Fokus

Saudi Lebih Pedulikan Terorisme daripada Pengungsi

Senin, 27 Februari 2017 – 17.30 Wib,

SALAFYNEWS.COM, RIYADH – Tidak ada lagi yang meragukan mengenai dukungan Arab Saudi bagi kelompok-kelompok bersenjata yang bertempur di Suriah dengan berbagai nama penyebutannya, dan sebagian besar kelompok itu berpaham Wahabi Takfiri. Sejak awal krisis Suriah, Saudi telah membuka dukungan dengan menggelontorkan jutaan dolar dan peralatan militer, serta memudahkan kedatangan para pejuang dari seluruh dunia ke dalam wilayah Suriah untuk menggulingkan Assad dengan slogan “revolusi,” yang dengan cepat kedok palsu tersebut terbongkar dan seluruh dunia tahu bahwa perang yang sedang berlangsung adalah perang yang didominasi kelompok Takfiri, diantaranya adalah “Jabhat al-Nusra  dan ISIS. (Baca: Ideologi Takfirisme Arab Saudi Pelopor Terorisme Internasional)

Sebagai hasil dari dukungan Saudi, baik berupa finansial hingga ideologi, terpecahlah perang Suriah yang dampaknya mulai muncul dengan cepat pada tingkat sosial, dimana warga Suriah mulai meninggalkan rumah dan daerah. Dikarenakan kejahatan kelompok-kelompok teroris dan berubahnya sistem kehidupan di daerah yang dikuasai teroris, di mana ide dan hukum dilaksanakan sesuai dengan ajaran Wahabisme. Inilah yang membuat masyarakat melarikan diri, karena mereka menganggap hukum dan sistem yang diberlakukan seakan-akan membawa mereka ke dalam neraka, bahkan siapapun yang berpikir mendirikan kebebasan politik dan revolusi serta mengelukan tentang Suriah di masa lau, lebih utama dari pada hidup di bawah kekuasaan teroris berduit Saudi.

Dukungan Saudi untuk terorisme atau pengungsi?

Semua yang terjadi telah membuat warga Suriah melarikan diri ke negara-negara di sekitarnya, baik itu Lebanon, Yordania, Irak, Turki bahkan memulai perjalanan berbahaya Laut Mediterania menuju ke Eropa, dengan menghadapi risiko tenggelamnya kapal hingga kematian. Adapun ke Turki cukup dengan jalan kaki dengan membawa apa pun yang bisa membuat mereka hidup dari penindasan dan penderitaan demi menuju hidup yang lebih baik dari pada hidup di bawah naungan kelompok teroris dengan pembakaran atau pemenggalan kepala yang dijadikan asas pidana mereka. (Baca: WASPADA! Inilah Ciri Manusia yang Terjangkit Wabah Takfirisme, Radikalisme, Ekstrimisme)

Dari semua itu yang patut dipertanyakan apakah negara-negara Teluk menerima para pengungsi ini? Apakah Arab Saudi sebagai pembawa panji perang di Suriah pernah menjadi tuan rumah bagi salah satu orang-orang yang terlantar ini? Mengapa cinta Arab Saudi untuk warga Suriah hanya dalam mendorong mereka untuk hidup di bawah kelompok teroris, atau mendorong mereka untuk menghancurkan tanah air mereka sendiri dan membumi hanguskannya? Mengapa Saudi hanya memberi bantuan keuangan kepada para teroris? Mengapa Saudi tidak membuka rute udaranya menuju Riyadh atau kota-kota lainnya untuk menerima para pengungsi Suriah dari berbagai daerah? Bukankah Raja Saudi yang telah menggembosi dan menyalakan api perang di Suriah? Dimanakah Liga Arab terhadap apa yang terjadi di Suriah, terutama masalah pengungsi? Dan mengapa negara-negara Teluk seperti Arab Saudi dan Qatar, tidak membuka perbatasannya untuk menerima para pengungsi? (Baca: AlJazeera Media Wahabi yang Sebarkan Propaganda Teroris)

Faktanya adalah bahwa negara-negara Arab yang lebih berhak untuk menanggung rakyat Suriah, sebagaimana pepatah mengatakan “saudara terdekat lebih utama dari orang yang baru dikenal”. Inilah yang sudah dilakukan oleh Lebanon, Irak, Yordania, dan ini juga yang telah dilakukan negara tetangga Turki, meskipun negara itu juga terlibat dalam krisis Suriah. Turki juga  merasa bertanggung jawab atas krisis Suriah karena hanya ingin cari muka saja di hadapan bangsa Eropa. Yang patut disayangkan bahwa Arab Saudi bersama dengan Qatar tidak mau memikul tanggung jawabnya atas yang sudah dilakukannya di Suriah, bahkan kedua negara inilah yang sudah memercikkan api peperangan di Suriah. Dengan mengacu pada keuangan dan letak geografis, memungkinkan bagi Saudi untuk memainkan peran sebagai pengayom untuk setiap pengungsi, dengan luas daerah di Arab Saudi yang sangat memungkinkan untuk dapat mendirikan kamp-kamp atau bahkan sebuah kota sebagai hasil dari kemampuan finansialnya. (SFA)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: