Headline News

Rayuan Maut Saudi kepada Mesir dan Sepak Terjang Ngeri Trump di Timteng

Jum’at, 10 Februari 2017 – 06.38 Wib,

SALAFYNEWS.COM, RIYADH – Tujuh negara Timur Tengah yang warganya di tolak oleh Presiden Trump untuk memasuki Amerika Serikat, yaitu Irak, Suriah, Libya, Somalia, Yaman, Sudan, dan Iran, penentuan ini belum mencapai titik sempurna karena itu adalah “negara-negara yang gagal” sebagaimana yang dibicarakan oleh beberapa pendukung baru Trump di kawasan Arab (dan, jika demikian, penyebabnya adalah intervensi militer Amerika pada negara-negara tersebut). Negara-negara itu berdiri sebagai “pembangkang”, dan dalam satu parit anti-Amerika yang mendukung “Israel”, dan mendukung perlawanan Palestina dan Lebanon untuk mengakhiri pendudukannya. (Baca: Inilah Fakta Suksesi Monarki Saudi di Tangan Amerika)

Presiden Trump sengaja menelpon tiga pemimpin negara “Arab moderat” mereka adalah Raja Saudi Salman bin Abdul Aziz, Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi, dan Sheikh Mohammed bin Zayed, Putra Mahkota Abu Dhabi, dan sebelumnya ia telah menerima Raja Yordania Abdullah II di Washington.

Setelah panggilan telepon ini sikap AS berubah terhadap negara-negara tersebut secara global, dengan meningkatkan ancaman terhadap Iran karena melakukan uji coba rudal balistik dengan dalih pelanggaran, dengan persetujuan dari program nuklir Iran, dan hukum PBB, serta serangan empat helikopter AS pada teroris “Al-Qaeda” di sekitar kota Baida, Yaman, yang telah menewaskan 40 orang, sebagian besar wanita dan anak-anak, sebagai surat “cinta” atas operasi badai tegas Saudi, dan sebagai awal dari kebijakan AS dalam mendukungnya. (Baca: Kronologi Operasi “Dungu” AS di Baida Yaman)

Kita tidak tahu apa yang telah disepakati antara Trump dan raja Saudi dalam panggilan telepon yang berlangsung di antara mereka Minggu lalu yang berlangsung selama 43 menit. Tapi apa yang kita pelajari melalui ekstrapolasi dari langkah-langkah Arab Saudi, mungkin saja negara tersebut sedang menempatkan pondasi kesepakatan politik baru antara pihak-pihak yang bermusuhan dengan Iran dan sekutunya di Yaman, Suriah, Irak, juga pendanaan Saudi untuk proyek-proyek infrastruktur yang dijanjikan Presiden Trump dalam kampanyenya yang akan menyediakan lapangan pekerjaan dan mengembalikan Amerika menjadi negara adi kuasa. (Baca: Intelijen Bongkar Gerak-gerik Jahat Saudi di Mesir)

Eskalasi Trump terhadap Iran berarti membeli Arab Saudi dan negara-negara Teluk, transaksi miliaran dollar senjata AS dengan dalih meningkatkan kemampuan militer dalam menghadapi ancaman Iran, dan transaksi tersebut dapat membentuk bagian dari “pajak” di mana Trump menuntut negara Teluk untuk membayarnya karena itu adalah bentuk perlindungan mereka.

Dua poin menegaskan respon negara Teluk atas tuntutan keuangan dan politik Trump:

Pertama, untuk mendukung Kerajaan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab agar bisa menjalankan langkah-langkah manajemen, Trump mencegah warga dari tujuh negara yang disebutkan di atas memasuki Amerika Serikat, sebagai tindakan yang berdaulat, mendiamkan semua tokoh dan ulama Saudi terhadap tindakan ini, dan meniadakan kritikan bagi mereka, karena adanya instruksi atau ancaman eksplisit dalam hal ini. Perlu diingat bahwa penulis Saudi Jamal Khashoggi, dilarang menulis dan berbicara di media apapun lebih dari sebulan yang lalu karena dia berani mengkritik secara lembut Trump pada seminar yang  ia hadiri di Washington. (Baca: The Independent Bongkar Biro Iklan AS 80 Tahun Tutupi Kejahatan Saudi dan Amerika)

Kedua, pernyataan yang dibuat oleh Dr Khalid Al-Falih, Menteri Energi Saudi pada stasiun TV, “BBC” kemarin. Dimana ia mengatakan bahwa negaranya dapat meningkatkan investasi di AS pada sektor minyak dan gas dalam mendukung kebijakan energi untuk pemerintahan Presiden Trump dan bergantung pada bahan bakar, “fosil”, dan investasi yang ditawarkan terhadap mereka. Akhirnya membuat negara mengentikan proyek infrastruktur karena krisis keuangan, dan warganya dikenakan wajib berhemat, ini semua tidak mungkin terjadi kecuali “suap” atau hasil diktat, tidak dalam kepentingan Saudi dan Teluk Persia untuk berinvestasi di sektor energi AS, yang bisa menyebabkan penurunan kebutuhan minyak AS  dari Teluk dan negara-negara Amerika Latin seperti Meksiko dan Venezuela. Akhirnya menyerang anggota OPEC, dan bisa membanjiri pasar dengan kwantitas tambahan, serta harga minyak yang lebih rendah, karena itu tawaran lebih tinggi daripada permintaan.

Persekutuan Trump-Arab akan menampilkan enam negara Teluk, Maroko dan Yordania, bersama dengan Mesir, yang merupakan bahan pembicaraan dari “negara-negara moderasi”, tidak ada pencegahan bagi setiap warga negara-negara tersebut, meskipun keterlibatan warga satu sama lain dalam teror, dan menegaskan kembali tentang aliansi ini. Raja Salman memuji-muji Mesir selama pembukaan Festival budaya, dalam pernyataannya “Mesir kembali berdiri.. Mesir terlahir kembali”, kita tidak akan melupakan janji Trump dalam dukungan militer Amerika ke Mesir saat pembicaraan telepon dengan Presiden El-Sisi.

Presiden Trump dan Iran akan memerangi terorisme bersama-sama, seperti yang dijanjikan dalam kampanye pemilihannya, tetapi karena uang dan pasukan Arab, kemungkinan besar negara-negara yang bersangkutan akan mempersiapkan ketegangan yang lebih tajam, mungkin perang dingin akan dilakukan bersama-sama.

Poros “moderat Arab” kembali dengan agresif, Iran dan sekutunya adalah target, yang berarti Aleppo harus berada di pangkuan Saudi sampai dolar terakhir habis .. Ini adalah kebijakan AS yang sangat berbahaya, dalam arti intervensi militernya akan terulang lagi, dan akan semakin banyak ketegangan dan bentrokan serta eskalasi terorisme. (SFA)

Sumber: Raialyoum, penulis Abdel Bari Atwan

2 Comments

2 Comments

  1. Pingback: Rayuan Maut Saudi kepada Mesir dan Sepak Terjang Ngeri Trump di Timteng | ISLAM NKRI

  2. Pingback: Para Pegawai Federal di Amerika Muak dengan Donald Trump | SALAFY NEWS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: