Fokus

Pesan Penting Denny Siregar kepada Jokowi, IM Ancam Indonesia

Sabtu, 15 April 2017 – 06.53 Wib,

SALAFYNEWS.COM, JAKARTA – Pilkada DKI Jakarta menjadi kesempatan bagi kelompok radikal bangkit dan sebarkan pemikiran bengisnya, mereka gunakan agama sebagai alat politik, mereka gunakan masjid sebagai sarana kampanye kebencian dan hate speech, mereka gunakan khotbah Jum’at sebagai kampanye doktrinisasi kebencian, indonesia darurat radikalisme. (Baca: Para Ulama Timur Tengah Marah Besar Saat Agama Dipolitisasi Untuk Picu Konflik)

Ada sebuah analisa bagus yang ditulis oleh tokoh media sosial Denny Siregar tentang gerakan Ikhwanul Muslim yang hancurkan beberapa negara, mereka gunakan masjid, dan khotbah Jum’at sebagai kampanye mereka untuk gulingkan pemerintah dan dirikan kerajaan mereka, berikut tulisannya:

Indonesia seharusnya mulai belajar berbenah diri dari peristiwa politisasi masjid yang sering terjadi belakangan ini.

Pengusiran Haji Djarot sesudah shalat Jum’at di masjid Tebet bisa dibilang adalah puncak gunung es dari geraknya kaum radikal yang menguasai masjid sebagai alat politik. Sudah banyak masjid yang dikuasai mereka dan dipergunakan sebagai alat untuk melakukan kampanye politik. (Baca: SMS Buya Syafii Maarif Kepada Kapolri: Negara Tak Boleh Kalah)

Seharusnya Menteri Agama turun ke masjid-masjid dan lihatlah di beberapa masjid, betapa seramnya takmir masjid saat khotbah Jum’at. Shalat Jum’at yang seharusnya menjadi bagian dari ibadah sejuk menjadi medan perang propaganda yang membuat merah telinga.

Seakan disana setan yang berkhotbah, bukan lagi ahli agama. Coba Menteri Agama belajar ke Mesir. Sejak jatuhnya Presiden Husni Mubarak, Mesir dikuasai oleh kelompok garis keras yang bernama Ikhwanul Muslimin. IM melakukan gerakannya melalui masjid-masjid dan memompa semangat anarki para jamaah Jum’atnya. Jatuhnya Husni Mubarak banyak dipengaruhi oleh IM – meski mayoritas rakyat juga menghendaki Husni Mubarak untuk turun dari tahta abadinya.

Pada waktu itu mayoritas masyarakat Mesir menganggap IM sebagai pahlawan penggerak revolusi. Sayang mereka tidak tahu bahwa agenda IM bukan saja menjatuhkan Husni Mubarak, tetapi menunggangi kebencian rakyat terhadapnya untuk mengambil alih kekuasaan.

Sesudah Husni Mubarak jatuh, mulailah IM membangun kekuasaannya melalui Mohammad Morsi yang menang pemilu.

IM mendapat penentangan dari institusi Al Azhar yang berseberangan dengan Morsi. IM kembali mengeluarkan kekuatannya dalam mimbar-mimbar Jum’at untuk merebut kendali fatwa dan keumatan dari Al Azhar. (Baca: Mufti Azhar: Bahaya Paham Pengkafiran)

Jadi dari sini seharusnya kita belajar, betapa sangat bahayanya ketika masjid dikuasai oleh mereka yang punya kepentingan politik praktis.

Jika melihat pola politisasi masjid di Indonesia sekarang ini yang mirip Mesir, bisa dipastikan Ikhwanul Muslim sudah bergerak di Indonesia. Hancurnya IM di Mesir, membuat mereka mengalihkan kekuatannya di 2 negara dengan penduduk muslim yang besar yaitu Turki dan Indonesia.

Turki sudah berhasil mereka kuasai dengan memanfaatkan ambisi Erdogan. Dan sekarang mereka menunggangi situasi politik di Indonesia dengan berada di balik calon-calon pemimpin yang lemah dan ambisius.

Darimana IM membangun kekuatannya? Masjid-masjid kecil dan besar. Coba baca lagi pola serang mereka di Mesir. (Baca: PKS Ikhwanul Muslimin Indonesia Berfaham Aliran Sesat Wahabi)

Dan kita semua tahu partai mana yang menjadi perwujudan Ikhwanul Muslimin di Indonesia.

Pemerintah baru Mesir dan institusi Al Azhar sangat paham betapa bahayanya IM dan politisasi masjid, terutama saat shalat Jum’at. Karena itu sempat ada wacana dari pemerintah sana untuk menyatukan shalat Jum’at di satu tempat saja..

Wacana ini tidak berkembang dengan bagus karena mendapat penentangan dari berbagai pihak, terutama mereka yang jauh dari areal tempat yang direncanakan untuk shalat Jum’at bersama. Karena itu, Al-azhar dan pemerintah Mesir membuat konsep baru untuk menghadang berkembangnya IM kembali melalui masjid-masjid.

Pemerintah Mesir mencabut lebih dari 55 ribu izin takmir masjid yang ada dan menerapkan sertifikasi bagi takmir shalat Jum’at. Selain itu, Mesir juga menerapkan materi kutbah Jum’at yang sama dan disiapkan oleh pemerintah sejak 2014.

Dan -seperti biasa- ditolak mentah-mentah oleh mereka yang menamakan dirinya “ulama” dengan alasan klasik, mengekang kebebasan. Meski begitu, pemerintah Mesir tetap menerapkan aturan tersebut sampai sekarang ini.

Efektifkah?

Jelas muncul perlawanan. Dan dakwah kekerasan mereka berlanjut di bawah tanah. Hasilnya adalah pemboman gereja koptik Mesir beberapa hari lalu yang menewaskan puluhan orang.

Meski begitu, Tunisia menganggap bahwa langkah Mesir menyeragamkan materi khotbah Jum’at adalah langkah efektif. Dan mereka memberlakukannya juga disana..

Indonesia bisa melakukan seperti yang dilakukan Mesir dan Tunisia. Sertifikasi takmir khotbah Jum’at dan seragamkan materi khotbah. Bentuk Dewan khusus untuk itu yang terdiri dari ulama-ulama NU dan Muhammadiyah yang sudah diberikan pemahaman bela negara. (Baca: Ikhwanul Muslimin dan Teroris Ahrar Syam Dibalik Konflik Suriah)

Ancaman bom sesudah itu pasti ada. Serahkan pada ahlinya, Tito Karnavian Kapolri yang sudah terbukti akurat langkah-langkahnya.

Radikalisme berawal dari pikiran. Dan picunya adalah khotbah Jum’at yang membakar.

Jangan sampai kita menyesal kemudian, menyaksikan anak-anak kita dicuci otak saat shalat Jum’at dengan kebencian. Mereka sudah tercuci otak di sekolah dengan Kepala sekolah dan guru agama yang radikal, masih harus ditambah dengan kebencian takmir dalam shalat Jum’at yang tersebar di banyak wilayah di Indonesia.

Anak-anak kita dibentuk untuk dijadikan bom berjalan..

Semoga tulisan ini bisa menggerakkan pemerintah dan aparat untuk mulai secara cepat dan serius menangani situasi ini. Saya masih ingin minum kopi di warkop dengan tenang tanpa ada rasa khawatir bom meledak di sekitar. Seruput dulu pakde Jokowi, Menteri Agama dan Kapolri. (SFA)

Sumber: DennySiregar.com

1 Comment

1 Comment

  1. Adi Wiyono

    April 15, 2017 at 10:07 pm

    Where are you Menkumham, Menkopolkam, Menag ? What are you doing ?
    Enemy is on the gate. Are you still a sleep, Sirs. Wake up !!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: