Fokus

Prof Sumanto: Tuhan Kok Dianggap Pendukung Koruptor?

Kamis, 18 Mei 2017 – 11.28 Wib,

SALAFYNEWS.COM, JAKARTA – Tulisan menarik Sumanto Al-Qurtuby dalam akun facebooknya yang menjelaskan tentang maraknya kelompok yang ajak “Tuhan” berpolitik dan juga gunakan teks-teks keagamaan untuk melegalkan kepentingannya, berikut tulisannya: (Baca: Sumanto Al-Qurtuby: Waspadai Gerakan Kelompok “Islam Sontoloyo”)

Sumanto Al-Qurtuby: Tuhan Kok Dianggap Pendukung Koruptor? Pale Lu Peang

Dimana-mana, orang kalau sudah kalap dan dipenuhi kerakusan dan keangkaramurkaan, cenderung gelap mata, hati, dan pikiran. Orang jahat di mana-mana biasanya selalu melakukan apa saja untuk membungkus dan melegitimasi kejahatannya, termasuk memanipulasi “teks suci-keagamaan” dan “menipu Tuhan”.

Tuhan memang Zat Yang Maha Baik. Ditipu berkali-kali pun nggak pernah protes dan demo. Para tokoh agama sering beroar-koar: “Semua ini demi Tuhan”. Emang bener “demi Tuhan”? Boong kali lo? “Ini semua untuk membela Tuhan ya ikhwan-ikhwat”? Ah, gaya banget sih lu Mat-Min-Mon membela Tuhan, wong kalau lapar dan sakit perut saja nangis ngguling-ngguling kok mau membela Tuhan. (Baca: Sumanto Al-Qurtuby: Kalian ini penyembah Tuhan atau pemuja Setan?)

Buat makhluk rakus bin serakah, untuk melancarkan ambisi dan kekalapannya, mereka tidak cukup bersekongkol dengan sesama manusia yang sealiran, dengan setan demit pocong tuyul dan sebangsanya, Tuhan pun dipaksa diajak koalisi dan kampanye.

Ayat dibajak, hadis dipelintir, teks-teks keagamaan diseleksi dan “diperkosa” sedemikian rupa sesuai dengan selera dan kepentingan masing-masing. Al-Quran memang ibarat “toko serba-ada” yang menyediakan beragam teks. Hadis juga seperti “super mall” yang “menjual” aneka ragam barang sesuai selera pembeli. Baik si baik maupun si buruk biasanya akan “belanja” teks keagamaan sesuai dengan niat, tujuan, dan kepentingannya.

Teks memang tidak bertulang sehingga bisa dengan mudah dibelak-belokkan. Teks adalah benda mati, manusialah yang menjadikannya “hidup”. Teks ibarat “si bisu,” manusialah yang membuatnya bicara.

Sering kita dengar misalnya sejumlah tokoh Muslim dan kelompok Islam tertentu yang menyerukan tentang “keunggulan dan kemuliaan Muslim meskipun buruk, kotor, dan korup daripada non-Muslim meskipun baik, bersih, dan anti-korupsi”. Maling alias korupsi menurut mereka halal asal digunakan untuk membangun masjid. Kasihan sekali Tuhan, rumah-Nya dibangun dengan uang hasil ngemplang dan nyolong duit rakyat. Mereka kemudian menyitir sejumlah teks keislaman untuk mendukung dan melegitimasi pemikiran dan tindakan konyolnya. (Baca: “Surat Cinta” Fahira kepada Prof Sumanto Al-Qurtuby)

Ini adalah contoh dari logika berpikir gemblung yang kacau-balau, cermin dari kegalauan dan kekalapan, serta refleksi dari hati dan pikiran yang kotor-njetor penuh nafsu dan ambisi. Logika berpikir yang kacau-balau karena pemahaman konsep “iman” dan “kafir” yang keliru dan salah-alamat serta mengabaikan konteks sejarah, pluralitas tafsir, dan kemajemukan teks itu sendiri.

Galau dan kalap karena mereka “mengajak” dan “memaksa” Tuhan bersekongkol untuk mendukung korupsi yang merupakan bentuk dan tindakan kejahatan kemanusiaan. Menganggap Tuhan seolah “pro koruptor” jelas sebuah “pelecehan teologis” sekaligus menurunkan “martabat” Tuhan itu sendiri. (Baca: Prof Sumanto Al Qurtuby: Bangsa Kuli, Mental Inlander?)

Jika kalian menemui orang-orang seperti ini, maka waspadalah. Di dunia modern yang semakin gemblung dan serba absurd ini, banyak setan bermuka malaikat berkeliaran di mana-mana, banyak Dajjal berpakaian ala Nabi bergentayangan di mana-mana, banyak para pecundang yang berlagak seperti pahlawan kesiangan eksis dimana-mana, dan banyak pula yang mengaku para tokoh agama dan umat tapi sebetulnya tidak lebih dari barisan kunyuk dan kutu kupret sampah masyarakat, bangsa, dan Tanah Air tercinta. (SFA)

#KoruptorKorupsi

Sumber: Akun Facebook Sumanto Al-Qurtuby

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: