Fokus

Penelitian PTIK Soal Keterlibatan Perempuan dalam Terorisme

Perempuan dan Terorisme
Perempuan dan Terorisme

CIREBON – Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) melakukan penelitian terlibatnya perempuan dalam terorisme. Penelitian yang melibatkan tokoh masyarakat, anggota TNI, Kejaksaan Negeri, kepolisian, dan sejumlah organisasi masyarakat (ormas) itu dilakukan di Ruang Rapat Polres Cirebon Kota, Selasa (25/9/2018).

Baca: KH Aqil Siradj: Perempuan dan Terorisme

Dalam penelitian, mereka yang hadir diminta mengisi kuisioner berisikan tentang pandangan masyarakat terkait tindak terorisme dan keterlibatan perempuan dalam terorisme.

Selain itu, mereka yang hadir diminta untuk menyampaikan pendapat dan masukkannya soal terorisme di Indonesia.

Tim Peneliti PTIK, Drs Frankie S Pakpahan, mengatakan, rangkaian penelitian ini telah dilakukan sejak awal September ini.

Peneliti dilakukan di beberapa wilayah yakni Polda Jawa Barat, Polda Metro Jaya, Polda Jawa Timur, dan Polda Riau.

Baca: Bomber Perempuan di Surabaya, Ketum Ansor: Darurat Terorisme

“Kalau Polres, itu di Polres tertentu seperti Polres Cirebon dan Polres Cirebon Kota ini yang memang beberapa kali terjadi tindak teroris,” katanya kepada Jabarnews.com Selasa (25/9/2018).

Frankie mengatakan, hasil penelitian ini akan diseminarkan pada 30 September 2018.

“Kegiatan penelitian maraton langsung di berbagai wilayah, sampe nanti kita angkat hasil penelitian ini di seminar tanggal 30 September. Hasil penelitian bisa menjadi bahan evaluasi dalam penanganan terorisme,” jelasnya.

“Banyakan teroris kan perempuan bukan sebagai kolabor lagi tapi juga action. Contohnya kasus di Surabaya, ini fenomena baru yang harus diteliti,” ucapnya.

Frankie menambahkan, dari hasil penelitian sementara keterlibatan perempuan dalam aksi terorisme dikarenakan ketaatan istri kepada suami maupun doktrin mendapatkan surga dan kesejahteraan.

“Istri taat ke suatu yang hal yang baik, tapi tidak untuk radikal. Ini yang harus ditanamkan, pengetahuan soal terorisme suatu kejahatan ini harus ditanamkan,” katanya.

Baca: Tegas, Jokowi: Bersihkan Sekolah dan Mimbar dari Ideologi Terorisme

“Kemudian doktrin juga dapat mempengaruhi. Doktrin biasalah menyangkut masalah keimanan yang bersifat mendasar, itu yang paling mudah. Itu masalah doktrinasi, cuci otak kan mudah atau cepet prosesnya kalau orang yang sakit hati,” paparnya.

Sementara itu Kapolres Cirebon Kota, AKBP Roland Ronaldy, menjelaskan, penanganan teroris ini harus dilakukan bersama-sama oleh polisi dan masyarakat. “Perlu adanya kerja sama dengan masyarakat, termasuk tokoh agama dan tokoh masyarakat,” ujarny. (SFA/JabarNews)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: