Nasional

Pesan Denny Siregar ke Jokowi “Pakde Ada Teroris di Pemerintah”

Ciri Khawarij

JAKARTA – Dalam satu hadis sahih, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya di antara umatku ada orang-orang yang membaca Alquran, tapi tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka membunuh orang Islam dan membiarkan penyembah berhala. Mereka keluar dari Islam secepat anak panah melesat dari busurnya. Sungguh, jika aku mendapati mereka, pasti aku akan bunuh mereka seperti (Nabi Hud) membunuh kaum Aad,” (HR Muslim No 1.762).

Baca: Denny Siregar: Tiru Khawarij, Cara Lawan Politik Serang Jokowi

Hadis diatas menjelaskan tentang ciri Khawarij, dan ada ciri lain, mereka menyatakan diri keluar dari pemerintahan yang sah yang dipimpin oleh kaum Muslim. Tidak hanya itu, mereka juga tidak segan-segan menghalalkan darah kaum Muslim yang tidak sepemahaman dengan mereka.

Melihat hadis di atas sudah jelas bagi kita untuk mewaspadai orang-orang yang kelihatannya sangat memegang Sunnah dan Alquran tapi kelakuan mereka menjauhi keduanya, contoh nyata beberapa hari yang lalu Densus 88 menangkap seorang yang dianggap warga sebagai orang yang baik dan ahli agama namun dia terlibat dalam jaringan teroris, berikut pesan Denny Siregar kepada Jokowi bahwa banyak sekali kelompok-kelompok radikal dalam pemerintahan:

Panggilannya Opung. Ia adalah pejabat di instansi PLN di Pekanbaru. Orangnya ramah dan sosialnya tinggi. Ia sering membantu masyarakat tidak mampu untuk memasang listrik. Si Opung yang bermarga Daulay ini, disegani oleh warga komplek perumahannya dan dituakan disana. Ia juga dikenal warga mempunyai ilmu agama yang baik.

Baca: Lagi, Pilot Garuda ‘Tengku Said Irfan Assegaf, Pro HTI, Terorisme dan Radikalisme

Kemaren, Sabtu, Opung didatangi anggota Densus 88 dirumahnya. Ia adalah penyandang dana jaringan teroris Pekanbaru yang tertangkap di Palembang. Warga sekitar rumahnya kaget, tidak menyangka orang yang selama ini mereka hormati ternyata bagian dari jaringan teroris untuk melumpuhkan Indonesia.

Kaget pejabat PLN ternyata teroris? Seharusnya tidak.

Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) Jakarta dan Rumah Kebangsaan di Gedung PBNU, beberapa hari lalu mengumumkan bahwa 56 persen masjid di lingkungan BUMN, terindikasi radikal. Sedangkan, 34 persen masjid di Kementrian juga terindikasi radikal.

Penelitian ini seharusnya membuka mata banyak pihak, terutama di pemerintahan, bahwa ada masalah di “rumah” mereka sendiri.

Baca: BKN: Pelaku Ujaran Kebencian di Dominasi PNS

Sudah sekian lama, saya dan banyak teman-teman mengingatkan, bahwa masjid-masjid di BUMN, Kementrian dan Lembaga Pemerintah bermasalah. Shalat Jum’at mereka bernada kebencian. Takmir-takmir masjid mereka, terindikasi dari kelompok pendukung khilafah. Buletin-buletin mereka menyerukan pembentukan negara Islam.

Kelompok radikal ini terpelihara sejak lama dan berkembang biak di masjid-masjid dan pengajian di pemerintahan. Mereka didukung dan dibiayai oleh para pejabat yang sudah membangun jaringannya di dalam instansi.

Beranak pinak disana dan membawa agenda besar untuk menggulingkan pemerintahan yang sah. Tapi mereka dibiarkan dan tidak pernah ada tindakan apa-apa.

Saya pernah bicara di depan BIN, Densus, dan Kepolisian, seharusnya aparat sudah berkoordinasi dengan NU-Muhammadiyah, juga lembaga pemerintahan seperti BUMN dan Kementrian, untuk mengganti takmir-takmir di masjid lingkungan mereka.

Baca: Eko Kuntadhi: Pakde Jokowi Saatnya Bersih-bersih Benalu dan Parasit NKRI

Kunci mereka disana, di takmir, yang mengatur segala kegiatan di masjid termasuk mengundang pembicaranya.

Sudah harus ada gerakan serius untuk membongkar jaringan “cuci otak” mereka. Para pejabat dan PNS seperti Opung tidak muncul secara tiba-tiba. Mereka terbiasa bergaul di masjid tempat mereka bekerja, dan mengkaji banyak hal disana.

Ingat kasus pejabat Kemenkeu yang berangkat ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS? Ini seharusnya sudah menjadi peringatan pemerintah bahwa “ada sesuatu” di teras rumah mereka.

Penangkapan teroris adalah hal yang bagus. Tetapi lebih bagus lagi jika kita sudah melakukan pencegahan sejak dini supaya jangan lahir kembali orang-orang seperti Opung yang memegang jabatan dan keuangan dan dipergunakan untuk membiayai hal-hal yang bertentangan dengan pemerintahan yang sah.

Ada ribuan ustad-ustad muda NU dari berbagai daerah yang siap membela negara dengan dakwah mereka, dan bisa mengendus keberadaan kelompok radikal di masjid-masjid pemerintah.

Baca: Denny Siregar: Inilah “Rudal Balistik” Jokowi Hajar Kelompok Radikal

Mereka hanya butuh difasilitasi dan diberikan tempat yang tepat. Biarkan mereka berjuang disana. Semua orang ada ahlinya, penanganan pemahaman agama dengan materi kebangsaan, mereka yang akan bekerja.

Saya siap mendekatkan mereka, tolong buka pintunya saja..

Bagaimana pak dan bu Menteri? Bagaimana pak Direksi? Setuju tidak, pak Jokowi?

Kalau iya, mari bergerak sekarang juga sebelum ada kejadian yang bisa menghilangkan nyawa orang tak berdosa. Seruput dulu kopinya. (SFA)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: