Eropa

Putin: Sanksi Terbaru Terhadap Rusia Memperumit Hubungan Kedua Negara

Minggu, 18 Juni 2017 – 03.10 Wib,

SALAFYNEWS.COM, RUSIA – Presiden Rusia Vladimir Putin telah memperingatkan bahwa sanksi baru yang dikeluarkan oleh Senat AS terhadap Rusia akan memperumit hubungan kedua negara, pihak Rusia menggapi bahwa terlalu dini untuk membicarakan tindakan pembalasan itu. (Baca: Amerika dan Rusia Diambang Perang Besar)

Putin menyampaikan ucapan tersebut dalam sebuah wawancara dengan stasiun TV negeri Rossiya1, yang dirilis pada hari Sabtu (17/06). “Ini memang akan menyulitkan hubungan Rusia-Amerika, saya pikir ini berbahaya,” kata Presiden Rusia.

Putin mencatat bahwa Rusia perlu melihat bagaimana situasi berkembang, dengan mengatakan, “Itulah sebabnya mengapa terlalu dini untuk berbicara secara terbuka tentang tindakan pembalasan kami.”

Pertemuan Senat AS

Sanksi tersebut disetujui oleh Senat AS pada hari Kamis, namun tetap perlu melewati Dewan Perwakilan Rakyat dan ditandatangani oleh Presiden AS Donald Trump untuk menjadi undang-undang. Trump diyakini skeptis terhadap langkah anti-Rusia ini, dan juru bicara Gedung Putih Sarah Huckabee Sanders mengatakan pada hari Kamis bahwa bagian administrasi Presiden Trump masih meninjau legislasi Senat. (Baca: Rusia; Kesepakatan Kami dengan Amerika Tidak Termasuk Nasib Assad)

RUU sanksi tersebut terutama mempengaruhi perusahaan yang bekerjasama dengan perusahaan minyak dan gas Rusia, termasuk BASF, Shell, Engie, OMV, Wintershall, dan Uniper yang ambil bagian dalam proyek Nord Stream 2.

Pembuat kebijakan Amerika mempertimbangkan babak baru sanksi dalam upaya untuk menghukum Rusia karena tuduhan mencampuri pemilihan presiden tahun 2016 dan untuk mendukung pemerintah di Damaskus sejak krisis Suriah dimulai pada bulan Maret 2011.

Jerman dan Austria telah mengkritik sanksi anti-Rusia Senat yang baru, dan menyebut mereka sebagai bukti campur tangan Amerika dalam urusan Eropa. (Baca: Amerika Serikat Anggap Rusia Sebagai Ancaman Terbesar)

Rusia dan Barat telah menjatuhkan sanksi satu sama lain sejak semenanjung Black Sea di Crimea yang memisahkan diri dari Ukraina dan bergabung kembali dengan Rusia pada tahun 2014.

Sementara sanksi ekonomi dan keuangan Barat merugikan ekspor Rusia, Moskow membalas dengan melarang impor makanan dari Barat dan melarang mereka memasuki Rusia. (SFA)

Sumber: PTV

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: