Fokus

Perang Komentar Denny Siregar dan Ridwan Kamil di Medsos

Selasa, 15 Agustus 2017 – 12.43 Wib,

SALAFYNEWS.COM, JAKARTA – Denny Siregar dan Ridwan Kamil saling lempar jawab di media sosial, terkait salah satu program RK tentang “Ibadah dan Kredit”, Inilah perang komentar Denny Siregar dan Ridwan Kamil di Medsos, berikut tulisannya:

Ghirah keagamaan sih boleh-boleh saja akang, tapi tetap harus ditempatkan ke arah yang benar. Jangan malah membuka ruang lebar perbedaan dengan membedakan fasilitas berdasarkan “apa agama seseorang”.

Pagi-pagi buka facebook, eh rame yang ngetag saya masalah jawaban Ridwan Kamil terhadap postingan saya. Disini saya hormat kepada Kang Emil yang diantara waktu sibuknya mau menjawab pertanyaan dari saya – yang apalah apalah. Jarang pemimpin seperti itu disini. Dan sebagai rasa hormat saya, saya capture status kang Emil dan saya tampilkan sebagai hak jawab beliau.

Jawaban Kang Emil

Hanya pertanyaan saya kembali lagi, kenapa harus melalui masjid?

Apakah tidak ada model penyaluran lain yang lebih netral dan plural seperti RT/RW misalnya, dimana semua orang bisa mengaksesnya?

Keyakinan boleh beda pada setiap manusia, tetapi ukuran fasilitas sebagai anak bangsa seharusnya semua sama tanpa membedakan SUKU, RAS dan AGAMA. Tuh, saya kasih huruf kapital biar lebih jelas.

Tapi akhirnya saya faham ketika parameter yang dipakai kang Emil adalah AGAMA, sehingga ukuran “mayoritas” dan “minoritas” adalah seberapa banyak agama di satu wilayah. Apalagi kang Emil mempertegas di tulisannya, bahwa mayoritas di fasilitasi dan minoritas di lindungi. Seakan-akan yang minoritas tidak butuh fasilitasi. (Baca: PANAS! Denny Siregar Kritik Program “Ibadah Kredit” Ridwan Kamil)

Apakah si minoritas ini bukan bangsa Indonesia? Yang berikrar satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa, sehingga harus dilindungi? Sebegitu lemah kah si minoritas sehingga hanya harus dilindungi bukannya diberikan hak yang sama? Meskipun beragama Islam, kang Emil seharusnya sadar bahwa sebagai pemimpin haruslah berdiri diatas semua golongan.

Saya sebenarnya paham maksud kang Emil, tapi -jujur- komunikasi kang Emil untuk hal ini sangatlah buruk. Apalagi ditambah caption dalam statusnya “MAU DUIT? HAYU KE MASJID”. Kang Emil sendirilah yang membangun persepsi seolah-olah untuk ke masjid saja, orang harus diiming-imingi kredit.

Ghirah keagamaan sih boleh-boleh saja akang, tapi tetap harus ditempatkan ke arah yang benar. Jangan malah membuka ruang lebar perbedaan dengan membedakan fasilitas berdasarkan “apa agama seseorang”. Hatur nuhun… Abdi nyaruput kopi heula kaburu dingin ieu. (SFA)

Sumber: DennySiregar.com

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: