Headline News

Perang Yaman dan Panasnya Perselisihan Dua Pangeran Saudi

Kamis, 19 April 2017 – 07.28 Wib,

SALAFYNEWS.COM, RIYADH – Sebuah sumber Arab Saudi pada senin kemarin (17/04) mengungkapkan tentang intensifikasi perselisihan yang terjadi di antara pangeran dan keluarga kerajaan yang berkuasa, terutama antara Mohammed bin Salman dan Mohammed bin Nayef yang terlibat persaingan kuat untuk memperoleh tahta kerajaan setelah meninggalnya Raja Salman. Mereka berdua diketahui tengah berselisih mengenai operasi militer besar-besaran yang dilancarkan Saudi untuk menduduki pelabuhan dan kota Hudaydah yang terletak di barat Yaman. (Baca: Pengkhianatan Putra Mahkota Saudi “Muhammad Bin Salman” kepada Rakyat)

Sumber tersebut menegaskan bahwa sebagian besar pangeran dari keluarga kerajaan yang berkuasa menyatakan ketakutan mereka atas serangan balasan dari rudal balistik tentara Yaman dan komite populer Yaman yang menargetkan fasilitas strategis Saudi seperti pelabuhan Jeddah, stasiun al-Tahliyah, bandara-bandara dan pabrik milik Saudi. Sumber ini menegaskan bahwa operasi militer yang dilancarkan Yaman pada titik-titik strategis Saudi ini akan menyebabkan bencana di kerajaan.

Menurut sumber tersebut, Mohammed bin Salman telah berusaha untuk meyakinkan kerajaan bahwa mereka akan mencapai kemenangan dalam agresinya di Yaman, dimana sebagian besar pangeran menentangnya dan telah mengingatkan sejak awal dimulainya operasi badai yang mereka lancarkan di Yaman, rezim Saudi menyakini bahwa perlawanan Yaman tidak akan bertahan lebih dari seminggu, namun nyatanya mereka harus menelan pil pahit bahwa Yaman mampu bertahan hingga agresi Saudi di Yaman memasuki tahun ketiga dan tanda-tanda kemenangan Saudi masih jauh dari genggaman mereka. (Baca: Al-Baghdadi Diam-Diam Bertemu Dengan Mohammed bin Salman)

Adapun sikap Mohammed bin Nayef masih terlihat bimbang dengan pertempuran di pelabuhan Hudaydah, ia ragu bahwa Mohammed bin Salman telah mendapat simpati AS dan mengkritik kunjungan yang dilakukan Bin Salman ke Washington dimana Bin Salman memberikan 200 milyar dolar kepada Washington hanya untuk mendapatkan kekuasaan.

Sumber tersebut menambahkan bahwa Bin Salman berseikeras untuk menghadirkan Dubes AS dalam pertemuan yang diadakannya atau menundanya hingga kunjungan Menteri Luar Negeri AS ke Riyadh, dan hal ini telah memicu kebencian beberapa orang yang bukan berasal dari kerajaan.

Dalam pertemuan tersebut, Abdur Rabbuh Mansour Hadi memperoleh sejumlah kritikan tajam yang dilontarkan oleh para peserta yang hadir atas tindakannya dan tentara nasionalnya, dan para peserta tersebut menuduhnya melakukan intervensi dan kerusakan serta mereka menuntut penghentian semua dukungan yang telah diberikan terhadapnya karena hilangnya kepercayaan mereka terhadapnya. (Baca: Perang Yaman Akibat Tamak Kekuasaan Putra Mahkota Saudi ‘Muhammad bin Salman’)

Sumber tersebut mengungkapkan bahwa sebelum berakhirnya pertemuan tersebut, setelah Mut’ib bin Abdullah pergi, Mohammed bin Nayef berkata dengan nada teguran “kita telah mepertaruhkan Garda nasional dan kita merasakan kerugian di perbatasan selatan, kita tidak akan bisa mengembalikan bola kita”.

Sumber tersebut mengatakan bahwa pertemuan itu di adakan atas undangan Raja Salman bin Abdul Aziz, dan beberapa peserta yang hadir terkejut ketika mendapati tidak adanya Raja Salman dalam pertemuan tersebut dan Mohammed bin Salman lah yang mengatur pertemuan tersebut dan beberapa dari mereka mengatakan bahwa kerajaan telah menjadi boneka mainan seorang pemuda yang mengacu kepada Mohammed bin Salman. (Baca: Perang Yaman Kutukan Bagi Dinasti Kerajaan Saudi)

Sumber tersebut menjelaskan bahwa pertemuan tersebut tidak keluar dari kesepakatan antara Bin Salman dengan Bin Nayef dan orang-orang yang bersama mereka kecuali kesepakatan dalam menunggu kunjungan Menlu AS dan pengambilan keputusan setelah gagalnya Bin Salman untuk meyakinkan mereka akan kemenangan agresi Saudi dan menegaskan bahwa AS tidak akan menelantarkan mereka. Namun, Bin Salman tidak menyebutkan apa yang telah disiapkan mantan presiden Yaman Ali Abdullah Saleh dan Ansarullah Houthi untuk menghadapi peperangan ini di mana sebelumnya mereka telah mengancam Saudi dengan kejutan-kejutan yang tak terduga. (SFA)

Sumber: Mepanorama

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: