Eropa

Perang Besar di Donbas Ukraina

Kamis, 09 Februari 2017 – 12.12 Wib,

SALAFYNEWS.COM, MOSKOW – Presiden Vladimir Putin dan Kanselir Jerman Angela Merkel menyerukan kepada pihak-pihak yang berkonflik di tenggara Ukraina untuk menghentikan provokasi dan kembali pada gencatan senjata yang telah disepakati antara pasukan Kiev dan faksi Perlawanan Populer. (Baca: Ukraina Terbukti Gunakan Bom Fosfor Terhadap Warga Sipil Donbass)

Mengenai perkembangan terbaru di Donbas tenggara Ukraina, ketegangan yang semakin memanas antara kedua belah pihak, karena adanya provokasi Ukraina disana. Vladimir Putin dan Merkel mengungkapkan rasa prihatinnya akan eskalasi konfrontasi bersenjata di tenggara Ukraina, yang akan menyebabkan semakin banyak korban dan kerusakan infrastruktur kota serta bangunan perumahan di sejumlah daerah di Donbas”.

Menurut pernyataan Kremlin, Presiden Putin “meminta perhatian Merkel terkait laporan-laporan yang datang dari Organisasi Keamanan dan Kerjasama di Eropa, laporan yang dibuat oleh para pejabat di Kiev yang membuktikan upaya pasukan Ukraina dalam merusak gencatan senjata dan menciptakan ketegangan pada kedua belah pihak”. (Baca: Moskow Bongkar Aksi Spionase AS dan CIA di Rusia)

Berdasarkan perkembangan yang saat ini terjadi di Donbas, Moskow menegaskan bahwa “otoritas Kiev berusaha untuk mendahului perjanjian Minsk dan melakukan eksploitasi” seperti Normandia “untuk menutupi tindakan destruktif yang ia lakukan.”

Putin dan Merkel, menurut pernyataan dari Kremlin, menuntut kembalinya gencatan senjata secara cepat di zona konflik, dan memuji upaya dari tim pemantauan gencatan senjata yang berasal dari Organisasi Keamanan dan Kerjasama di Eropa untuk menghentikan segala bentuk provokasi dan mencegah bentrokan di garis pemisah antara pasukan Kiev dan faksi Perlawanan Rakyat tenggara Ukraina.

Sumber militer Rusia menyebutkan bahwa Kiev pada periode antara 10 dan 23 Januari mengirim 16 kereta barang sarat dengan rudal peluncur roket dan meriam ukuran 152 mm menuju Donetsk, dan juga menyebar empat batalyon militernya, serta memperkuat brigadenya di garis belakang untuk melawan pasukan perlawanan rakyat di Donbas.

Perlu dicatat bahwa Rusia masih belum mengakui kemerdekaan Republik Donetsk dan Lugansk secara sepihak di Donbas tenggara Ukraina. Tapi Moskow bersumpah akan melindungi penduduk Rusia di sana, dan terus memberikan dukungan kemanusiaan dan politik bagi kedua republik ini, serta berjuang bersama Jerman dan Perancis untuk menyelesaikan sengketa di Ukraina melalui negosiasi “Minsk” untuk penyelesaian yang meliputi Rusia, Prancis, Jerman, Ukraina, dan konsultasi “Quad Normandie” yang akan diadakan pada tingkat menteri luar negeri dari empat negara kelompok Minsk. (Baca: Rusia Akan Balas Sanksi dan Tekanan AS)

Sebelum negosiasi “Minsk,” pihak berwenang Ukraina pada April 2014 telah meluncurkan operasi militer anti-terorisme terhadap dua republik tersebut, setelah “revolusi” di Kiev, yang menggulingkan Viktor Yanukovich, dan membuat ekstremis sayap kanan di Ukraina meraih kekuasaan, serta menolak mengintegrasikan dengan Rusia, lalu menuntut agar memasukkan Ukraina di Uni Eropa dan NATO.

Menurut Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan Dewan Keamanan PBB, konflik di tenggara Ukraina, telah mengakibatkan hampir 9.500 orang tewas dan melukai 22 ribu lainnya, serta puluhan ribu lainnya mengungsi ke wilayah yang lebih aman. (SFA)

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Perang Besar di Donbas Ukraina | ISLAM NKRI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: