Artikel

Prof Sumanto Al-Qurtuby: Jilbab Kristen Arab Lebanon

Kamis, 01 September 2016,

SALAFYNEWS.COM, JAKARTA – Saya sering mengelus dada atau geleng-geleng kepala memperhatikan tingkah-polah lucu-lucu sejumlah kaum Muslim dan Muslimah di Indonesia, khususnya mereka yang semangat keislamannya terlalu tinggi tetapi tidak diiringi dengan wawasan sejarah-sosial-kultural-keagamaan yang memadai.

Karena “besar pasak daripada tiang”, akibatnya sering kali “menggelikan” alias “unyu-unyu” kalau berkomentar. Misalnya, mereka bilang kalau hijab itu hanyalah “properti Islam” saja karena itu jika ada non-Muslimah yang berhijab dianggap sebagai pelecehan terhadap Islam, penghinaan terhadap ajaran Al-Qur’an, atau penghinaan terhadap kaum Muslim. Wong pakai hijab kok dianggap menghina itu rumusnya apa? (Baca: Indahnya Toleransi, Ada Panggilan Adzan di Tengah “Ave Maria”)

Bukan hanya itu, berhijab juga dipandang sebagai simbol “hijrah keimanan” dari non-Muslimah menjadi Muslimah, dari “kebengkokan” menuju “kelurusan”. Mereka juga bilang kaum perempuan, khususnya Muslimah, kalau sudah berhijab berarti sudah mendapatkan hidayah atau petunjuk dari Tuhan. Perempuan berhijab pulalah, kata mereka, kelak yang akan merasakan aroma surga yang aduhai rasanya.

Begini ya, soal hidayah, keimanan, keislaman, apalagi surga itu tidak ada urusannya dengan selembar kain bernama hijab atau apapun namanya. Hijab, seperti yang sudah sering saya sampaikan, juga bukan melulu milik Islam. Jauh sebelum Islam lahir di Jazirah Arab, umat Yahudi dan Kristen sudah mempraktekkan hijab, sebuah tradisi yang masih dipraktekkan hingga kini oleh sebagian saudara-saudara seiman kita dari Kristen dan Yahudi. Jadi tidak perlu “main klaim” kalau hijab itu milik Islam, nanti malah malu-maluin kelihatan kalau otaknya masih orisinal.

Di bawah ini hanyalah contoh kecil sekelompok perempuan Kristen Maronite di Lebanon, yang seperti kaum Muslimah, juga berhijab. Seperti di Indonesia, tidak semua perempuan Kristen di Lebanon berhijab. Tetapi tidak seperti Muslimah Indonesia yang minim Bahasa Arab, para perempuan Kristen Lebanon berbahasa Arab karena memang itu bahasa nenek-moyang mereka. Bahasa Arab mereka tentu saja jauh lebih fasih ketimbang kaum Muslimah Indonesia yang suka berabi-umi atau berakhi-ukhti itu. (Baca: Hasan Nasrallah: Barat dan Kelompok Takfiri Tak Ingin Lihat Umat Islam Bersatu)

Di Timur Tengah, selain Mesir dan Suriah, Lebanon adalah kawasan yang cukup padat penduduk Kristennya. Sekitar 40% penduduk Lebanon adalah Kristen (mayoritas pengikut Kristen Maronite, kemudian Katolik Roma, terus Kristen Ortodoks Timur, dlsb). Karena itu di Lebanon, banyak tokoh Kristen menempati posisi penting dan strategis di struktur pemerintah, parlemen, maupun jabatan publik lain, berdampingan dengan Syiah dan Sunni.

Sejarah Kristen di Lebanon sudah sangat tua, setua lahirnya agama Kristen sendiri. Konon Yesus pernah singgah di kota Tyre (Sur atau Sour) di bagian selatan Lebanon, dimana Dia menyembuhkan sejumlah anak-anak Canaan. Kemudian, Santo Peter juga konon pernah berdakwah di kawasan ini. Pendakwah paling melegenda tentu saja adalah Santo Maron di abad ke-4 M, seorang pendeta Kristen Suriah, yang menyebarkan iman Kristen di Lebanon. Nama Kristen Maronite yang menjadi mayoritas umat Kristen di Lebanon saat ini adalah diambil dari namanya.

Jadi, sudah paham belum bapak-ibu, sodare-sodare. (SFA)

Sumber: Akun Facebook Sumato Al-Qurtuby

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: