Headline News

Perang Mulut Israel dan Iran Semakin Memanas

Israel

TEHERAN – Perang mulut Israel dan Iran semkain memanas, tampak saat Wakil Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araqchi menyesalkan tuduhan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terhadap Iran, dan menyebutnya sebagai permainan naif, dan meminta dia untuk menghentikan penyebaran kebohongan.

“Apa yang kami lihat dari Netanyahu hanyalah sebuah acara kekanak-kanakan dan konyol,” kata Araqchi pada hari Senin. Dia menegaskan kembali bahwa klaim perdana menteri Israel mengulangi pidato Netanyahu di masa lalu.

Baca: Mogherini Semprot Israel Hanya IAEA yang Berhak Nilai Program Nuklir Iran

Pada hari Senin, Netanyahu menyampaikan pidato yang disiarkan televisi di mana dia menuduh Iran melanggar JCPOA seperti dilansir FNA (01/05).

“Itu bukan situasi yang bisa diterima. Mereka tidak duduk diam. Mereka menyiapkan rudal, yang mereka katakan untuk tujuan televisi. Saya kira tidak,” katanya.

Baca: Rouhani: Iran Bersumpah Akan Gagalkan Konspirasi AS, Israel dan Rezim Arab

Netanyahu juga menuduh bahwa Iran telah mengintensifkan upayanya untuk menyembunyikan “file rahasia” dan itu membawa mereka ke lokasi yang sangat rahasia di Teheran.

Araqchi menambahkan bahwa tuduhan terhadap Teheran telah terbukti salah dan dimentahkan oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

Wakil menteri luar negeri Iran mengatakan PM Israel sedang mencoba mempengaruhi keputusan Presiden AS Donald Trump tentang Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA).

Dia lebih lanjut menyatakan bahwa Iran tidak peduli dengan tuduhan Netanyahu. Wakil menteri luar negeri juga mengatakan bahwa Teheran siap untuk skenario apa pun yang akan diambil oleh presiden AS mengenai masa depan JCPOA.

Baca: Jenderal Israel: Ancaman Serangan Iran Hantui Keamanan Israel

Iran dan Grup 5 + 1 (AS, Rusia, Perancis, Inggris, dan China plus Jerman) menandatangani perjanjian nuklir pada 14 Juli 2015 dan mulai menerapkannya pada 16 Januari 2016.

Di bawah JCPOA, Iran melakukan pembatasan program nuklirnya dengan imbalan penghapusan sanksi terkait nuklir yang diberlakukan terhadap Teheran.

Trump telah berulang kali menggambarkan JCPOA, yang dinegosiasikan di bawah pendahulunya, Barack Obama, sebagai “transaksi terburuk dan paling berat yang pernah dilakukan Washington,” karakterisasi yang sering ia gunakan selama kampanye kepresidenannya, dan mengancam akan merusaknya. (SFA)

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Israel Ketar-ketir Serangan Rudal Balasan Iran | SALAFY NEWS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: