Eropa

Rusia Gagalkan Rencana Serangan ISIS di Metro Moskow

Sabtu, 27 Mei 2017 – 01.50 Wib,

SALAFYNEWS.COM, RUSIA – Barat telah lama mempraktekkan doktrin yang salah tentang ‘musuh musuh saya adalah teman saya’. Inilah yang mendorong AS, Inggris, Perancis dan Jerman Barat mempersenjatai Ba’athist (pemerintahan Irak terdahulu) pada tahun 1980-an, sekutu Soviet tradisional, melawan Republik Islam Iran yang baru terbentuk. (Baca: Wahabi Otak Bom Bunuh Diri di Seluruh Dunia)

Tentu saja, ketika Irak yang bersenjatakan barat terlibat dalam perselisihan dengan Kuwait, sebuah negara boneka Inggris, Irak kembali masuk dalam daftar ‘musuh’ dan tetap di sana sampai AS dan Inggris menghancurkan  Pemerintah Ba’athist di Irak, dan menjadikan negara yang dulu makmur berubah dalam perang saudara pada tahun 2003.

Sebelum itu, AS secara diam-diam membantu genosida pemerintahan berdarah Khmer  Kampuchea Demokratik (Kamboja) karena penentangan mereka terhadap pemerintah sekutu Soviet di Vietnam.

Jadi jika ‘musuh musuh saya’ bisa menjadi teman dalam pemikiran barat, lalu apa salahnya dengan mengatakan bahwa ‘target musuh saya bisa menjadi teman saya’? (Baca: Mufti Suriah: Nabi Ajarkan Kasih Sayang, Toleransi dan Cinta, Bukan Membunuh dan Membom)

Rusia tentu saja bukan secara formal merupakan musuh barat, menurut barat sendiri. Rusia dalam bagiannya terus mengacu pada negara-negara barat sebagai ‘mitra’ meskipun tampak bandel atau melawan.

Sebuah laporan menyebutkan bahwa FSB Rusia telah menahan 4 teroris ISIS yang diduga merencanakan serangan teroris ke Metro Moskow.

FSB mengeluarkan sebuah pernyataan yang mengatakan, “Layanan Keamanan Federal Rusia telah menahan empat anggota kelompok teroris yang terdiri dari warga negara Rusia dan negara-negara kawasan Asia Tengah pada tanggal 25 Mei 2017 di Moskow. Mereka mempersiapkan serangan teroris terhadap infrastruktur transportasi Moskow dengan menggunakan alat peledak seadanya”.

“Laboratorium produksi bahan peledak, alat peledak improvisasi siap pakai dengan pecahan peluru dan komponen untuk produksinya telah ditemukan selama pencarian”.

Menurut pernyataan tersebut, “senjata api otomatis, amunisi, granat, serta literatur dan video tentang orientasi ekstremis dan teroris” juga telah ditemukan.

Orang-orang tersebut merencanakan untuk melakukan perjalanan ke Suriah setelah serangan di Moskow, untuk berperang bersama para pejihad.

AS bersama Turki, Inggris, Prancis, Jerman, Belanda, Belgia, Arab Saudi dan Qatar secara resmi kembali menjadi kelompok jihad di Suriah. Israel juga secara diam-diam mendukung para jihadis dan melakukan segala upaya untuk menggunakan angkatan udaranya untuk melumpuhkan Suriah dan sekutunya dalam memerangi para teroris. Hal ini menempatkan Israel di sisi yang sama dengan kelompok teroris Hamas, sebuah kelompok yang dibilang banyak orang telah mendapat bantuan dari Mossad Israel di tahun-tahun awal.

Warga sipil barat tidak ingin meledak menjadi sejuta keping di kereta dan bus mereka. Orang-orang Rusia juga tidak menginginkannya. Perbedaannya adalah bahwa pemerintah Rusia bekerja untuk memastikan tidak ada yang diledakkan oleh teroris di manapun. Barat selektif saat para pemimpinnya berpikir bahwa pemboman teroris itu buruk dan ketika mereka menganggapnya baik.

Ketika teroris di Suriah meledakkan warga sipil di Suriah, ini hanyalah kerusakan tambahan dari sebuah tindakan ‘pemberontak moderat’. Bila hal yang sama terjadi di Perancis, Inggris, Belgia atau Jerman, ini adalah ‘teroris ekstremis’.

Faktanya adalah bahwa semua tindakan di atas, adalah tindakan terorisme dan jika pihak barat benar-benar peduli tentang memerangi terorisme daripada teori konspirasi anti-Rusia yang gila-gilaan, mereka akan bersekutu dengan Rusia tanpa pragmatisme jika tidak ada alasan lain. (SFA)

Sumber: The Duran

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: