Eropa

Reuters Pancing Kemarahan Turki dan Rusia di Suriah

Selasa, 21 Maret 2017 – 15.31 Wib,

SALAFYNEWS.COM, RUSIA – Pemerintah Rusia secara tegas menolak laporan Reuters yang mengklaim bahwa negaranya akan membangun sebuah pangkalan militer di distrik Afrin, provinsi Aleppo yang berkoalisi dengan milisi Kurdi pengendali daerah itu. (Baca: Wawancara Ekslusif Erdogan dengan Televis Rusia, Turki Butuh Rusia di Timur Tengah)

“Tidak ada rencana untuk membangun pangkalan-pangkalan Rusia di wilayah Republik Arab Suriah,” pernyataan Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan pada Senin (21/03/2017) yang dikutip oleh kantor berita Sputnik.

Moskow sebelumnya mengatakan akan menggunakan fasilitas di timur laut Suriah untuk mengamati pelaksanaan gencatan senjata yang disepakati dan menegosiasikan gencatan senjata lokal antara kelompok yang bertikai di sana.

“Sesuai dengan perjanjian yang ditandatangani Rusia-Turki pada tanggal 30 Desember 2016, Pusat Rekonsiliasi Rusia melakukan pemantauan gencatan senjata untuk mencegah pelanggaran gencatan senjata. Salah satunya dengan mendirikan cabang dari pusat pemantauan di dekat Afrin, di tempat yang berbatasan dengan wilayah yang dikuasai oleh milisi Kurdi, dan di bawah komando Tentara Pembebasan Suriah yang dikendalikan Turki”, bunyi pernyataan itu. (Baca: Turki Akan Gabung Dengan Kekuatan Poros Rusia-iran)

Pada hari Senin, Reuters mengutip ucapan juru bicara Unit Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG), yang mengatakan bahwa Rusia telah menandatangani perjanjian dengan YPG untuk mendirikan pangkalan militer di Afrin.

“Sebuah perjanjian telah ditandatangani antara unit kami dan pasukan Rusia yang beroperasi di Suriah yang akan melatih kita dalam taktik militer modern,” kata juru bicara YPG Redur Xelil. Pejuang Kurdi dari Unit Perlindungan Rakyat (YPG) di kota Qamishli, utara Suriah, pada tanggal 22 April 2016.

“Ini adalah kesepakatan pertama, meskipun kami telah memiliki kerjasama sebelumnya dengan Rusia di kota Aleppo,” tambahnya.

Dia mengatakan kesepakatan itu bagian “upaya memerangi terorisme,” dan menambahkan bahwa itu ditandatangani pada hari Minggu dan mulai berlaku pada hari Senin.

Xelil menyatakan bahwa pasukan Rusia sudah hadir di kamp pelatihan di wilayah Afrin, salah satu dari tiga wilayah “otonom” yang berada di bawah kendali otoritas Kurdi. Amerika Serikat yang juga mendukung Kurdi Suriah,membantah memiliki informasi tentang kerjasama itu.

“Bukan berarti saya tahu”, kata juru bicara Pentagon Kapten Jeff Davis pada media briefing, dalam menanggapi pertanyaan tentang koordinasi antara Moskow dan Washington soal penyebaran pasukan di daerah tersebut.

Sangat mungkin bahwa perjanjian Rusia dengan YPG, yang saat ini mengendalikan hampir semua perbatasan seluruh utara Suriah dengan Turki, akan memancing kemarahan Ankara.

Turki menganggap Kurdi sebagai kelompok “teroris” dan memiliki hubungan dengan Partai Buruh Kurdistan (PKK). (SFA)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: