Fokus

Pemimpin Revolusi Iran Kecam Bungkamnya OKI Terkait Rohingya

Rabu, 13 September 2017- 12.53 Wib,

SALAFYNEWS.COM, TEHERAN – Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyyed Ali Khamenei meminta pemerintahan negara-negara Islam untuk memberikan tekanan politik dan ekonomi pada pemerintah “kejam” Myanmar agar menghentikan penumpasan mematikan terhadap minoritas Muslim Rohingya di negara Asia Tenggara tersebut.

Baca: Zuhairi Misrawi: Belajar dari Tragedi Rohingya

Berbicara pada hari Selasa (12/09), Ayatollah Ali Khamenei mendesak pemerintahan negara-negara Islam mengambil langkah-langkah praktis untuk mengakhiri krisis di Myanmar.

“Tentu saja, tindakan praktis tidak berarti penempatan militer. Sebaliknya, mereka (pemerintah Islam) harus meningkatkan tekanan politik, ekonomi, dan perdagangan terhadap pemerintah Myanmar dan menyuarakan penentangan terhadap kejahatan-kejahatan ini di organisasi internasional, “kata Pemimpin tersebut.

Pemerintah Myanmar telah mengepung bagian barat negara itu,  dimana minoritas etnik Rohingya terkonsentrasi. Menurut laporan dan saksi mata, di sana, kekerasan mengerikan terjadi terhadap kaum minoritas tersebut.

Baca: Inilah Wajah Busuk AS di Rohingya

Tentara Myanmar dan ekstremis Budha dilaporkan telah membunuh dan/atau memperkosa muslim Rohingya dan membakar rumah mereka. Pemerintah Myanmar mengatakan 400 orang, kebanyakan Muslim, tewas dalam kekerasan terakhir. PBB mengatakan jumlah sebenarnya kemungkinan mencapai 1.000.

Ayatollah Khamenei sangat mengkritik kesunyian dan kelambanan badan-badan Internasional serta memproklamirkan diri sebagai pendukung hak asasi manusia atas kekejaman yang sedang terjadi.

Pemimpin Iran tersebut mengatakan bahwa krisis di Myanmar adalah sebuah isu politik dan tidak boleh dipersempit menjadi konflik agama antara Muslim dan Budha, walaupun ia mengatakan bahwa bias agama mungkin telah dilibatkan.

Baca: Konflik Rohingya dan Jejak Senjata Israel di Myanmar

“Ini adalah isu politik karena partai yang telah melakukan kekejaman tersebut adalah pemerintah Myanmar, yang dipimpin seorang wanita kejam pemenang Hadiah Nobel Perdamaian. Dan dengan kejadian ini, kematian Hadiah Nobel Perdamaian telah ditetapkan, “katanya.

Pemimpin de facto Myanmar, Aung Sang Suu Kyi, yang memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 1991, hampir tidak melakukan tindakan apapun untuk mengakhiri kekerasan mematikan terhadap minoritas Rohingya di negara bagian Rakhine di bagian barat negara itu.

Baru-baru ini, ia bahkan mengatakan bahwa laporan luas tentang kekerasan brutal terhadap kaum Muslim adalah berita palsu.

Ayatollah Khamenei mengatakan Organisasi Kerjasama Islam (OKI) harus bersidang untuk membahas krisis di Myanmar. Pemimpin tersebut mengatakan bahwa Iran harus berani membuat pendiriannya diketahui.

“Dunia saat ini adalah dunia penindasan, dan Republik Islam harus mempertahankan kehormatan diri untuk berbicara melawan penindasan di manapun di dunia ini, baik di wilayah yang diduduki oleh Zionis, atau di Bahrain, atau Yaman, atau Myanmar,” ujarnya. (SFA)

Sumber: PTV

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: