Eropa

Rusia Kecam AS Terkait Perang di Ghouta Timur Suriah

Sabtu, 24 Februari 2018 – 14.20 Wib,

SALAFYNEWS.COM, MOSKOW – Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov memperingatkan atas ancaman kelompok militan Takfiri Jabhat Fateh al-Sham (Jabhat Nusra), sebagai sumber utama kekerasan di wilayah Ghouta Timur, dan mengecam AS karena tidak melakukan tindakan apapun dalam melawan kelompok teror tersebut.

Baca: Teroris Abaikan Gencatan Senjata di Ghouta Timur

“Jabhat al-Nusra, merupakan masalah utama di Ghouta Timur, seperti yang saya sebutkan, secara sadar atau tidak disadari diperlakukan sama dengan para kritikus dan penuduh pemerintah Suriah. Jabhat al-Nusra tidak disentuh,” Lavrov mengatakan selama konferensi pers bersama dengan rekannya Uzbek Abdulaziz Kamilov di Moskow pada hari Jumat.

“Kami masih belum memiliki bukti bahwa koalisi yang dipimpin oleh Amerika Serikat melihat Jabhat al-Nusra sebagai target nyata. Tentu saja, kami menarik perhatian kolega Amerika kami untuk itu, tapi kami tidak melihat dampak dari komentar kami,” dia menambahkan.

Ghouta Timur pinggiran Damaskus telah menyaksikan kekerasan dalam beberapa hari terakhir, dimana para teroris melakukan serangan mortir berulang-ulang ke ibukota Suriah dalam menghadapi kekalahan yang akan segera terjadi.

Baca: Teroris Abaikan Gencatan Senjata di Ghouta Timur

Diplomat tertinggi Rusia juga mengingatkan pada usulan gencatan senjata terbaru untuk Ghouta Timur di Dewan Keamanan PBB dan berpendapat bahwa inisiatif tersebut gagal memberikan jaminan bahwa gerilyawan akan menghentikan kekerasan yang sedang berlangsung.

Rencana gencatan senjata 30 hari, yang disusun oleh Swedia dan Kuwait, ditujukan untuk memungkinkan pengiriman bantuan kemanusiaan dan evakuasi medis.

“Tidak ada jawaban atas pertanyaan tentang jaminan bahwa militan akan mematuhi jeda kemanusiaan ini dan bahwa mereka tidak akan menambakkan mortir lagi ke Damaskus. Jaminan ini tidak diberikan kepada kita,” kata Lavrov.

Pada hari Kamis, Lavrov menyatakan kesiapannya untuk mempertimbangkan gencatan senjata di Suriah, namun tidak mencakup ISIS dan Jabhat al-Nusra serta kelompok teroris lainnya yang “melakukan penembakan sistematis terhadap tempat perumahan warga sipil di Damaskus.”

Baca: Pasukan Darat Suriah Hajar dan Tangkap Teroris di Ghouta Timur

Menurut Duta Besar Rusia untuk PBB Vassily Nebenzia, tidak ada kesepakatan yang dicapai di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai rencana gencatan senjata karena konflik tersebut semakin dalam di negara Arab karena adanya peningkatan tajam dalam serangan teroris.

Dewan Keamanan dijadwalkan untuk memberikan suara pada usulan gencatan senjata pada hari Jumat, namun pemungutan suara tersebut ditunda sampai hari Sabtu karena ketidaksepakatan di antara anggota dewan.

Lavrov mengungkapkan proses Astana yang sedang berlangsung untuk penyelesaian perdamaian Suriah dan berpendapat bahwa Barat berusaha untuk merongrong inisiatif karena menghalangi usaha yang sedang berlangsung untuk menghancurkan Suriah.

Rusia, Iran, dan Turki telah mengorganisir perundingan Astana sejak Januari 2017. Bersama-sama, ketiga negara tersebut telah bertindak sebagai penjamin untuk proses perdamaian.

Rusia dan Iran adalah sekutu pemerintah Suriah. Turki adalah sekutu oposisi Suriah. Upaya kolektif ketiga negara, termasuk percaloan kesepakatan yang telah mengurangi pertempuran di Suriah secara signifikan, telah memberi dampak pada negara Arab Suriah. (SFA/PTV)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: