Fokus

Sandiwara Media Kerajaan Arab Saudi Terkait Trump, Yerusalem dan Iran

Selasa, 19 Desember 2017 – 08.09 Wib,

SALAFYNEWS.COM, RIYADH – Inilah salah satu bukti bahwa Arab Saudi budak Amerika dan Israel. Pihak Kerajaan Saudi telah memerintahkan seluruh media di wilayahnya untuk tidak terlalu fokus “memperhatikan” keputusan kontroversial Washington mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel, kata beberapa sumber.

Baca: Pernyataan Dewan Agung Ulama Saudi Tentang Yerusalem Tanpa Sebut Nama Trump

Pengadilan kerajaan Saudi mengirim sebuah “peringatan keras” kepada bos surat kabar dan stasiun televisi serta radio minggu ini mengenai masalah yang telah memicu protes di seluruh dunia Arab, sejumlah sumber mengatakan kepada The New Arab pada hari Kamis. Berbicara dengan syarat anonim, mereka menambahkan bahwa perintah tersebut memerintahkan media untuk sebaliknya “membidik Iran dan negara-negara regional lainnya” dalam liputannya.

Presiden AS Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel pada hari Rabu dalam sebuah langkah yang telah membuat orang-orang Palestina marah dan menimbulkan kutukan internasional. Trump juga memulai proses pemindahan kedutaan AS dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Baca: Analis Palestina Sebut Putra Mahkota Saudi Musuh Terbesar Islam

Dewan Tertinggi Ulama Saudi -badan keagamaan kerajaan yang paling senior- merilis sebuah pernyataan yang “mengkonfirmasikan status besar Yerusalem” di dunia Muslim. Beberapa komentator menganggap komentar dewan ulama Saudi sangat mengecewakan karena tidak mengkritik keputusan Trump yang memberi wewenang untuk pemindahan kedutaannya dan malah memusatkan perhatian pada kepentingan religius kota suci tersebut.

Pada hari Kamis, seorang menteri Israel mengatakan bahwa Trump telah mendapatkan “lampu hijau” dari para pemimpin Arab sebelum membuat keputusan yang memecah belah. Berbicara kepada Saluran 10 Israel, Yisrael Katz mengklaim bahwa pemerintah AS telah mengkoordinasikan langkah tersebut dengan para pemimpin Arab sebelum keputusan tersebut, untuk memastikan bahwa mereka akan membantu reaksi Palestina dan Arab.

Mengenai posisi Arab Saudi atas keptusan Trump, Katz mengklaim bahwa Riyadh akan mempertimbangkan “kepentingan keamanan bersama dengan Israel”, terutama yang berkaitan dengan musuh mereka, Iran.

Israel menganggap Yerusalem sebagai ibukotanya, sebuah posisi yang hampir seluruh dunia menolak mengatakan bahwa statusnya harus ditentukan dalam perundingan damai dengan Palestina.

Baca: Netanyahu Akui Hubungan Rahasia dengan Arab Saudi

Yerusalem Timur dan Barat, termasuk Kota Tua, adalah wilaayh Palestina yang diduduki berdasarkan hukum internasional. Orang-orang Palestina berharap ini akan menjadi ibukota negara masa depan mereka setelah menyetujui negosiasi status akhir dengan Israel, sesuai dengan Persetujuan Oslo 1993. Langkah Trump menempatkan harapan ini dalam bahaya serius. (SFA)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: