Headline News

Perang Yaman Kutukan Bagi Dinasti Kerajaan Saudi

Senin, 02 Januari 2017 – 12.43,

SALAFYNEWS.COM, RIYADH – Penulis di surat kabar Inggris “Financial Times”, Simon Kerr, mengatakan bahwa wakil putra mahkota kerajaan Saudi Mohammed bin Salman kemungkinan akan cepat naik tahta setelah kekacauan yang menimpa Arab Saudi. Kemungkinan ia akan melengserkan sepupunya, Putra Mahkota Mohammed bin Nayef, keduanya selalu berselisih selama setahun terakhir soal tahta kerajaan setelah Raja Salman bin Abdul Aziz. (Baca: Pengkhianatan Putra Mahkota Saudi “Muhammad Bin Salman” kepada Rakyat)

Menurut penulis, tahun 2016 tidak menjadi tahun biasa bagi sang “Pangeran muda,” yang memimpin diplomasi lokal, regional dan Internasional untuk negaranya, semenjak ia menjadi wakil putra mahkota. Pada eranya Mohammed bin Salman terlihat agresif dalam urusan dalam negeri dan negara-negara tetangga, baik partisipasinya dalam pengambilan keputusan kerajaan dan keputusan untuk memulai agresi di Yaman, dan lahirlah koalisi Arab yang dipimpin oleh Saudi, seperti dilansir oleh kantor berita LahjNews (01/01).

Mohammed bin Salman tidak tahu bahwa keputusan itu akan menyebabkannya tenggelam dalam lumpur Yaman, perang Yaman adalah sebuah kutukan bagi dinasti kerajaan Saudi. Ia bahkan tidak mampu memenangkan peperangan dan tidak pula bisa menghentikan perang dengan gencatan senjata. (Baca: Perang Yaman Akibat Tamak Kekuasaan Putra Mahkota Saudi ‘Muhammad bin Salman’)

Kerry pernah menyebut bahwa Mohammed bin Nayef masih sangat percaya pada Washington, meskipun Mohammed bin Salman memiliki pengaruh yang cukup besar dalam kebijakan luar negeri. Kerry mengatakan bahwa bin Salman melakukan intervensi di tubuh “OPEC”, bahkan pada saat-saat terakhir untuk mencapai kesepakatan mengenai pengurangan produksi minyak.

Saat negara mengalami krisis ekonomi akibat turunnya harga minyak, bin Salman meluncurkan “visi 2030” dengan maksud untuk meningkatkan ekonomi kerajaan, dan meningkatkan proyek selama 20 tahun kedepan dengan kebijakan ekonominya. Pada saat yang sama pangeran Mohammed bin Nayef juga jatuh pamornya di hadapan kerajaan, meskipun ia memiliki peran dalam “anti-terorisme”, menurut laporan yang dikeluarkan oleh lembaga Amerika. (Baca: Inilah Fakta Suksesi Monarki Saudi di Tangan Amerika)

Kerry menyimpulkan bahwa Mohammed bin Salman gagal dalam merealisasikan rencana-rencana yang ia canangkan untuk mentransformasi ekonomi dan mengurangi ketergantungan kerajaan pada minyak, bahkan dapat merusak sumber devisa jangka panjang untuk pemerintahan Arab Saudi. (SFA)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

SalafyNews Media Islam Terpercaya, Dan Anti HOAX

Media yang Menjelaskan Tentang Cinta Tanah Air dan Bangsa

Gabung di FP FB Salafy News

Copyright © SALAFY NEWS 2015

To Top
%d bloggers like this: