Headline News

Raja Salman Gagal Hadiri KTT G20 Karena Ancaman Kudeta Semakin Menguat

Selasa, 4 Juli 2017

SALAFYNEWS.COM, RIYADH – Pemerintah Jerman telah mengumumkan bahwa Raja Salman dari Arab Saudi akan absen pada pertemuan puncak akhir pekan kelompok industri besar dan negara berkembang, yang dikenal sebagai G20.

Seorang juru bicara pemerintah Jerman, pada Senin (3/07), mengatakan bahwa Raja Saudi secara resmi telah mengumumkan niatnya untuk tidak melakukan kunjungan yang direncanakan ke Hamburg, utara Jerman, di mana dia sebelumnya akan menghadiri pertemuan puncak G20 pada hari Jumat dan Sabtu.

“Pemerintah telah menerima pemberitahuan resmi bahwa Raja Salman tidak akan melakukan perjalanan ke KTT G20,” kata juru bicara tersebut, tanpa memberikan merincian.

Sumber lain mengatakan bahwa Menteri Keuangan Arab Saudi Mohammed al-Jadaan akan menghadiri KTT tersebut.

Menurut laporan media, Riyadh telah menyewa sebuah hotel mewah secara keseluruhan di Hamburg untuk raja dan delegasinya.

Surat kabar Jerman Berliner Zeitun, melaporkan bahwa Raja Saudi bersama rombongan yang akan melakukan perjalanan ke Hamburg telah memesan 160 kamar dari 400 kamar, untuk menghadiri KTT G20 yang akan diselenggarakan pada 7–8 Juli 2017 di kota Hamburg, Jerman.

Pembatalan tersebut terjadi di tengah perselisihan yang melebar di keluarga kerajaan, sesaat setelah Raja Salman mencopot Mohammed bin Nayef dari putra mahkota, dan melantik putranya sebagai pewaris tunggal tahta Al Saud.

Whistle-blower Arab Saudi, Mujtahid, dalam tweet-nya juga menyatakan bahwa alasan ketidak hadiran Raja Salman pada KTT G20 di Jerman, cukup beralasan karena kerajaan sedang berada dalam perselisihan yang semakin memanas dan dapat berakibat pada kudeta.

Mujtahid sebelumnya juga menyatakan bahwa ada gerakan yang berkembang di dalam keluarga kerajaan yang mendukung Ahmed bin Abdul Aziz, dan meyakinkan dia untuk menerima kepemimpinan dan mengeluarkan keputusan ketidaklayakan Raja Salman dalam melanjutkan kepemimpinan karena kondisi kesehatan, serta menyatakan ketidakabsahan keputusan yang menunjuk Mohammed bin Salman sebagai “putra mahkota”.

Mujtahid menyatakan bahwa gerakan bawah tanah ini lebih berbahaya daripada membicarakan kondisi pangeran bin Nayef yang berada dalam tahanan rumah, karena ketakutan Mohammed bin Salman dari kudeta setelah ia merampok pewaris tahta kerajaan Saudi.

Raja Salman tidak akan menjadi satu-satunya kepala negara yang tidak menghindari pertemuan puncak G20 yang akan datang di Jerman. Presiden Brasil Michel Temer, yang terlibat dalam serangkaian tuduhan korupsi dan penyuapan, juga akan absen dalam acara di Hamburg. [Sfa]

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: