab sang Mantan “SBY”, berikut tulisannya: (Baca: Prahara ‘Hitam’ Politik! Terdakwa Kasus Obor Rakyat Minta Maaf kepada Jokowi)

PRESIDEN BEKAS

”Ketika Soeharto jatuh, digantikan Habibie, dia memilih bertapa di rumahnya. Seolah dia lepas dari hinggar bingar politik dan sibuk menghabiskan hari tuanya. Tidak terdengar satupun statemen yang mengkritik pemerintahan Habibie.

Begitupun saat laporan pertanggungjawabannya di tolak MPR, dan Habibie gagal maju lagi menjadi Presiden. Lelaki ahi pesawat terbang itu, memilih menjadi pandito. Tidak pernah terdengar omongan Habibie yang bernada menyerang pemerintahan Presiden Gus Dur. Padahal waktu itu poitik memang tidak berpihak kepadanya. Tapi toh, Habibie ikhlas. (Baca: Apakah Jokowi Masih Perlu Menemui SBY?)

Lalu Gus Dur dijatuhkan di tengah jalan, Megawati naik ke puncak pemerintahan. Adakah Gus Dur ngambek? Gak juga. Bagi Gus Dur tidak ada kekuasaan yang pantas dipertahankan dengan pertumpahan darah. Makanya Gus Dur menghalangi pengikutnya yang mau menggeruduk Jakarta. Dia rela melepaskan kursi kekuasaan ketimbang melihat Indonesia harus berdarah-darah. (Baca: Denny Siregar: Gaya Politik Usang Amien Rais)

Diakhir periode Megawati, sistem pemilu Indonesia berubah. Kali ini rakyat berhak memilih langsung Presidennya. SBY tampil menjadi kandidat dan mendapat suara rakyat. Megawati harus tersingkir. Ketua DPIP itu secara pribadi tidak melakukan serangan terbuka kepada pemerintahan.

PDIP memang memposisikan diri sebagai partai oposisi. Tapi fungsi itu lebih banyak diambil oleh kader-kader PDIP di parlemen. Sementara Megawati sendiri lebih fokus membangun kekuatan partai.

Itulah etika seorang bekas Presiden. Sebab sesungguhnya apa yang terjadi pada pemerintahan setelahnya adalah kelanjutan hasil kerja dari pemerintahan sebelumnya. Alangkah anehnya jika bekas Presiden ikut cerewet dengan pemerintahan yang sekarang.

Rakyat mesti bertemikakasih pada orang-orang besar itu, yang berjiwa besar dan tidak ngambekan. Perganian, kekuasaan, meskipun didahului dengan gonjang ganjing politik, tetapi selalu berlangsung mulus. Orang yang pernah duduk di kursi Presidenpun seolah bersikap tut wuri handayani, mendorong dari belakang. (Baca: Surat Terbuka Yusuf Muhammad Kepada “Badut Politik” Amien Rais)

Sikap ini menjadi semacam etika umum. Lihat saja Clinton yang diam ketika George W. Bush berkuasa. Atau Bush yang juga tidak lagi sibuk cawe-cawe ketika Obama duduk di Gedung Putih. Meskipun kebijakan Obama banyak yang berlaanan dengan kebijakan Bush dulu.

Sementara kini, kita melihat ada seorang mantan Presiden yang baperan. Mungkin juga bisa masuk kategori cerewet. Apalagi ketika anaknya sekarang sedang ikut bertanding dalam Pilkada DKI Jakarta. Dia gemar mengungkapkan perasaannya lewat medsos layaknya anak alay.

Suasana baper itu semakin terasa, biasanya ketika Presiden yang sekarang mengundang orang-orang besar untuk bertukar fikiran tentang kondisi Indonesia. Waktu Jokowi bertemu Prabowo dan fotonya di atas kuda beredar, dia nyinyir memperkenalkan istilah lebaran kuda. Kini saat Jokowi mengundang Habibie dan Tri Sutrisno, dia kembali baper. Kali ini dia mengeluh pada Tuhan via twiter, seolah akun miliknya sudah difollow Tuhan.

Kita jadi tahu, ada bekas presiden, ada juga presiden bekas. Bekas Presiden biasanya mampu bersikap kalem. Berbeda dengan Presiden bekas : sikapnya selalu baperan. (SFA)

Sumber: www.EkoKuntadhi.com

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: SBY: Ada Pihak yang Menghalangi Ketemu Jokowi, Ini Jawaban Istana | SALAFY NEWS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: